JPU Kaget Mendengar Keterangan Saksi Sesungguhnya

0
278
SURABAYA, BrataPos.com – Persidangan Law Chandra Gunawan (54), Direktur PT. Soeria Persada Sakti yang dituduh melakukan penipuan/penggelapan, Rabu, (16/8/17) menghadirkan 2 Saksi JPU. Keterangan dua orang saksi yang dihadirkan JPU itu ternyata menghasilkan fakta persidangan yang mutlak meringankan terdakwa. Padahal sebelumnya JPU Darwis menyatakan kepada wartawan akan ada tersangka baru yang disinyalir 2 orang ini.
Dalam persidangan sebelumnya Senin, (14/8/17), terkuak banyak fakta-fakta ganjil untuk menyudutkan terdakwa. Sebelumnya penetapan tersangka oleh Penyidik Polrestabes Surabaya atas diri Chandra Gunawan sudah pernah dikandaskan di sidang Praperadilan, Tanggal 24 Februari 2017.
Ironisnya penetapan tersangka dibuka kembali dan Law Chandra Gunawan kembali diseret ke muara pidana yang sama bahkan di P21 kan oleh JPU dan disidangkan. Perkara yang menurut beberapa pihak merupakan transaksi bisnis dan hubungan keperdataan ini dipaksakan ke ranah hukum pidana.
Sebelum dimulai pemeriksaan, Saksi Wahab Hidayat, komisaris PT Bakal Makmur Sejahtera (BMS) perusahaan pertambangan biji besi di Batu Licin Kalimantan Selatan memprotes JPU yang melakukan pemanggilan kepadanya dengan surat yang tidak resmi, karena amplop surat tanpa kop/stempel resmi kejaksaan.
Menjawab pertanyaan JPU, Saksi Wahab menerangkan telah menjadi pengusaha tambang batu bara sejak sebelum tahun 2012 dan mulai bekerja sama pertambangan biji besi dengan Chandra Gunawan sejak tahun 2012. Kewajiban Saksi menyediakan lahan tambang dan hasil eksplorasi, teknis penambangan dan melaksanakan penggalian/tambang biji besinya, sedangkan Chandra Gunawan berkewajiban melengkapi seluruh Perijinan tambang dan ijin ekspor biji besi serta membiayai seluruh kebutuhan bahan bakar, gaji karyawan beserta semua biaya operasional lainnya sampai terlaksana, penjualan yang sebenarnya direncanakan ekspor ke China.
PT BMS memberi Kuasa Jual kepada Chandra Gunawan dan dari setiap ton biji besi yang terjual, Saksi berhak mendapat 5 US dolar. Awal kerja sama, Chandra Gunawan berkewajiban menyetorkan 1 Miliar Rupiah kepada Saksi dan belum direalisasikan, namun Saksi tidak mempermasalahkan. Bahkan menyadari karena paham biaya perijinan dan seluruh biaya operasional yang ditanggung Chandra Gunawan sangat besar, namun tidak disebutkan terperinci.
Esplorasi mulai dilakukan sekitar bulan April 2013 dan belum pernah dilakukan penjualan. Saksi tahu sudah ada permintaan/pembeli dari China, namun ekspor terganjal perubahan mendadak regulasi pemerintah yang melarang penjualan biji besi mentah dan turunnya harga biji besi dunia.
Menjawab pertanyaan Penasehat Hukum tentang alasan Saksi mau bekerja sama dengan Chandra Gunawan, ‘Karena Chandra Gunawan  mempunyai keseriusan, benar-benar ahli serta mengerti kualitas biji besi dan dapat menentukan lokasi yang tepat, jadi tidak asal gali’, tegas Wahab dihadapan Majelis Hakim.
Sampai sekarang stok biji besi di Km 26 masih utuh, banyaknya lebih dari 10 juta metrik ton sebagai milik bersama Saksi dan Chandra Gunawan. Setiap pengeluaran barang (biji besi, Red) pasti sepengetahuan Saksi. Saksi juga mengetahui bahwa Chandra Gunawan punya stock biji besi milik sendiri di KM 9, imbuhnya.
