Ziarah part II

0
131

ZIARAH
Bagian II

Cerita bersambung
Oleh: Riana Grey

“Cinta itu apa? Wajarkah jika perasaan itu bersemayam bertahun-tahun lamanya, meski tidak ada satu hal pun yang masih tersisa dari sosok yang dicintai, meski seharusnya perasaan itu sudah berpindah pada seseorang yang selalu menemani. Namun jika tidak demikian adanya, salahkah?”

Jika kamu benar-benar tulus mencintai seseorang, kamu akan lupa pada kesalahan yang ia perbuat. Tidak peduli sesering apapun ia melakukannya. Tidak peduli sesakit apapun sebenarnya kamu menahan luka. Kamu akan menjadi seperti rumah, tempatnya pulang setelah ia lelah berpetualang di luar sana. Tidak peduli kesalahan sebesar apapun yang ia perbuat, kamu akan tetap mencintainya. Meski dia tidak lagi mencintaimu. Atau…meski dia tidak bisa lagi dicintai. Dan meski kamu sudah menghadirkan cinta lainnya untuk hidupmu.

Seperti aku. Mencintainya hingga saat ini, sesakit apapun penghianatannya di masa lalu. Tidak apa, toh cinta itu sudah aku lunasi dengan jiwaku yang berantakan. Aku masih mencintainya meski sejak bertahun-tahun lalu seseorang telah mengisi tempatnya dulu. Bukan untuk menggantikan dia, tapi untuk menolong aku yang terluka begitu hebatnya. Terseret. Tercabik. Serta terperosok jauh dalam kehidupan yang begitu gelap bernamakan kehilangan. Hati yang baru ini hadir seperti oase yang kembali menghidupkan aku. Meskipun sebagian hatiku telah lumpuh dan benar-benar mati. Dia tau, dia bilang tak apa. Asalkan bisa terus bersamaku dan dia akan membuatku bahagia, menebus duka yang dulu pernah aku alami bersama seseorang lainnya.

Sepuluh tahun, dan pada awal Februari ini untuk pertama kalinya aku ingin sekali mengunjungi kembali tempat di mana dulu aku bukan saja kehilangan hatiku untuk teriris lalu terluka parah dan mati hingga kini, tapi juga nyaris kehilangan nyawaku. Perjuangan mempertahankan hidupku yang pada akhirnya harus merenggut kehidupannya. Entah saat itu lebih baik dia hidup atau mati saja. Karena melihatnya tetap hidup, adalah sama artinya dengan membunuh diriku sendiri secara perlahan. Tetapi melihatnya kehilangan nyawa, membuat aku ingin mati bersamanya. Sakit, iya. Terluka, sangat. Putus asa, jelas. Hingga seseorang hadir untuk perlahan-lahan mengembalikan lagi kewarasanku yang sempat melayang pergi bersama tenggelamnya matahari di senja itu.

Jakarta, 5 Februari, 22.00 wib
Stevia
***

Rolland terlihat antusias membersihkan lensa kameranya. Di sisinya sebuah koper masih menganga menunggu dijejali berbagai barang bawaan lainnya yang mungkin saja akan diperlukan dalam perjalanan nanti. Sementara di sisi lain tempat tidur, perempuan pertengahan tiga puluhan sibuk menuliskan sesuatu dalam buku harian. Perempuan berambut sebahu yang pada ujung-ujungnya dibuat ikal itu sudah mengenakan piyama sejak tadi. Namun matanya belum juga terkatup sehingga ada saja hal yang masih ingin dia lakukan. Perempuan itu Stevia, istrinya.

Stevia terlihat sehat hanya saat memegang buku dan pena. Selebihnya, perempuan itu tak ubahnya seperti patung yang bernyawa tapi tidak berjiwa. Namun sejak awal mengenal Stevia, ia telah siap untuk ada dalam kondisi apapun, asalkan peempuan itu tetap baik-baik saja. Tapi nyatanya, mata Stevia yang dulu berbinar, kini sudah redup dan mati. Hanya tatapan kosong yang membosankan. Sesekali pancaran mata itu membaik, tapi tidak pernah bertahan lama. Samar-samar angin menyusup masuk dari jendela geser yang menjadi pemisah antara kamar tidur dengan balkon. Rolland beranjak ke arah balkon, mengamati sebentar kelip lampu dari jalanan yang terlihat mengular, mengamati langit malam dan balkon yang lembab usai hujan sore tadi.

Ditutupnya jendela geser itu lalu ditarik tirainya untuk menutupi. Sunyi. Tenang. Begitu suasana yang terasa di apartmen yang mereka tinggali yang tepat berada di lantai dua puluh satu. Stevia meletakkan buku hariannya lalu merebahkan tubuh. Rolland menarikkan selimut menutupi tubuh ramping istrinya. Keduanya larut dalam suasana hening dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Rolland memberi kecupan selamat tidur dan mengusap ujung rambut istrinya. Selalu ada senyum yang terkembang di wajahnya untuk perempuan yang satu itu, tidak peduli seberat apapun sebenarnya ia menahan keinginan untuk sedikit saja lebih diperhatikan oleh Stevia. Istrinya itu seolah sibuk dengan pikirannya sendiri, selalu berada di sisinya, namun jiwanya seolah tertinggal di masa lalu.

“Besok kita berangkat jam enam pagi ke bandara. Bawaan kamu udah beres semua, kan?” Suara berat Rolland mengalihkan pikiran Stevia.

Ia menatap suaminya menjawab, “udah.”

