Hearing Anggota DPRD Nganjuk Dengan FDTPTS

0
65

Nganjuk, Bratapos.com – Proyek pembangunan jalan tol Solo-Kertosono dalam beberapa bulan terakhir ini ternyata menimbulkan gejolak keresahan tersendiri bagi masyarakat sekitar proyek nasional tersebut, terutama warga kecamatan Bagor dan kecamatan Rejoso.

Pada hari Jumat, (11/5/18) puluhan warga masyarakat Kecamatan Rejoso dan waga masyarakat kecamatan Bagor yang tergabung dalam Forum Desa Terdampak Pekerjaan Tol Soker (FDTPTS) ngeluruk ke Kantor DPRD Kabupaten Nganjuk untuk melakukan Hearing atau rapat dengar pendapat dengan para wakil rakyat anggota komisi 3 tersebut.

Ketua komisi 3 DPRD Nganjuk, Tatit Heru Tjahjono yang saat itu memimpin jalannya rapat menyampaikan bahwasanya hearing dengan FDTPTS ini bertujuan untuk mencari solusi terbaik terkait warga masyarakat kecamatan Bagor dan kecamatan Rejoso yang terdampak pembangunan tol yang melewati sejumlah Desa di wilayah selatan Kecamatan Rejoso dan bertepatan yang mengerjakannya yakni PT. Wijaya Karya (WIKA).

“Para masyarakat  FDTPTS datang ke kantor dewan yang tujuannya adalah untuk mencari solusi atau penyelesaian terbaik, tapi sayangnya pimpinan PT. WIKA tidak bisa hadir dalam hearing ini, yang datang hanya perwakilannya saja dan tidak mampu memberi keputusan yang bisa di harapkan masyarakat,” ujarnya.

Lantaran pimpinan PT. WIKA belum bisa hadir, lanjut Tatit, hearing tersebut akhirnya ditunda dan akan kembali digelar yang rencanaya akan diagendakan Minggu depan tanggal (18/05/18&.

Meskipun hearing ditunda, anggota komisi 3 DPRD kabupaten Nganjuk tetap harus membuat keputusan. “Mulai tanggal 12 Mei 2018 kendaraan dump truk seperti tronton pengangkut uruk dengan ukuran besar dan melebihi tonase jalan, sementara jangan sampai beroperasi dahulu sampai menunggu keputusan lebih lanjut,” terang Tatit.

Sementara itu, ditempat yang sama
perwakilan FDTPTS, Sutikno menyampaikan dan mengharapkan agar keputusan yang telah diambil oleh anggota komisi 3 DPRD nganjuk dalam hearing ini harap segera di patuhi dan di laksanakan oleh PT. WIKA.

“Kalau pihak PT WIKA tidak menghiraukan dan mematuhi keputusan ini dan masih memakai dump truk atau tronton dalam ukuran sangat besar dalam mengangkut tanah uruk. Jelas kami sangat kecewa, tapi disisi lain kami akan tetap memakai jalur resmi untuk menuntut PT WIKA, karena di samping jalan yang rusak, juga bangunan bangunan rumah karena getaran dump truck tersebut,” pungkasnya. (Abdul Sofyan)

Facebook Comments