Orang Yahudi Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan Family Talk

0
40

TANGERANG, BrataPos.com – Sudah tidak dapat dipungkiri bahwa orang Yahudi terkenal sangat cerdas. Itu terkonfirmasi dari banyaknya temuan sains dan teknologi penting yang inovatornya adalah orang-orang cerdas berkebangsaan Yahudi.

Albert Einstein, temuannya terkait Teori Relativitas dan efek foto listrik yang sangat bermanfaat dalam dunia sains, adalah keturunan Yahudi. Thomas Alva Edison, penemu bola lampu listrik, juga keturunan Yahudi.

Leonard Kleinrock, penemu internet, serta penemu mesin pencari Google, Lary Page, juga berkebangsaan Yahudi. Pencipta aplikasi facebook yang digunakan oleh 1,5 miliar orang di seluruh dunia, Mark Zuckerberg, penemu Microsoft Bill Gates, dan pencipta sistem operasi Android Andi Rubin, adalah keturunan Yahudi pula.

Fakta lain yang menegaskan bahwa orang Yahudi sangat cerdas dapat dilihat dari sejarah penganugerahan hadiah Nobel. Dari 172 peraih Nobel Ilmu Pengetahuan, 102 penerima dari antaranya berkebangsaan Yahudi.

Jejak keungggulan Bangsa Yahudi lain juga dapat dilihat pada hadirnya berbagai perusahaan multinasional seperti Barrick Gold, Baskin Robbins, Carefour, Danone, Dell, Delta Galil, Estee Lauder Companies, Guess, Hagen Dazs Ice Cream, Intel Corporation, Levi Strauss, Marks and Spencers, Gracle, Philip Morris, Qualcomm, Revlon, Rothschild, Sara Lee Corporation, Starbucks Corporation, Star TV, Warner Bross Studio, dan Timberland.

Perusahaan-perusahaan ini didirikan dan sukses dikelola oleh pebisnis keturunan Yahudi.

Dr. Stephen Carr Leon heran dengan kenyataan di atas yang mendorongnya melakukan penelitian. Ia menyimpulkan dalam 7 penelitiannya bahwa kecerdasan Bangsa Yahudi bukanlah hal yang bersifat given.

Semua orang cerdas 6 yang lahir dari keluarga Yahudi merupakan hasil dari ketekunan para Ibu mempraktekkan tradisi mendidik anak sejak dari ketika otak pertama kali tercipta, yakni ketika sel sperma bertemu sel telur. Artikel ini bermaksud membagikan tradisi pendidikan tersebut. Mudah-mudahan Eduers terinspirasi.

“Merangsang Kecerdasan Emosional”. Orang Yahudi meyakini bahwa sejak terjadi pembuahan antara sel telur dan sel sperma, otak janin mulai terbentuk. Orang Yahudi menerapkan proses belajar sejak saat itu.

Metode pendidikan prenatal Bangsa Yahudi pertama-tama berfokus pada pengembangan kecerdasan emosional janin. Para Ibu Yahudi selalu berdialog dengan janin dalam tubuh mereka melalui senandung doa yang didaraskan dalam lagu. Dengan rutinitas inilah mereka merangsang perkembangan kecerdasan emosional janin mereka.

Hal lain yang mereka lakukan untuk tujuan serupa adalah dengan memperdengarkan atau memainkan musik. Musik yang didengarkan adalah musik instrumental dan orchestra klasik, terutama karya Wolfgang Amadeus Mozart.

Sedangkan alat music 7 yang dimainkan ibu Yahudi adalah piano. Mendengarkan music klasik dan memainkan alat music piano mengandung alunan music yang landai dan syahdu, yang frekuensinya berkisar antara 5.000-8.000 Hz.

Jumlah frekuensi tersebut sesuai dengan jumlah denyut jantung manusia, bagus untuk menciptakan suasana hati yang tenang bagi sang Ibu. Ini adalah kondisi yang diperlukan untuk pertumbuhan janin secara keseluruhan, sekaligus untuk merangsang perkembangan kecerdasan emosional janin.

Bangsa Yahudi yakin bahwa selain otak terbentuk segera setelah peristiwa pembuahan, pendengaran pun terbentuk dan mulai berfungsi. Darasan senandung doa ibu dan bunyi musik klasik yang didengar ibu, didengar pula oleh janin, dan bunyi tersebut merangsang pertumbuhan kecerdasan emosional janin.

“Merangsang Kecerdasan Intelektual”. Selain itu, keluarga Yahudi pun memiliki tradisi yang dipraktekkan turun temurun untuk merangsang perkembangan kecerdasan intelektual janin.

Metode yang mereka praktekkan adalah : ibu hamil dan suaminya bersama-sama rutin membaca buku Matematika dan mengerjakan soal-soal Matematika dengan penuh sukacita.

Praktek tersebut bertujuan memberi suntikan nutrisi pengetahuan bagi otak agar otak janin tidak hanya berkembang, namun terasa menjadi cerdas dan genius. Orang Yahudi percaya bahwa meskipun otak janin masih muda, namun otak tersebut sudah dapat beroperasi jika dirangsang dari luar. Ini diyakini dapat merangsang kecerdasan intelektual janin.

Penelitian yang dilakukan oleh F. Renee van De Carr terhadap metode pendidikan pranatal bangsa Yahudi, seperti dikutip oleh Delfi Luhvian menyimpulkan bahwa metode yang diterapkan bangsa Yahudi tersebut sangat membantu meningkatkan kecerdasan otak janin.

Dalam laporannya, mengutip Dr. Craig dan Dr. Maron Cleves Diamon, ia menegaskan bahwa anak yang mendapat pendidikan seperti yang dilakukan oleh keluarga Yahudi, memiliki tingkat kecerdasan 20–35% lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tidak mendapat pendidikan pranatal.

