Ridwan Hisjam, Pemerintah Harus Yakin Dengan Keputusan Terkait Harga Premium

0
176

MALANG, BrataPos.com – Simpang siur terkait kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) menjadi polemik tersendiri. Kemarin sore secara tiba-tiba Pemerintah melalui Menteri ESDM Ignatius Jonan mengumumkan kenaikan harga Premium.

Pada saat yang sama, mentri ESDM juga memgumumkan harga BBM non subsidi lainnya. Premium naik 7% dari Rp 6.550 menjadi Rp7.000 di wilayah Jamali (Jawa, Madura, Bali).

Bagi Ridwan Hisjam, pengumuman ini cukup mengagetkan. Pasalnya tidak ada rumor atau tanda-tanda sebelumnya. Namun hanya dalam tempo kurang dari satu jam, oleh Menteri Jonan diumumkan pembatalan kebijakan penaikan harga premium.

“Menurut pandangan saya, hal seperti ini menjadi catatan bagi kami di DPR RI, khususnya Komisi VII atau Komisi Energi. Dalam beberapa kali RDP (rapat dengar pendapat) dan Raker antara Pemerintah dengan Komisi VII DPR, pemerintah selalu memberikan alasan. Alasan itu terkait kebijakan untuk tidak menaikkan harga premium selaku BBM khusus penugasan non subsidi,” terang RH, sapaan khasnya. Kamis (11/10/2018).

Walaupun kebijakan tersebut dibatalkan lanjut RH, tetapi publik dapat menilai bahwa ada sesuatu di balik kebijakan tersebut. Sebab, ketika mengumumkan kenaikan, Jonan menyampaikan alasan.

Demikian pula ketika mengumumkan penurunan juga disertai alasan. Tetapi karena jarak waktu antara kedua Pengumuman itu yang sangat berdekatan, membuat publik bertanya-tanya. Apalagi situasi politik semakin eskalatif.

“Pertamina satu-satunya badan usaha yang ditugaskan untuk mengadakan dan menjual premium. Sudah hampir dua tahun terakhir ini mengalami defisit yang semakin besar dalam penjualan premium. Hal ini karena kesenjangan biaya pengadaan yang lebih besar dibanding harga jualnya,” tambah Ketua Komisi VII DPR RI yang membidangi ESDM ini.

Masih kata RH, sebagaimana diketahui terakhir pemerintah menetapkan harga premium yaitu terhitung mulai tanggal 1 April 2016. Dari harga Rp 6.950 per liter turun menjadi Rp 6.550. Saat itu harga minyak dunia masih di kisaran 37-45 Dollar AS. Sedangkan saat ini sudah mencapai 85 Dollar AS, naik dua kali lipat (100%) dari harga April 2016.

“Sangat penting bagi Komisi VII DPR RI sebagai lembaga yang membawa aspirasi rakyat dan mengawasi kebijakan pemerintah. Kami akan memanggil Pemerintah dalam hal ini Menteri ESDM guna menjelaskan secara komprehensif hal tersebut;” pungkas politisi Golkar ini. (Ardian)

Facebook Comments