Penyidik Polsek Gayungan, Diduga Rekayasa Perkara Pidana

0
302

Surabaya, Bratapos.com – Menanggapi Kanitreskrim yang akan melakukan surat Perintah Penghentian Penyidikan STTLP/286/B/XI/2017/JATIM/Restabes/Sek Gayungan, Advokat dari Kantor Rastra Justitia Associates, angkat bicara soal surat SP3.

Boleh-boleh saja kalau memang mau di SP3 kan, itu adalah domain dan kewenangan penyidik. Nanti akan kita siapkan upaya Pra peradilannya. Akan kita uji nanti dipengadilan sah atau tidak SP3 nya, kita tunggu untuk diSP3nya perkara tersebut. Karena jelas sudah diatur dalam Pasal 1 angka 2 KUHAP ini sudah penyidikan. Tugas penyidik mencari dan mengumpulkan bukti sehingga terang tindak pidananya.

“Ironisnya SP2HP saja baru dikirim sekali, lha kok ini malah Penyidik menakut nakuti pelapor. Masyarakat ini mencari keadilan bukan malah ditakut- takuti. Lantas kapan masyarakat bisa percaya dengan oknum-oknum seperti itu? Apakah ini yang dinamakan PROMOTER??. Rekan-rekan wartawan yang harus konfirmasi sesuai dengan tugasnya,” cetus Didi Sungkono Berita PATROLI.

Dijaman sekarang, era reformasi bahkan Kapolri sudah mengeluarkan arahan terkait penyidikan yang harus PROMOTER (Profesional, Modern, Terpercaya). Ternyata masih ada oknum penyidik yang bermental jaman jahiliyah. Hal ini seperti yang dituturkan oleh Pelapor yang bernama Siti Aisyah yang beralamatkan di Kabupaten Gresik Jawa Timur.

Korban Siti Aisyah menceritakan kronologinya, sekira bulan November 2017 lalu dirinya menjadi korban penipuan oleh Umar Faruq yang mengaku tinggal di Jagir Surabaya. Kronologis singkatnya pada saat saya mau membeli rumah diwilayah permata Suci Gresik Umar Faruk (pelapor) mengaku kenal baik dengan penjual dan bisa menjadi penghubungnya, dengan janji-janji yang manis serta tutur katanya yang halus.

“Lalu Umar Farug meminta uang muka sebesar Rp. 50.000.000,- (Lima Puluh Juta Rupiah) yang akan diserahkan kepada penjual rumah tersebut. Awalnya saya kurang percaya, namun setelah dia menunjukkan kuitansi yang ditanda tangani Gilang (sebagai penjual rumah) akhirnya saya menyerahkan uang sebesar 50 juta ke Umar Farug. Karena dia mengatakan bahwa Gilang sudah menerima uang sebesar 50 juta darinya,” katanya dengan kesal.

Lebih jauh Siti Aisyah menceritakankan, selang sehari setelah uang tersebut dimita Umar farug. Lalu saya bertemu dengan Gilang untuk melakukan pembayaran kekurangannya. Raut wajah yang ceria berangkat dari rumahnya tiba-tiba kaget seketika wajahnya berubah sedih. Pasalnya saat pertemuan tersebut Gilang tidak pernah menerima uang titipan uang muka sebesar 50 juta dari Umar farug.

“Setelah saya tunjukkan kuitansi yang diberikan Umar Farug, Gilang mengatakan bukan dirinya yang menulis kuitansi itu dan juga tidak pernah me”akukan bertanda tangan apapun di kuitansi tersebut. Seketika saat itu juga saya telp handphonenya Umar Farug terdengar nada panggil, tapi tidak diangkat. Karena merasa ditipu, oleh Umar Farug lalu saya laporan polisi dan diberikan Surat Tanda laporan Polisi dengan No : STTLP/286/B/XI/2017/JATIM/Restabes/Sek Gayungan,” Urainya.

Setelah beberapa bulan berlalu sekitar bulan Maret 2018 lalu saya ditelpon oleh pak Wisnu penyidik Polsek Gayungan Kota Surabaya yang memberitahukan bahwa Umar Farug tertangkap. Waktu itu seingat saya hari jumat malam pas hujan sangat lebat dari Gresik. Saya beserta suami dan anak saya datang ke Polsek Gayungan untuk memastikannya.

“Ternyata memang benar yang ditangkap adalah terlapor. Setelah itu tepat hari Sabtu sore, saya disuruh kembali oleh pak Wisnu. Setelah saya masuk diruangannya penyidik wisnu, bahwa laporan ibu ini lemah karena ini masalah komisi atau hutang jadi uangnya ibu dikembalikan sama Umar Farug sebesar 35 juta, sisa kekurangannya yang 10 juta paling lambat 3 hari dari tanggal ini,” kata Siti Aisyah menirukan penyidik Wisnu.

Lanjut Siti Aisyah menuturkan, saya disodori beberapa lembar kertas untuk tanda tangan “katanya” pencabutan laporan. Bahkan saya juga ditakut-takuti  laporan saya tidak kuat. Lebih baik dicabut saja buk, dari pada nanti dilaporkan balik, ibu bisa kena lho.

“Saya sebagai penyidik juga bisa kena, karena Umar Farug ini orang yang punya power kenal dengan petinggi polisi,” ungkap Siti Aisyah menirukan penyidik Wisnu.

Karena saya ketakutan akhirnya tanda tangan dengan terpaksa. Namun ironisnya sampai sekarang kekurangan uang yang 10 juta yang dijanjikan oleh Umar faruq dan Wisnu tidak pernah dikembalikan. “Setiap saya telp hpnya Wisnu tidak diangkat,” Urai pelapor.

Menanggapi perkara tersebut wartawan melakukan upaya konfirmasi kepada Kanitreskrim Sek Gayungan Philips R Lopung,” Saya waktu itu hanya bertemu sebentar dengan pelapor dan terlapor, karena Senin harus ke Bogor untuk sekolah.

“Jadi nanti kalau saya sudah di Polsek lagi kita ketemu saja, kalau menurut saya yaa akan dilakukan upaya SP3, karena itu tidak cukup kuat buktinya. Saat ditanya terkait dasar SP3, Kanit belum bisa menjelaskan.

Tim##

Facebook Comments