Pedagang Pasar Baru Gresik, Merasa Didzolimi Oleh Disperindak

0
502

Gresik, BrataPos.com – Merasa diperlakukan tidak adil dan terdzolimi oleh Dinas Koperasi dan Perdagangan (Disperindak) Kabupaten Gresik. Beberapa pedagang Pasar Baru Gresik yang puluhan tahun memiliki stand pasar, kini hanya tinggal kenangan. Mereka mengaku stand pasarnya yang semula puluhan meter, namun setelah dibangun oleh Pemerintah Daerah kini tinggal beberapa meter, alias mendapatkan pemotongan oleh Dinas Koperasi dan Perdagangan.

Hj. Kamisi (45 tahun) warga Jl. Gubernur Suryo, Kelurahan Telogo Pojok yang puluhan tahun berdagang di Pasar Baru dan semula sebelum dibangun memiliki stand panjang 30 meter namun setelah dibangun hanya tinggal beberapa meter mengungkapkan kekesalannya, pemotongan stand ini bermula setelah pembangunan, tapi yang disayangkan tidak sesuai dengan surat. Pasalnya yang dipotong itu pasar baru melainkan expres.

“Saya semula mempunyai 30 meter itu sesuai dengan Surat Ijin Menempati (SIM). Tapi ironisnya sisa dari pemotongan stand diambil oleh Pemda. Padahal yang melebihi dari saya banyak yang tidak dipotong, akan tetapi kenapa hanya punya saya yang dipotong,” bebernya.IMG-20180725-WA0030Kasus yang menimpa pada pedagang yang mayoritas warga Kelurahan Telogo Pojok ini dipicu adanya pemotongan stand oleh Pemda. Mereka merasa diperlakukan tidak adil, pasalnya sebagian besar dari pedagang sudah mempunyai surat ijin menempati, tapi kenyataannya stand tidak sesuai dengan surat yang ia miliki.

“Kami minta keadilan kepada Bupati agar segera kembalikan stand kami yang diambil oleh Pemda. Ini jelas kami diperlakukan tidak adil dan didzolimi. Kami sangat keberatan, pasalnya banyak pedagang yang tidak dipotong standnya, tapi hanya punya saya yang dipotong,” tambahnya.IMG-20180725-WA0025Senada dengan H. Mokrom Hadi (45 tahun) dan Hj. Samiani (45 tahun) keduanya juga warga Telogo Pojok, keduanya mengungkapkan, pemotongan stand ini sangat menyakitkan buat kami, pasalnya stand tersebut bukan pemberian dari Pemda, melainkan puluhan tahun lalu kami membeli, jadi kami terus mencari keadilan.

“Hasil dari pemotongan itu Bupati mengatakan akan diberikan ke fakir miskin, padahal nyatanya sampai sekarang masih mangkrak stand hasil pemotongan. Hasil pemotongan stand itu akan dikasih ke fakir miskin “abal-abal”, itu akal-akalannya Bupati, stand itu mau di jual banyak yang inden,” katanya dengan nada penuh kesal.

Lanjut mereka, dirinya sudah berupaya untuk kembalikan stand kami yang dipotong sampai kami mendatangi kantor Dinas Koperasi dan Perdagangan, kantor Bupati, kantor DPRD, ke Kejaksaan Negeri, bahkan kami sudah mengirim surat ke Presiden pak Jokowi.

“Awal verifikasi itu tidak ada pemotongan, tapi anehnya setelah selesai verifikasi dipotong, ada yang sudah diverifikasi, akan tetapi standnya tidak ada namun ironisnya stand dikasih orang lain dasar di jual oleh Pemda. Yang jelas siapa yang memiliki uang banyak dan beli mahal pasti dapat stand,” ungkapnya.IMG-20180725-WA0026Berbeda dengan pedagang yang lain yakni Nasir, dirinya mengungkapkan sebelum pasar tersebut di bongkar dirinya memiliki stand yang berada di depan, namun setelah di bangun standnya tidak ada, mirisnya stand yang ia miliki sejak tahun 86 dimiliki Bupati, saya dipindah ke belakang.

“Sampai tahap verifikasi belum ada keputusan hanya selalu berjanji akan diberikan, namun saya tunggu sampai berbulan-bulan tidak ada kepastian saya memberi surat kuasa ke pengacara Zaibi Susanto. Setelah disomasi oleh Pengacara saya, selang beberapa hari saya dihubungi lewat telepon oleh Suyoto, akhirnya saya dapat stand, namun tidak sesuai dengan SIM yang saya miliki. Semua pedagang yang terkena pemotongan ini taat peraturan, tapi oleh Bupati kami didzolimi,” keluhnya. (jml)

Facebook Comments