Oknum Perhutani Batu, Terindikasi Bermain Dengan Pengelola Wisata

0
1067

Kota, Batu. Bratapos.com – Kondisi Hutan wilayah Resor Pemangku Hutan ( RPH) Oro oro ombo Batu, menjadi ancaman serius dengan terjadinya alih fungsi.

Ironisnya, keberadaan destinasi wahana wisata, lahan perhutani, sudah tercium jadi incaran  beberapa Bikbos yang berkantong tebal.

Maka tidak heran, dalam kerjasama pihak perhutani dan pihak swasta itu, sering kali disalah gunakan, yang ditengarai dari oknum-oknum perhutani yang bertugas di lapangan, terindikasi ada main mata dengan pihak pengembang.

Seperti halnya, berita yang dihimpun Brata Pos, dari sumber yang layak dipercaya ini,
mencontohkan. Di kawasan Wisata Coban Rais, disinyalir tercium aroma tidak sedap, adanya indikasi permainan pemgelola wisata dan oknum Perhutani, misalnya.

“Pada bulan Desember  2017 silam, terjadi penebangan pohon pinus dengan jumlah yang cukup fantastis. Penebangan yang diduga dari oknum perhutani itu, jumlahnya mencapai ratusan batang pohon. Lantas, pohon-pohon yang ditebang itu, dipotong – potong dengan ukuran panjang rata rata  dua meter.

“Kemudian dimasukkan kedalam galian lubang tanah yang sudah disiapkan, dengan kedalaman satu meter dan lebarnya mencapai dua meter, dengan panjang enam puluh meter,” kata sumber yang namanya tidak mau disebutkan ini.

Dengan begitu, sumber ini menjelaskan,  tumpukan kayu-kayu yang dimaksud, dalam  mengelabuhi supaya perbuatannya tidak terbongkar. Disebutkan dia, galian tanah yang didalamnya ada tumpukan kayu tersebut, diatasnya dibangun jalan yang terbuat dari paving.

“Itu semua dilakukan, bertujuan ketika ada pemeriksaan supaya tidak diketahui. Pdahal praktik-praktik seperti itu, sudah sering kali dilakukan. Dalam aksinya mereka pada malam hari. Praktis, oknum – oknum yang dimaksud, dengan lancar dan selalu terhindar dikala  ada pemeriksaan dari Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Malang,” urainya.

Tak hanya itu, sumber ini mengaku banyak mengerti dimana titik – titik yang ditengarai dijadikan mengubur pohon-pohon pinus dari murkanya tangan-tangan hitam itu, berikut dokumentasinya.

Hal senada diakui, Penjaga TPG ( tempat penampungan getah) wilayah Hutan Oro Oro Ombo.Yang mewanti-wanti jatidirinya minta dirahasiakan. Menurutnya sistem kerja petani penyadap getah pinus, dengan sistem borongan.

“Satu pohon pinus bisa mengeluarkan getah satu sampai dua kilogram, dengan besaran harga dalam satu kilogram, kisaran Rp 3.500. Pada umumnya pihak pekerja mendapat penghasilan rata –  rata Rp.1.500.000 hingga 2.000.000, juta dengan kurun waktu dua pekan,” ngakunya.

Disebutkannya dia lagi, dari hasil produksi  getah yang sudah terkumpul, lantas ada yang mengambil, dari pekerja Perhutani dan dikirim ke daerah Trenggalek.

“Sangat disayangkan oknum – oknum yang dimaksud, kalau ada yang berani menebang atau membakar pohon pinus,” keluh sumber ini.

Sementara itu, dengan beredarnya kabar aroma tidak sedap yang ditengarai dilakukan dari oknum-oknum Perhutani tersebut.

Ketua LSM Pusaka Foundation ( pemerhati lingkungan) Malang Raya Bambang Parianom, angkat bicara. Menurutnya, sangat  menyesali jika penebangan pohon- pohon pinus tersebut benar adanya.

“Jika kabar penebangan itu benar terjadi, seharusnya KPH ikut mengawasi wilayah mana yang dimaksud,” sergah Bambang Parianom.

Meski begitu, Bambang Parianom, mengaku masih belum ngecek ke lokasi. Dengan begitu, Parianom, bakal bisa mengambil kesimpulan, kalau sudah mengetahui.

“Dulu saya juga dapat lnfo dari Wartawan media elektronik, tapi datanya masih belum akurat,” cetus Parianom mantan Kepala DLH Pemkot Batu singkat.

Kepala (Mantri) RPH Oro-oro Ombo Siswandi sampai berita ini dinaikan tidak bisa dikonfirmasi. WA dari Bratapos juga tidak dibalas. (bersambung….Ardian)

Facebook Comments