Setubuhi Santri, Oknum Guru Ngaji Diganjar Hukuman Setimpal

0
263

Gresik, BrataPos.com – Sebagai seorang guru ngaji atau pendidik seharusnya memberikan ajaran yang benar sesuai agama islam, agar kelak menjadi panutan oleh santrinya. Pasalnya keberadaan guru ngaji kampung┬ásangat penting dan berpengaruh bagi lingkungan yang agamis. Ditengah kesibukan orang tua, anak-anak membutuhkan guru mengaji di luar jam pelajaran sekolah. Orang tua pun membutuhkan guru ngaji agar anak-anaknya bisa membaca Alqur’an.

Namun oknum guru ngaji yang satu ini jangan sampai ditiru kelakuannya yang tak senonoh. Kelakuannya tidak seperti mempunyai ilmu, malah melakukan pencabulan dan persetubuhan terhadap 4 santriwatinya. Guru ngaji yang satu ini bernama Husnun Nadhif Jailani (35), warga Dusun Bangeran Lebak, Desa Bangeran, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik menjalani sidang putusan di pengadilan Negeri (PN) Gresik kemarin (2/8/18).

Sidang yang digelar di ruang Tirta Pengadilan Negeri Gresik beragendakan putusan atau vonis yang diketuai oleh majelis Putu Gede Hariyadi. Dalam bacaan amar putusannya, terdakwa yang sudah dikarunia 3 anak ini melakukan persetubuhan terhadap anak dibawah umur dan melakukan kekerasan memaksa melakukan tipu muslihat melakukan serangkaian kebohongan atau membujuk anak untuk melakukan cabul.

“Mengadili, terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah sesuai pasal 81 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia No 35 tahun 2014 tentang perubahan Undang-Undang Republik Indonesia No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak tentang berubahan Undang-Undang Republik Indonesia pasal 82 ayat (2) menjatuhi hukuman selama 12 tahun dan denda 50 juta subsider 6 bulan,” kata ketua majelis hakim.

Hakim beberkan kelakuan terdakwa. Terdakwa melainkan sebagai guru ngaji yang dikenal oleh masyarakat dan mempunyai puluhan santi dan santriwati. Pada Juni 2017 pada saat itu tengah malam sekitar jam 23.00 WIB korban (NA) sedang tidur pulas di musholla pondok. Tiba-tiba terdakwa mendatangi korban yang sedang tidur. Melihat korban tidur pulas, tangan terdakwa nyelonong begitu saja kedalam BH korban, lalu diremas-remas payudara korban sehingga korban bangun dari tidurnya.

“Terdakwa sempat mengancam jangan sampai mengadu pada orang tuanya. Bahkan alibinya terdakwa sebagai murid harus nurut dengan gurunya. Namun kelakuan biadab itu didengar oleh orang tua korban, lalu melaporkan ke polisi. Yang memberatkan terdakwa, korban mengalami trauma, dan terdakwa sebagai pendidik. Hal yang meringankan terdakwa sopan selama menjalani persidangan dan menyesali perbuatannya,” jelasnya.IMG-20180802-WA0030Seusai pembacaan vonis, terdakwa diberikan kesempatan untuk konsultasi pada Penasehat Hukumnya yaitu Nazilatul Fitria Amri. Usai konsultasi, Ria sapaan akrabnya menyatakan sikap untuk pikir-pikir, begitu juga dengan Jaksa Penuntut Umum Aries menyatakan pikir-pikir. Dengan begitu vonis hakim belum menyatakan kekuatan hukum tetap atau inkrah.

Usai sidang Penasehat Hukum terdakwa mengatakan. Selama 7 hari dirinya akan koordinasi dulu dengan keluarganya, apakah putusan hakim diterima atau banding itu nanti kembali lagi pada terdakwa dan keluarganya, kata Ria.

Perlu diketahui terdakwa Husnun Nadif Jailani seorang guru ngaji disebuah Pondok Pesantren di Kecamatan Dukun Gresik ditangkap polisi ketika keluarga korban melaporkan ke Polsek Dukun. Kemudian oleh Posek Dukun laporan dilimpahkan ke Polres Gresik. Hampir tiga bulan menangkap terdakwa ini. Psalnya terdakwa pindah-pindah tempat sehingga terkahir berhasil ditangkap di kawasan Perumahan Kota Baru Driyorejo (KBD) Senin (12/3/2018). (jml)

Facebook Comments