Rolland berbaring menjejeri istrinya. Ada gemuruh yang sulit diterjemahkan, sebentuk perasaan cemburu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Baginya, laki-laki itu hanya serangkaian kisah masa lalu Stevia, tapi menyadari masa lalu itu masih dibawa serta oleh istrinya hingga saat ini, sulit sekali rasanya untuk terlihat baik-baik saja. Rolland terpekur, berharap tiga hari ini cepat berlalu dan dia bisa kembali melanjutkan hidup seperti tidak pernah ada laki-laki itu yang menghantui masa lalu istrinya, melanjutkan rumahtangga hanya mereka berdua saja, sambil terus berharap akan kehadiran sosok buah hati di tengah-tengah delapan tahun pernikahan mereka.

Angin malam bergulir, menghempas satu persatu helaian daun yang menguning. Menerbangkannya hingga berserak tidak beraturan. Suara bising kendaraan mulai berkurang. Hanya satu dua kendaraan yang masih melintas di depan bangunan gedung apartmen. Satu dua mobil memasuki area parkir basemen, perempuan muda dengan mini dress merah dan seorang lelaki setengah baya turun dari sebuah Ferrari, perempuan muda dengan rambut tergerai itu bergelanyut manja di pundak lelakinya, si lelaki menempelkan pass card di sisi pintu masuk apartmen, pintu terbuka lalu keduanya berjalan menuju lift. Lift berdenting, mereka masuk dan dari sana adegan malam di mulai. Hingga paginya si lelaki terbangun sambil menatap nanar pada wanita malam yang tidur di atas ranjangnya. Dikepulkannya asap rokok paginya ke udara. Ada sekelumit kepuasan yang entah di dasari oleh hal apa yang menghentak melampaui ubun-ubun si lelaki paruh baya.
***

Pukul lima pagi Rolland keluar dari kamar mandi dan berdiri di sisi meja makan sambil mengaduk secangkir cokelat panas dan secangkir teh hijau untuk istrinya. Roti tawar yang diolesi butter sudah masuk ke pemanggang, selanjutnya diolesi selai blueberry dan diberi taburan almond sangrai. Sarapan pagi favorit Stevia. Sebenarnya masih terlalu pagi untuk sarapan.

Sementara dari arah kamar mandi, suara shower menyala menandakan Stevia masih berada di dalamnya. Stevia berdiri tepat di bawah guyuran shower, membiarkan rambut dan seluruh tubuhnya basah sambil berharap guyuran air itu akan ikut meluruhkan ingatan masa lalu yang masih membayanginya hingga kini. Sia-sia. Ia terperosok terlalu jauh hingga sulit sekali rasanya untuk bangkit meski ada Rolland yang sekuat tenaga menariknya untuk keluar dari kubangan masa lalu kelam itu.

“Kamu yakin kita akan ke sana?” Rolland memulai percakapan saat mereka berdua sudah duduk bersama di depan meja makan. Stevia menggosok-gosokkan handuk ke rambutnya yang masih basah.

“Selama kamu nggak keberatan.” Stevia menghentikan gerakan tangannya lalu menutup mata dan menghembuskan napas berat.

Sebenarnya ia benci diingatkan akan tempat itu dan kenangan masa lalu yang pernah terjadi di sana. Tapi membiarkan dirinya diliputi rasa penasaran karena keinginan yang kuat untuk mendatangi tempat itu lagi, bukanlah sebuah keputusan yang baik bagi kesehatannya.

“Aku harus punya alasan untuk bangun dari semua ini,” lanjutnya dengan wajah tertunduk memandangi sarapan paginya yang belum tersentuh.

“Apa semua alasan ini belum cukup kuat, Stev? Aku, rumahtangga kita yang udah kita jalani selama delapan tahun, kepergian dia, penghianatan itu, perempuan itu.”

Hening. Stevia tidak mempunyai kata-kata untuk beradu argumen dengan suaminya karena selama inipun dia lebih banyak diam. Terkubur di kesakitan yang dalam. Pada kenyataannya justru tidak ada satupun alasan untuk tinggal di masa lalu, terlebih setelah delapan tahun rumahtangganya bersama lelaki super sabar bernama Rolland.
“Sekali ini aja, Stev. Kamu udah harus mulai mikirin perasaan aku. Masa depan rumahtangga kita, kamu harus sehat supaya kamu bisa hamil, aku ingin kita punya anak, Stev. Rasanya sepi.”

Rolland mulai menggigit rotinya. Stevia menunduk sambil memainkan ujung-ujung pisau dan garpu. Dari luar, semua terlihat baik-baik saja. Tapi pada kenyataannya, tidak pernah ada satu hal pun yang baik-baik saja dalam pernikahan mereka. Tidak ada kekacauan, hanya saja keduanya tidak pernah benar-benar berjalan bersisihan. Seperti Stevia berjalan sendiri, dan Rolland setia mengikuti dan siap melindunginya. Itu saja.

Pukul enam pagi, keduanya keluar dari apartmen menuju lobi. Taksi yang akan membawa mereka ke bandara sudah menunggu di pintu depan. Stevia membungkus tubuhnya dengan sweater merah muda. Syal yang membebat lehernya serta tas tangan yang ia sandang membawa kesan elegan. Di sampingnya Rolland dengan kaos putih polos, celana cargo dan tas kamera terselampir di pundaknya. Satu buah koper sudah dimasukkan ke bagasi taksi. Mereka masuk ke dalam taksi yang segera akan melaju membelah jalanan Kota Jakarta yang masih lengang dan membawa mereka menuju bandara. Cuaca lembab awal Februari menguarkan petrikor dan mengibaskan angin samar-samar. Mereka memulai perjalanan. Perjalanan mengunjungi masa lalu yang Stevia menyebutnya dengan…ziarah.
***
(Bersambung)

Facebook Comments