Keterangan Dirut PT Trisula Bangun Prasada, Sudutkan Bos ABR

0
159

Gresik, Bratapos.com – Perkara kasus penggelapan dan penipuan 4 bidang tanah yang sesuai dengan sertifikat (SHM) No.1598/Desa Dahanrejo seluas 430 m², (SHM) No.1118/Desa Dahanrejo seluas 2495 m², (SHM) No.1599/Desa Dahanrejo seluas 7030 m² dan (SHM) No.1113/Desa Dahanrejo seluas 1995 m² yang menyeret Ahmad Fatoni (58) terus bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Gresik Rabu, (21/3/18).

Sidang kali ini yang diketuai majelis hakim Putu Gede Hariadi yang mengadili perkara tersebut, menghadirkan saksi pelapor yakni Slamet Suryono (korban) dan juga sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Trisula Bangun Prasada. Dalam kesaksian pelapor beberkan keterangannya dihadapan tim JPU yang diketuai Lila Yurifa Prihasti, Thesar Yudi dan Budi Prakoso dalam persidangan.

Awalnya antara terdakwa dengan PT Trisula berkaitan dengan perseroan aset waktu terdakwa masih menjabat sebagai Dirut tahun 2004, tahun 2005 saksi menggantikan terdakwa, tahun 2007 pergantian pengalihan manejemen ke Njono Budiono.

“Sejak itu semua aset PT Trisula diaudit, dan dilakukan pengecekan ke BPN disitulah menemukan kejanggalan 4 bidang tanah bukan atas nama PT Trisula, tapi diatas namakan pribadi terdakwa. Padahal semua aset itu diatas namakan PT, bukan malah diatas namakan pribadi. Setelah itu saya melaporkan ke polisi lantaran 4 bidang tanah diatas namakan pribadi bukan atas namakan PT Trisula,” kata saksi Slamet Suryono.PhotoGrid_1521639225807Terdakwa sempat ditegor oleh ketua majelis hakim, lantaran terdakwa tidak serius mendengarkan keterangan saksi, sehingga majelis hakim geram melihat tingkah lakunya terdakwa sering kali melihat kebelakang.

Yang dirugikan oleh PT Trisula kurang lebihnya 2 sampai 3 Miliar. “Sebenarnya 4 bidang tanah tersebut menjadi aset perusahaan, karena yang membayar ke Bank PT Trisula,” imbuhnya.

Jaksa Lila Yurifa saat melontarkan pertanyaan pada saksi terkait kerugian, saksi menyatakan, dalam kasus tersebut kerugian yang dialami oleh PT Trisula kurang lebihnya 2 sampai 3 Miliar.

Sebelum kasus ini dibawa ke meja hujau Direksi PT. Trisula Bangun Prasada sering mempertanyakan pada terdakwa tentang keberadaan uang hasil penjualan tanahnya, namun terdakwa selalu berbelit-belit.

“Padahal terdakwa pembelian tanah tersebut menggunakan uang PT. Trisula Bangun Prasada sewaktu terdakwa diangkat sebagai Direktur PT. Trisula Bangun Prasada. Perbuatan terdakwa Ahmad Fatoni telah melanggar pasal 372 KUHP Jo pasal 64 ayat (1) KUHP,” kata Lila.

Sambil mengetok palu, ketua majelis hakim Putu Gede Hariadi akhirnya menunda sidang pekan depan dengan agenda sidang keterangan saksi berikutnya. (jml)

 

Facebook Comments