Sidang Dugaan Pemalsuan Surat Riwayat Tanah Hadirkan Saksi Pelapor, Sidang Sempat Memanas

0
84

GRESIK, BrataPos.com – Kasus dugaan membuat surat keterangan riwayat tanah palsu dengan nomor : 590/11/437.102.02/2015 tanggal (9/12/15) yang dituduhkan kepada Kepala Desa (kades) Prambangan Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik yang menyedot perhatian publik terus memanas.

Sidang lanjutan dengan terdakwa Fariantono Tiga Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (kejari) Gresik masing-masing bernama Lila Yurifa Prahasti yang di dampingi oleh Thesar Yudi Prastiya, dan Budi Prakoso hadirkan saksi pelapor yakni Felix Soesanto pengusaha asal Kota Surabaya Kamis, (19/10/17).

Dihadapan majelis Hakim Felix Soesanto mengatakan, bahwa dirinya mengetahui adanya dugaan surat keterangan riwayat tanah atas nama Kaskan CS waktu sidang di PTUN (pengadilan tata usaha negara) waktu itu sidang beragendakan pemeriksaan bukti.

“Saya pun kaget majelis melihat ada indikasi pemalsuan surat keterangan riwayat tanah yang dilakukan oleh terdakwa Fariantono ini, kemudian saya selang beberapa hari kemudian saya mengklarifikasi ke kantor kepala desa prambangan,”ungkapnya.

Sidang yang dipimpin oleh Majelis Hakim I Putu Mahendra sempat memanas akibatnya sidang memakan waktu yang sangat panjang, dan sidang pun sampai menyedot perhatian pengunjung Pengadilan.

Lanjut Felix Soesanto saat memberikan keterangan dihadapan majelis hakim menjelasan, saat ditanya oleh JPU, apakah saudara saksi sudah klarifikasi ke terdakwa Fariantono terkait keluarnya surat keterangan riwayat tanah yang diduga palsu, Felik pun menjawab, “saya sudah datang ke kantor kepala desa prambangan, dan bertemu dengan Fariantono sebagai kades, “jawab saksi Felix.

Felix menambahkan, waktu itu saya bertanya kepada terdakwa Fariantono dasar apa pak lurah membuat surat keterangan riwayat tanah kok segampang itu membuat surat riwayat tanah kenapa tidak bertanya kepada staff-staffnya dulu.

“Kades waktu itu menjawab, saya membuat surat riwayat tanah sesuai dengan leter buku c yang belum dicoret oleh kepala desa sebelumnya yaitu H. Karto,” bebernya Felix menirukan pembicaraannya terdakwa Fariantono.

Sidang terus memanas waktu penasehat hukum terdakwa yakni Arifin saat melontarkan pertanyaan kepada saksi terkait AJB dan IJB, yang tidak singkron, dari situlah persidangan mulai tegang.

Arifin sebagai Penasehat hukum terdakwa bertanya kepada saksi Felix terkait IJB (ikatan jual beli) dengan AJB (akte jual beli) sangat berbeda, karena disana ada selisih tanah kurang lebih 1 hektar. Jadi menurut didalam IJB harga tanah di tegaskan per meter bukan borongan.

“Coba dilihat saudara saksi surat IJB dan AJBnya apakah itu sama luas tanahnya dan harganya. Kan sudah jelas disana ada kelebihan tanah kurang lebih 1 hektar. Lagi pula pak Felix ini majils bukan beli borongan akan tetapi beli per meter.”ungkapnya.

Felik pun menjawab dengan santai apa yang dipertanyakan oleh penasehat hukum terdakwa. Mohon maaf majils kalau soal itu saya tidak tahu tanya aja langsung pada notaris Agil, karena itu bukan kapasitas saya, jawaban Felix mendapatkan sorakan dari keluarga terdakwa maupun dari keluarga Kaskan CS.

Saksi pelapor yakni Felix usai persidangan saat diwawancara oleh awak media mengatakan, pada intinya saya datang ke Pengadilan sebagai saksi dari dugaan pemalsuan surat keterangan riwayat tanah yang dibuat oleh terdakwa Fariantono atau kades.

“Seharusnya kepala desa itu mengatahui bahwa saya memiliki lahan di desa prambangan seluas 3 hektar, terdakwa  malah membuat surat riwayat tanah, jadi saya melaporkan ke Polda Jawa Timur karena saya merasa dirugikan.

“Pada intinya kepala desa membuat riwayat tanah sebagian luas 3 hektar masih milik penjual padahal kalau melihat dari sertifikat yang 3 hektar itu sudah sah milik saya.” ungkapnya.

Terdakwa Fariantono setelah dimintai tanggapan oleh majelis hakim mengatakan, saya sebagian keberatan majelis apa yang disampaikan oleh saudara saksi, terutama terkait surat keterangan riwayat tanah, karena saya membuatnya susuai dengan leter buku C didalam leter buku C tidak dicoret, bebernya.

Sidang pun ditunda Kamis pekan depan tanggal 26 Oktober 2017 dengan agenda jawaban dari majelis hakim. (jml)

Facebook Comments