Pakar Hukum Pidana Dari Universitas Airlangga Jadi Ahli Dirut PT Garam

0
88

GRESIK, BrataPos.com – Sidang kasus yang diduga tindak pidana penyimpanan garam industri yang diperdagangkan menjadi garam konsumsi dengan terdakwa Achmad Boediono, Direktur Utama (Dirut) PT Garam yang berlokasi di Jl Kapten Darmo Sugondo Kebomas Gresik terus bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Gresik Senin, (15/10/17).

Sidang yang diketuai majelis hakim I Putu Mahendra, beragendakan keterangan ahli pakar hukum pidana dari Fakultas Universitas Airlangga (Unair) yang didatangkan oleh penasehat hukum terdakwa yaitu Prof. Dr Nur Basuki Minarnu., SH. Mhum.

Prof. Dr Nur Basuki Minarnu., SH. Mhum sebagai ahli menyampaikan didepan majelis hakim garam impor tersebut sudah bisa dikonsumsi masyarakat, karena sudah melalui proses di PT Garam, sehingga aman dikonsumsi. Kasus ini kan hanya terkait label dan bungkusnya yang tidak sesuai dengan isinya.

“Seharusnya itu sudah kebijakan dari PT Garam, karena garam waktu penggerebekan memang benar-benar langka. Jadi PT Garam mengimpor itu untuk mengurangi kelangkaan. Aturan SNI yang menggunakan UU lebih tinggi dari pada peraturan internal menteri perdagangan.” katanya.IMG20171002142857

Lanjut ahli, seharusnya ada kerugian dulu dari masyarakat untuk dijadikan pidana, namun kasus ini kan tidak ada kerugian. Kasus ini kan hanyalah label plastiknya saja, kalau isisnya tidak ada masalah, sambungnya.

Tidak tanggung-tanggung 4 jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Gresik yang mengawal kasus tersebut. Masing-masing bernama Beatrix, Lila Yurifa Prahasti, Yudi Prastiya, dan Budi Prakoso. Sidang kali ini terdakwa juga dihadiri penasehat hukumya dan beberapa keluarga dari terdakwa.

Lila Yurifa Prahasti Jaksa Penuntut Umum (JPU) usai sidang mengatakan, dirinya menilai bahwa apa yang disampaikan ahli sudah sesuai dengan dakwaannya, kalau terkait kerugian sudah jelas ada walaupun itu bukan nominal atau uang, karena menurut keterangan YLKI perlindungan konsumen masyarakat kekurangan garam.” katanya.

Agung penasehat hukum terdakwa usai sidang mengatakan, keterangan ahli sudah sesuai dengan yang kita harapkan dan terdakwa pun cukup puas apa yang disampaikan oleh ahli, yang namanya pidana tidak harus semuanya blur pidana selalu ada alasan dibelakangnya.

“PT Garam ini dilema, tidak melaksanakan terbatas waktu dan melaksanakan salah. Lagi pula waktu penggerebekan terjadi bulan Mei 2017 menjelang hari raya idul fitri waktu itu benar-benar langka.” jelasnya. (jml)

Facebook Comments