by

Istri Yang Menjadi Saksi Pembunuhan Suami

SURABAYA, BrataPos.com – Pengadilan Negeri Surabaya menggelar sidang perkara pembunuhan dengan terdakwa Mostajab bin Asnadin (38) asal jalan Bulak Banteng Baru gang Gading Surabaya, dan selaku Ketua Majelis Hakim Dedi Fardiman dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Marsandi, dari Kejari Surabaya.

Sidang yang digelar diruang sidang Garuda II dengan agenda keterangan saksi ini, JPU menghadirkan saksi yang tak lain adalah istri korban, saat Majelis Hakim memberi pertanyaan, bagaimana saksi tau jika suaminya telah dibunuh orang?,,, saksi menjawab, saya diberi tau oleh pihak kepolisian jika ada korban pembunuhan yang terjadi dijalan Gembong Sawah yang tak lain adalah suami saya.

Dan Majelis Hakim melanjutkan pertanyaannya, apakah perna ada persoalan atau perselisian antara korban dan terdakwa?,,, saksi menjawab, setau saya tidak perna karena sebelumnya semuanya baik baik saja.

Untuk diketahui, bahwa perkara tersebut terjadi pada tahun 2017 silam, ketika itu Muji perna menjadi korban pembacokan yang konon katanya pelakunya adalah Setio Budiono (korban).

Dari kejadian tersebut timbulah rasa dendam terhadap korban sehingga terjadi perencanaan pembunuhan untuk balas dendam, kemudian Muji mengajak terdakwa Mostajab untuk membantunya membalas dendam kepada korban.

Lantas pada tanggal 19 Desember 2017 sekira pukul 18’00 wib, terdakwa ditelpon oleh Syukur saudaranya Muji mengajak ketemuan disebuah warung giras di kawasan Suramadu, setibanya di lokasi yang ditentukan tersebut sudah ada Samsul dan Maksum, tak lama kemudian datang Sar’i dan Haris.

Dalam pertemuan tersebut terjadi perencanaan untuk menghabisi korban, setelah ada kesepakatan dan mempunyai peran sendiri sendiri dan Edi yang mempunyai peran untuk memancing korban dengan berpura pura menawarkan AC kepada korban.

Rabu tanggal 20 Desember 2017 sekira pukul 20’00 wib, terdakwa bersama Syukur, Samsul, Haris, Sar’i, Maksum dan Sumlih kembali melakukan pertemuan guna membagi tugas dalam melaksanakan pembunuhan.

Atas petunjuk Ma’il als H.Faisol Amin, rencana tersrbut dilaksanakan, tepat dijalan Gembong Sawah.3 Surabaya korban dihabisi secara brutal oleh terdakwa dan kawan kawan hingga korban tersungkur tak bernyawa.

Atas perbuatannya para terdakwa, JPU menjeratnya sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 338 KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke – 1 KUHP, tentang pembunuhan berencana. (Bnd/Zs)

REKOMENDASI UNTUK ANDA