Kades Leran-Manyar Terus Malakukan Pemantauan Terkait Kavlingan

0
78

Gresik, Bratapos.com-Ketika akan membeli tanah atau rumah kavling secara kredit, umumnya calon pembeli tidak teliti bahkan terkesan ceroboh. Hal ini dikarenakan akibat keinginan dalam hati yang sudah tidak sabar untuk segera mempunyai sebuah rumah atau tanah sendiri.

Namun bila terlanjur beli tanah yang belum jelas status tanahnya atau  tidak ada pembangunan fasilitas umum (fasum) akibatnya fatal. Karena yang terjadi saat ini yang sudah tidak asing lagi di masyarakat kebanyakan penjual atau developer kabur.

Seperti yang dilansir dari Koran jawa pos, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Gresik meminta kepada kepala desa (kades) untuk ikut membantu penertiban kavling yang bermasalah.

Wakil ketua komisi I DPRD Gresik itu Mujid Ridwan mengatakan, banyak aduan yang masuk dari masyarakat. Mereka merasa dirugikan setelah membeli lahan kavling.

“banyak penjual yang kabur usai transaksi dibiarkan begitu saja tanpa membangun fasilitas umum (fasum) disekitar rumah,” ucapnya (29/11/17).

Majid tidak menampik bahwa jual beli lahan itu masih marak sebagian besar itu terjadi di pedesaan, lahan  yang diperjual belikan kerap bermasalah, status peruntukannya tidak jelas sertifikat tidak ada mayoritas penjual hanya bermodal pethok D,” katanya.

Menurut Majid, penertiban jual beli tanah kavling memerlukan peran semua pihak, kepala desa seharusnya tidak menutup mata, kades harus tanggung jawab ikut menjaga peraturan pengurusan surat tanah, karena surat-surat tanah itu awalnya melalui desa,” pintanya.IMG20170811112642

Abdul Manan kepala desa Leran kecamatan Manyar mengatakan, sebelum ada stetmend dari DPRD seperti itu, kami sudah lama telah melakukan penertipan terhadap para pemain kavling. Namun kendalanya di desa Leran kavlingan itu jumlahnya ratusan, akan tetapi masih banyak yang belum melapor ke desa.

“Kesulitan dari pihak desa para penjual itu tidak pernah kordinasi sama desa, namun bila terjadi masalah terkait surat-surat barulah pembeli lapor. Hal seperti ini sudah saya konsultasikan pada instansi terkait baik itu kepolisian camat bahkan sampai saya minta bantuan ke kampus unair, jadi sudah saya lakukan semua,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya (2/12/17).

Lanjut Abdul Manan, hasil konsultasi dari semua pihak, lalu saya kumpulkan antara penjual dengan pembeli. Namun yang menjadi persoalan surat-suratnya belum masuk, karena masalhnya banyak, terkadang berubahan pemecahan belum masuk ke C desa.

“Jiika saya tolak maka kasihan pada warga, saat saya melayani dengan apa adanya dengan bukti C desa surat-surat yang ada, terbukti setelah saya betulkan dan luruskan dikemudian hari masih ada orang yang datang menunjukan surat pada lokasi yang sama itu yang agak sulit,” jelsnya. (jml)

Facebook Comments