Saksi kedua Tony Chandra Gunawan, Mahasiswa Management Keuangan Universitas Kristen Petra yang juga putra terdakwa menjawab lugas dan tegas semua ‘berondongan’ pertanyaan JPU bahwa sekitar bulan Juli 2013 Law Chandra Gunawan ditelpon teman lamanya bernama Azis Wijaya, pengusaha alat berat di daerah Perak Surabaya.
Saksi Tony yang diajak ayahnya menemui Azis diminta menghitungkan biaya yang diperlukan untuk biaya produksi dan operasional untuk ekspor 30.000 metrik ton biji besi ke China. Hasil perhitungan Saksi diperlukan biaya 17 Miliar rupiah. Langsung ditanggapi Azis, ‘gak besar’. 2 hari kemudian atas permintaan Azis Wijaya, Chandra Gunawan datang ke kantor Azis dengan mengajak Saksi Tony lagi dan disepakati kerja sama, Azis sebagai pemodal mengeluarkan investasi 17 Miliar rupiah dengan pembagian keuntungan 60 persen Chandra Gunawan dan Azis 40 persen.
Setelah itu Azis mentransfer 100 Juta Rupiah dalam 2 kali termin.
Sekitar pertengahan tahun 2013 Azis mengatur pertemuan di Ciputra World Mayjen Sungkono Surabaya. Hadir Chandra Gunawan, Saksi Tony, Azis Wijaya dan seseorang diperkenalkan Azis sebagai ahli konsultasi partner Azis bernama Idris Chandra. Dalam pertemuan itu tidak ada hal serius yang dibicarakan, ‘hanya ngobrol-ngobrol biasa’, terang Tony dihadapan persidangan.
Menjawab pertanyaan JPU, ditegaskan dalam pertemuan itu tidak ada Kasmin. Padahal dalam persidangan Senin, (14/8/17), Kasmin mengaku ikut hadir dalam pertemuan di Ciputra World tahun 2013 itu. Namun anehnya Kasmin mengaku tidak ingat siapa saja hadir dalam pertemuan itu.
Setelah pertemuan di Ciputra World itu, Chandra Gunawan, Azis Wijaya dan Idris Chandra datang ke lokasi stok biji besi di Batu Licin Kalimantan Selatan dan Azis mulai mentransfer uang sejak 2 September 2013 sampai 16 Desember 2013 bertahap 10 kali senilai total Rp.6.950.000.000.- dari rekening orang lain yang menurut Azis rekening grup usahanya, imbuhnya.
Diterangkan lanjut, harga biji besi anjlog dari sekitar 186 dolar Amerika ke 40 dolar, dan 14 Januari 2014 terbit regulasi pemerintah tidak diperbolehkan mengekspor biji besi mentah. Sehingga diupayakan menjual di grup Krakatau Steel, namun harganya terlalu rendah.
Awal 2014 Idris Chandra minta bertemu dengan Chandra Gunawan tanpa Azis Wijaya dan baru memberitahu bahwa yang mentransfer uang sejak 2 September 2013 adalah dirinya.
Untuk kelanjutan biaya produksi dan operasional sambil menunggu harga bagus, mulai 25 Februari 2014 sampai 10 Maret 2014, Idris mentransfer lagi bertahap 4 kali sejumlah total 1.350.000.000.-. Dan pada Juli 2016, Idris Chandra mengirim lagi 190 juta Rupiah melalui Rekening Kasmin untuk honor penjaga areal stockpile. Namun Kasmin membuat pengakuan bahwa uang 190 juta itu miliknya. Padahal bukti pengiriman tertera ‘ke Law Chandra Gunawan titipan uang dari Idris Chandra’, sambung Tony.
Diterangkan juga oleh Saksi Tony, biaya yang telah dikeluarkan Chandra Gunawan sejak Agustus 2013 yang tercatat dan ada kuitansinya Rp.16.600.000.000.-. Sedangkan sebelumnya, justru lebih besar lagi, sekitar 35 Miliar Rupiah, tutup Tony. (smk/jml)
Facebook Comments