Rentetan Robohnya Gedung RADIO BUNG TOMO

0
42

SURABAYA, Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS) merasa gerah yang tak kujung jelas terkait persoalan dan mendorong sikap para SKPD dan Walikota Surabaya, untuk mau meminta maaf terhadap warga Surabaya atas dugaan keterlibatannya, merobohkan bangunan Cagar Budaya Rumah Radio Bung Tomo. Dalam aksi yang di selingi dengan ritual, tampak beberapa arek-arek Surabaya, menyediakan sesaji berupa bunga, uang receh dengan beras kuning, pecah kendi sebagai symbol kematian dan kemenyan.

Di depan puing-puing Cagar Budaya di jl. Mawar No 10 Surabaya, aksi di awali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya kemudian do’a bersama di pimpin oleh ustadz zainal, salah satu tokoh agama dari kawasan kenjeran, Surabaya.

Keberadaan Cagar Budaya yang bersebelahan dengan bangunan megah milik Jayanata sempat di jadikan ritual yang kedua setelah usai do’a bersama, tampak di depan gerbang milik Jayanata, para aksi memanjatkan doa dengan di sertai bakar kemenyan serta tabur bunga dengan uang receh dan beras kuning kemudian dengan memecah kendi tepat di tengah gerbang dengan harapan para pelaku yang terlibat segera mendapat LAKNAT.IMG-20170114-WA0000

Hasil pantauan di lapangan, giat aksi telah di kawal oleh jajaran polsek tegal sari dan tampak kapolsek ,Noerijanto sempat turun guna mengamati sekaligus melakukan komando guna melepas Arek-Arek Surabaya menuju kantor DPRD kota Surabaya, dalam konvoi para giat aksi sadar bahwa aktivitasnya menganggu arus lalu lintas sehingga mereka mau berbagi kepada pengguna jalan yang lain.

Beberapa menit perjalanan, tepat di depan Gedung Dewan DPRD kota Surabaya, sudah terpasang kawat berduri, KBRS (komunitas bambu runcing Surabaya) kembali melakukan ritual sambil berorasi. Sayangnya, tidak ada satupun anggota Dewan DPRD yang mau menemui guna mendengar aspirasi tersebut.

Ritual kemudian berlanjut di depan kediaman Walikota Surabaya, sayang acara berlangsung batal karena sempat terjadi ketegangan antara Kasatpol PP, Irvan Widyanto dengan Arek-Arek yang menamakan diri sebagai KBRS, kedua-duanya saling bersikukuh dengan pendirian masing-masing. Entah salah satu dari Arek-Arek KBRS melunak sehingga menular di ikuti oleh yang lain dan ritual pun di selenggarakan di gerbang pintu Pemkot Surabaya pada sisi bagian timur.

Di lain waktu, salah satu koordinator KBRS, Udin Sakera, mengatakan, ‘’siapapun yang terlibat menghancurkan sejarah Rumah Bung Tomo adalah pengkhianat Bangsa Indonesia, tragedi ini akan menjadi saksi dan tercatat untuk di kenang oleh generasi berikutnya dan ia meyakini para generasi itu akan mengutuk prilaku mereka,’’ ujarnya. Sedangkan ,koordinator yang lainnya, Willy berpesan, aksi kami bukan main-main, arek-arek KBRS akan terus mengawal kasus penghancuran Rumah Bung Tomo dan ini adalah bentuk bahwa kami menagih janji keseriusan Pemkot kota Surabaya, tatkala sebelum wafatnya nyonya Sulistiana, sang walikotra berjanji akan mengembalikan bangunan Cagar Budaya Rumah Radio Bung Tomo, bebernya kepada awak media. (Bnd)

Facebook Comments