JPU Hadirkan Saksi, Ke Tiga Saksi Meringankan Terdakwa

0
263
SURABAYA, BrataPos.com – Sidang dugaan penipuan dan penggelapan sebesar Rp 8,5 milar yang berupaya dijeratkan kepada Direktur PT Soeria Persada Sakti (SPS), Law Chandra Gunawan, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (28/8/2017).
Jaksa Penuntut Umum (JPU)) Darwis dalam sidang kali ini menghadirkan 3 orang saksi dari Tanah Bumbu Kalimantan Selatan, yakni seorang Pejabat BPN, Pejabat Sucofindo, dan Pejabat Dinas ESDM. Namun seperti juga saksi JPU sebelumnya, keterangan para Saksi malah menguatkan bukti terdakwa.
Isa Widyatmoko Eks Kasi Hak Pendaftaran Tanah BPN Tanah Bumbu yang diperiksa pertama membenarkan bahwa Law Chandra Gunawan pernah membeli 2 bidang tanah di Tanah Bumbu Kalimantan Selatan, katanya.
Saksi M. Eko Supriana Kepala Bidang Inspeksi Pengujian Sucofindo Tanah Bumbu menerangkan bahwa, Certificate Report of Sampling And Analisys ditujukan kepada PT. Jaya Abadi Lestari Steel pada 27 Desember 2013, benar diterbitkan oleh Sucofindo setelah menganalisa/menguji quality biji besi yang diajukan. Saksi juga menerangkan bahwa hasil pengujian dapat diperuntukkan penjualan lokal dan siapapun diperbolehkan mengajukan analisa, katanya.
Saksi Sucofindo itu juga menerangkan bahwa Januari 2017 Tim Sucofindo datang ke Stokpile biji besi milik Law Chandra Gunawan di Batulicin Kalimantan Selatan KM 9, KM 22 dan KM 20 dan melakukan analisa quantity biji besi di 3 lokasi itu dengan Teodolit Total Section. Hasilnya di 3 lokasi itu terdapat 28.308 metrik ton raw material biji besi milik PT. Soeria Persada Sakti, sambungnya.IMG_5147
Lanjut saksi membenarkan, Sertifikat Sucofindo tahun 2017 yang dijadikan bukti di Pengadilan sebagai hasil analisa quantity di lokasi. Law Chandra Gunawan juga pernah menjelaskan rencana ekspor biji besi yang dianalisakan itu  ke China. Saksi tahu harga biji besi dunia turun, tetapi tidak tahu tepatnya kapan, imbuhnya.
Sedangkan untuk saksi ketiga Endarto, eks Inspektur tambang di Dinas ESDM Kalimantan Selatan juga membenarkan, bahwa regulasi pertambangan berubah-rubah tergantung kebijakan Pemerintah yang merupakan kewenangan kementerian ESDM. Dinas ESDM hanya menjalankan aturan yang ada, katanya.
Saksi Endarto juga membenarkan, terjadinya penurunan harga biji besi dan terbitnya Peraturan Pemerintah yang melarang ekspor biji besi mentah, namun Saksi lupa tanggalnya. (Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 2014 tanggal 14 Januari 2014, Red). Saksi menerangkan mengenal PT Bakal Makmur Sejahtera (BMS) Batulicin yang bekerja sama dengan terdakwa, sambjngnya.
Keterangan tiga saksi yang diharapkan JPU dapat memberatkan posisi pidana terdakwa, ternyata malah menguatkan dan membenarkan bahwa bukti-bukti terdakwa asli, bukan hasil rekayasa.
Terdakwa didampingi tim Pengacara Kosdar, Dendi Adisurya, Rian Wicaksana dan Tri Prijanto Budi Prihatin .
Perlu diketahui Direktur PT. Soeria Persada Sakti itu terpaksa harus menjalani persidangan pidana di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya atas laporan Idris Chandra dan Kasmin. Eksportir biji besi itu dilaporkan melakukan tindak pidana penipuan penggelapan sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 378 jo pasal 64 ayat (1) jo pasal 65 KUHP, dan kedua pasal 372 jo pasal 64 ayat (1) jo pasal 65 KUHP. Padahal faktanya dia yang dirugikan partner bisnisnya bernama Azis Wijaya yang tidak menepati janji sehingga menyebabkan kerugian beruntun bahkan menghancurkan usahanya. Kasus ini menurut beberapa praktisi hukum dinilai sebagai kriminalisasi.
Dalam persidangan-persidangan sebelumnya, Saksi-saksi JPU yang diharapkan memberatkan terdakwa, nyaris semuanya malah memberi keterangan meringankan terdakwa, juga terkuak fakta-fakta ganjil. Azis Wijaya yang seharusnya bertanggung jawab langsung dalam permasalahan kerjasama dengan Chandra Gunawan maupun Idris Chandra, malah tak disentuh.
Menjawab pertanyaan Majelis, JPU Darwis menyatakan bahwa Azis DPO. Keganjilan lainnya, Idris mengaku diperkenalkan kepada Chandra Gunawan oleh “Pengusaha Besar” Azis Wijaya dan tergiur untuk berinvestasi setelah dipertunjukkan Certificate Report of Sampling And Analisys yang dikeluarkan oleh Sucofindo kepada PT. Jaya Abadi Lestari Steel pada 27 Desember 2013. Sedangkan dalam dakwaan JPU, Idris Chandra telah mentransfer jauh sebelum adanya Certificate 27 Desember 2013 itu, yaitu sejak 2 September 2013 sampai 16 Desember 2013 bertahap 10 kali sejumlah total Rp. 6.950.000.000.-.
Dalam keterangan selanjutnya, Idris mengaku dijanjikan oleh Chandra Gunawan, keuntungan 20 persen dalam waktu 2 bulan.  Faktanya sudah jauh lebih dari 2 bulan, Idris masih tetap mentransfer terus, sampai 10 Maret 2014.
Saksi pelapor Kasmin dalam keterangannya dia kenal sangat dekat dengan Idris Chandra, dan Idris Chandra selalu menceritakan kepadanya setiap kali mentransfer ke Chandra Gunawan. Namun waktu dirinya akan mentransfer ke Chandra Gunawan pada bulan Juli 2016 sejumlah Rp.30.000.000.- dan Rp. 160.000.000.-. Kasmin mengaku sama sekali tidak tanya atau diberi tahu oleh Idris Chandra bahwa Chandra Gunawan tidak pernah menepati janji atau menipu. Lebih aneh lagi dalam bukti transfernya, diberi keterangan “titipan dari Idris Chandra”, namun diakui sebagai uangnya sendiri.(smk/jml)
Facebook Comments