Mempertahankan Fungsional Cakar Budaya

0
36

Surabaya, Bratapos.com-Terkait pembongkaran masjid AS SAKINAH yang ada di kawasan balai pemuda kota Surabaya, berujung pelaporan orang nomor satu di Surabaya dan juga pelaporan terhadap ketua DPRD kota Surabaya kepolda Jatim. itu semua merupakan awal dari pembenahan dan perbaikan kinerja semua instansi yang ada di kursi putar pejabat yang ada. untuk itu arek-arek suroboyo yang tergabung dalam KBRS (komonitas bambu runcing surabaya), menyincingkan lengan baju untuk meperjuangkan agar masjid tersebut tetap ada, karena masjid itu merupakan tempat ibadah di lokasi perkantoran pemerintahan kota Surabaya khususnya kantor DPRD kota.

Gabungan elemen aktivis yang mengatasnamakan Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS) memperjuangankan Masjid Assakinah yang dibongkar. rencananya, pembongkaran masjid assakinah akan di ganti dengan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya.

Sedangkan isi Pasal 156a KUHP adalah, “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun. barang siapa dengan sengaja dimuka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia”, dengan dasar itulah kami terpaksa laporkan walikota surabaya dan juga ketua DPRD kota surabaya, ke POLDA JATIM, itu bukan kami yang bicara tapi KUHP 156a yang menyatakan,” kata Wawan Kemplo yang merupakan perwakilan dari komonitas bambu runcing surabaya. Sabtu 02/12/2017.IMG_20171202_203241

Dengan waktu berjalan kami dapat surat dari tiga yaitu PJNU, MUI, dan MUHAMMADIYAH menyatakan masing-masing sangat menyangkan bila masjid dibangun di bawah gedung DPRD dan menyarankan kepada walikota agar kebijakannya lebih banyak manfaatnya dari pada mundhorodnya, ditambah pernyataan dari wakil anggota dewan Mas Juki Toha yang menyatakan dia orang pertama yang mundur apabila masih dibangun masjid di bawah gedung DPRD, dengan banyak dukungan yang kami terima, kami semakin semangat untuk memperjuangkan masjid assakinah, karena kami berjuang murni dari lubuk hati untuk mempertahankan aikon cakar budaya peninggalan pejuang arek-arek suroboyo, cerita Wawan Kemplo.

Harapan kami sebagai arek-arek suroboyo tidak banyak sebenarnya, kami hanya minta bangun kembali masjid ASSAKINAH dan fungsikan balai pemudah sebagai paru-paru budaya kota surabaya, sebagai ruang publik untuk pemuda surabaya berkarya, namanya aja balai pemuda, bukan balai DPRD, sambungnya.

Kalau terkait laporan kami kepada polda jatim, kami menyerakan sepenuhnya kepada kepolisian apabila laporan kami sudah sesuai unsur, dan tindak lanjut dari kepolisian melakukan penyidikan dan penyelidikan setidaknya mereka di periksa, harapnya.

Balai pemuda yang merupakan balainya arek suroboyo, tempat untuk pemuda mengaspirasikan diri untuk menjadi pemuda yang tangguh dan berguna untuk bangsa dan Negara. (Bnd)

Facebook Comments