Kasus Penjualan Tanah Makam Yang Terkatung Katung Selama 29 Tahun Mulai Terkuak

0
666
Keterangan gambar : Bidang yang diberi tanda kolom, lahan yang disiapkan untuk makam/ardi

BATU, BrataPos.com – Kasus dugaan penjualan tanah garapan di Desa Sumberjo Kecamatan Batu Kota Batu menggelinding bak bola salju. Kasus yang berjalan hampir 29 tahun ini tak kunjung usai, saat Kota Batu masih bergabung dengan Kabupaten Malang. Masing-masing pihak,  antara warga dan pihak pembeli saling klaim tentang kebenaran.

Berdasarkan penuturan tokoh masyarakat setempat yang enggan disebutkan identitasnya, pada tahun 1964 ada warga Belanda Mr W memberikan mandat pada masyarakat. Saat itu Mr W sebelum meninggalkan Kota Batu menitipkan pesan, bahwa tanah seluas 15 hektar digarap masyarakat desa Sumberjo.

“Dari total lahan 15 hektar itu, Mr W hanya minta jatah sekitar 4000 m2 untuk pemakaman China. Selebihnya silahkan warga masyarakat yang nggarap atau mengelola,” terang sumber tadi menirukan petuah Mr W.

Seiring berjalannya waktu, masih kata sumber tadi, pada tahun 1989 datanglah investor dengan PT. Satriya Pratama Berlian. Sang investor pun berniat untuk membangun perumahan, dan  mengajukan permohonan SHM. Semua penggarap diganti rugi sama investor, dan nilainya bervariasi. Kemudian atas kerja sama dengan Kepala desa, pada tahun 1991 timbulah SHM.

“Kalau permohonan SHM itu bagi kami tidak masalah. Yang jadi masalah itu kenapa 4 bidang tanah ikut diterbitkan SHM. 4 bidang itu terdiri dari sebagaian tanah makam, calon tanah makam dua bidang dan satu bidang untuk lapangan sepak bola. Total empat bidang tanah yang dimaksud seluas kurang lebihnya 1 hektar. Padahal jaman nenek moyang dulu, 4 bidang itu sudah disepakati dalam musyawarah sebagai makam warga,” tambah sumber tadi.

Versi lain dari warga setempat, pembeli yang berinisial M, membeli lahan tersebut seluas 17 bidang. Pembeliannya melalui KPKNL (kantor pelayanan kekayaan negara dan lelang) yang beralamat jalan Supriyadi Sukun Kota Malang.

“Setelah timbul SHM, pihak investor mengajukan kredit ke bank untuk membangun perumahan villa chery. Saat itu sudah berdiri 17 unit rumah. Kemudian kreditnya macet, lalu dilelang sama Bank. Nah pembeli yang berinisial M, belinya ya lewat lelang Bank,” cerita warga yang lain.

Menanggapi polemik itu, Kepala desa Sumberjo Drs. Riyanto tidak banyak komentar. Menurutnya, periode tersebut dirinya belum menjadi Kepala desa.

“Maaf mas, saya tidak berani banyak komentar. Silahkan aja chek di tokoh-tokoh masyarakat. Kami hanya berpegang pada buku karangan desa. Memang ada tamu pengacara utusan pembeli yang datang ke kantor. Ya semuanya saya jawab sesuai data yang ada di desa. Karna selama ini saya juga belum tahu soft copy SHM nya,” jelas Riyanto singkat.

Ditempat terpisah, Sudarno Ketua Good Godvernace Activator Alliance (GGAA) Malang raya punya pandangan berbeda. Analisisnya, kasus sengketa tanah tersebut harus terbebas dari nuansa politis. Mengingat tahun ini tahun politik, sangat rawan dipolitisasi. Menurutnya, ada yang 4 fakta yang perlu diurai.

“Pertama saat terjadi permohonan SHM harus ada musyawarah dengan warga. Selain itu, kepala desa yang menjabat harus musyawarah dengan BPD. Kalau ada proses jual beli, brarti ada pemasukan dana untuk kas desa. Namun jika terjadi tukar guling, maka penggantinya harganya harus sepadan. Sehingga wajib melibatkan tim Apreasel independen untuk menilai harga pasaran tanah,” pungkas Sudarno.

Seperti diketaui, masyarakat Desa Sumberjo berjumlah 300 orang pada Minggu (30/12/2018) melakukan pemasangan banner. Banner itu dipasang di lahan area makam dan lapangan sepak bola yang terletak di jalan raya indragiri Sumberjo. Mereka menuntut kembali tanah-tanah tersebut. Mengingat tanah yang di proyeksikan sebagai tanah makam warga Sumberjo, yang berpenduduk 7000 jiwa lebih sudah timbul SHM.

Sampai berita ini dirilis, Big Bos PT. Satriya Pratama Berlian tidak dapat dikonfirmasi. Kabar yang beredar di desa Sumberjo, PT nya sudah bubar alias bangkut.

Reporter : Ard

Editor : jamal s

Publisher : redaksi

Facebook Comments