“Menjaga Kesehatan Otak Secara Fisik”. Kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual adalah aspek mental dari realitas otak. Otak juga memiliki realitas fisik dan terkait dengan realitas ketubuhan. Keluarga Yahudi memiliki tradisi untuk mengembangkan dan merawat kedua-duanya.

Karena baik realitas mental maupun realitas fisik, saling terkait dan saling mempengaruhi. Oleh karena itu keluarga Yahudi sangat memperhatikan tiga faktor sebagai berikut.

Pertama. “kecukupan gizi”. Bagi ibu hamil, keluarga Yahudi wajib memberi makanan bergizi. Gizi yang baik akan menyebabkan ibu dan janin sehat, sehingga otak janin secara fisik dapat bertumbuh dengan sehat pula.

Bangsa Yahudi bahkan secara turun temurun memiliki dan menggunakan resep makanan sehat dan bergizi bagi ibu hamil, berupa kacang badam atau kacang almond. Kacang ini diperlukan untuk meningkatkan perkembangan sel otak pada janin, kesegaran kulit, serta kesehatan fisik, karena mengandung vitamin B, mineral, dan omega 3.

Selain kacang badam, ibu hamil juga wajib mengkonsumsi kurma. Kurma selain diperlukan untuk memulihkan tenaga ibu hamil yang terkuras, kurma menurut bangsa Yahudi meningkatkan kekuatan sel otak, memperkuat memori otak yang berpengaruh pada kecerdasan janin.

Makanan lain yang wajib dikonsumsi adalah ikan tanpa kepala, karena mengandung omega 3 yang mengandung zat DHA (Docosahe Kaenoic Acid), berfungsi sebagai jaringan pembungkus syaraf dan berperan dalam melancarkan perintah syaraf, mengantar rangsangan ke otak dan EPA (Elcosa Pentaenoic Acid), berfungsi dalam pembentukan sel darah dan pembentukan jantung, serta memperlancar sirkulasi darah.

Selain itu, ibu hamil Yahudi juga wajib mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat seperti roti atau nasi. Seperti bangsa yang lain, bangsa Yahudi pun mengkonsumsi buah-buahan, namun bedanya buah dikonsumsi sebagai makanan pembuka, karena sebagai makanan penutup, akan menimbulkan efek mengantuk, yang mereka percaya menyebabkan otak janin menjadi lemah.

Kedua. “menghindari makanan yang mengandung formalin”. Pada saat hamil, para ibu tidak mengkonsumsi semua jenis makanan yang diawetkan dengan formalin atau bahan kimia. Segala jenis daging dihindari, apalagi daging kalengan yang menggunakan zat kimia untuk pengawetan.

Para ibu hamil hanya boleh makan ikan, itupun tanpa kepala, karena pada kepala ikan tersimpan zat kimia. Para ibu pun menghindari junk food, karena tidak memiliki kandungan gizi dan nutrisi. Hal ini dilakukan karena zat-zat kimia dapat menghambat pertumbuhan otak, bahkan merusak sel otak.

Ketiga. “menghindari rokok dan alkohol”. Kebiasaan merokok bagi bangsa Yahudi, baik secara budaya maupun secara agama, dianggap tabu, karena kebiasaan ini dapat menyebabkan kerusakan sel otak dan syaraf janin. Rokok dapat menyebabkan keturunan bangsa Yahudi menjadi bodoh.

Oleh karena itu, dalam tradisi Yahudi, apabila dalam sebuah keluarga terdapat ibu hamil, dengan penuh kesadaran suaminya yang perokok akan berhenti merokok, tidak hanya selama istrinya hamil, tetapi hingga delapan tahun, selama masa kanak-kanak anaknya.

Ini adalah bentuk perhatian dan dukungan yang luar biasa dari seorang ayah terhadap kesehatan otak janin dalam kandungan, dan kesehatan otak anak setelah lahir. Di kalangan bangsa Yahudi, seorang perokok aktif akan dengan kesadaran sendiri mematikan rokoknya jika di tempat tersebut hadir seorang ibu hamil.

Kebiasaan lain yang dianggap tabu bagi ibu hamil adalah kebiasaan minum alkohol, karena kebiasaan ini dapat membawa resiko berat, baik dalam jumlah sedikit maupun banyak.

Penggunaaan alkohol secara berlebihan dapat menyebabkan abnormalitas pada perkembangan janin. Mereka pun menghindari konsumsi alkohol dalam jumlah sedang, apalagi pada awal kehamilan, karena dapat menyebabkan resiko keguguran.

Inilah hal-hal yang bangsa Yahudi lakukan secara proaktif untuk membuktikan doktrin bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa terpilih. Namun sebagai bangsa terpilih, mereka tidak hanya pasif menunggu keajaiban, melainkan bekerja keras, memastikan bahwa semua anak Yahudi terlahir sebagai anak cerdas, dan bagi mereka cerdas baru berupa potensi.

Potensi perlu dikembangkan melalui pendidikan sedini mungkin, bahkan sejak masa pranatal. Bagi mereka pendidikan merupakan keutamaan dan tugas yang sangat penting. Melalui pendidikan dan etos belajar yang luar biasa bangsa Yahudi menguasai ilmu pengetahuan dan menemukan teknologi.

Dengan penguasaan ilmu pengetahuan, temuan teknologi baru tersebut, mereka menguasai dunia. Setelah itu, Eduers boleh tidak percaya, tetapi mereka semakin yakin bahwa mereka adalah bangsa terpilih.(fatah)

Facebook Comments