ZIARAH

0
132

Cerita bersambung

Oleh: Riana Grey

BAGIAN I

-Bahwa ke manapun pergi, tidak ada yang lebih sendu dari pada mengunjungi masa lalu yang bernama rindu.-

Tidak semua orang bersedia hidup di masa lalu. Bahkan sekalipun masa depan itu adalah rahasia yang tidak terpecahkan pada hari ini. Tidak pula ada yang berkali-kali kembali ke masa lalu dan menerimanya dengan tangan terbuka. Sakit, luka, air mata, jika pun ada bahagia, harapan…atau apapun itu namanya. Sesuatu yang terpahat di dinding kenangan. Tidak ada orang yang dengan senang hati bersedia singgah ke sana. Mereka terus berjalan ke arah masa depan, mempersiapkan diri untuk sebuah misteri bernama hari esok.

Adalah aku, perempuan yang setiap tahun singgah di tepian masa lalu. Mereka bilang, yang seperti ini namanya mengenang. Bagiku tidak, aku hanya sedang memutar ulang sebuah adegan di masa lalu dan merekamnya lagi. Sesuatu yang pada akhirnya membuatku mempunyai alasan untuk mempertahankan hal yang kusebut sisa-sisa masa lalu. Jahat sekali, tapi benar. Dia adalah sisa-sisa masa lalu yang adalah bagian dari diriku.

Surabaya, Rabu 4 Februari, 21.30 wib Persiapan ziarah ke-10 Renata
***

Langit kota terlihat pucat sejak semalam. Sesekali sisa gerimis menitik perlahan menambah genangan air di jalanan, tidak terkecuali di halaman rumah yang sedikit lebih rendah dari jalan setapak di depan. Bebungaan yang semalam mekar pun tertunduk sayu diguyur hujan tadi malam. Beberapa meter di depan sana, suara riuh rendah orang-orang sedang bertransaksi. Sebagian dari pemilik suara itu adalah orang-orang yang setia menekuri pagi dengan menggelar lapak dagangannya di tepi jalan. Sebagian lagi adalah para pembeli yang pagi ini datang dengan jaket tebal, dengan mantel hujan, atau berjalan kaki dengan payung yang melindungi.

Tampak lebih sepi dari biasanya. Renata berjalan kaki sedikit tergesa meninggalkan halaman rumahnya, menuju lapak penjual kue pukis dan nasi pecel. Membeli sebungkus kue pukis pandan kesukaan Are dan dua bungkus nasi pecel. Sambil berlalu, beberapa pedagang menyapanya. Penjual sayur langganannya, penjual ayam potong, penjual susu kedelai. Mereka berusaha menarik perhatian Renata yang pagi ini terlihat enggan untuk berbelanja. Terakhir, penjual aneka kue. Sepasang ibu-bapak tua yang begitu ramah. Renata menatap sejenak lalu membawa langkahnya menuju meja yang menjejerkan aneka kue pagi. Diambilnya beberapa macam kue dengan terburu-buru, membayar, lalu bergegas pulang.

Langkah kakinya menyusuri tepian jalan, menghindari cipratan air dari kendaraan yang lalu-lalang. Dikenakan hodie jaketnya saat rintik hujan kembali menderas. Beruntung teras rumahnya hanya tinggal beberapa meter saja. Renata bergegas. Pintu rumah terbuka tepat saat Renata menginjakkan kaki di teras. Are muncul dengan badannya yang jangkung, rambutnya basah usai mandi, masih dengan kaos singlet dan celana pendek.

“Kita jadi pergi, Ma?” disambutnya makanan di tangan Renata seperti ia menyambut belanjaan Renata di pagi-pagi sebelumnya.

Are meletakkan makanan di meja, Renata sibuk menata piring di meja makan dan menyisihkan sebagian kue, membiarkannya tetap terbungkus plastik dan menempatkannya di dalam wadah yang telah ia siapkan bersama botol air minum sejak subuh tadi.

“Iya. Pakaian kamu udah siap, kan?”

“Udah. Mama udah minta izin sama wali kelasku, kan?”

“Udah.” Renata menghabiskan sarapannya dengan tergesa. Are menatap tingkah Ibunya yang di luar kebiasaan lalu mengedikkan bahu. Ia mengimbangi kecepatan makan Ibunya karena tau meskipun Ibunya tidak menyuruh, tapi itu memang yang seharusnya dilakukan saat ini.

“Bus berangkat jam sembilan. Kita harus sampai di terminal tiga puluh menit sebelumnya, Re. Jadi selesai makan, buruan pakai baju dan kita langsung berangkat.” Renata memberi perintah pada anak lelaki satu-satunya itu sambil tangannya cekatan merapikan beberapa barang yang dirasa perlu untuk dibawa.

“Kenapa nggak pakai mobil sendiri aja sih, Ma? Kan ribet pakai bus segala.”

“Perjalanan kita jauh, Re. Delapan jam dan Mama nggak mungkin sanggup nyetir sendirian,” ucap Renata, lalu berdiri di belakang anaknya.

“Makanya kamu cepet besar, biar bisa nyupirin Mama kalau kita pergi-pergi ke luar kota,” lanjutnya sambil mengacak-acak ujung rambut putranya.

Keduanya lalu tenggelam dalam kesibukan masing-masing selama tiga puluh menit lamanya. Sebelum akhirnya keluar dari kamar masing-masing dengan bawaan yang sudah dipersiapkan sejak semalam.

“Kenapa aku harus libur sekolah sih, Ma? Tiga hari lagi. Nanti kalau aku ketinggalan pelajaran, gimana? Ngapain harus ke sana sih, Ma? Tahun lalu Mama juga ke sana dan aku dititipkan di rumah Tante Dianti. Kenapa tahun ini aku harus ikut, Ma?” Rentetan pertanyaan Are semalam hanya dijawab dengan kalimat tegas oleh Renata. Rasanya belum tepat untuk menjelaskan segalanya pada Are saat ini.

Renata memang selalu tidak siap untuk memberitahukan pada Are perihal masa lalunya, perihal siapa ayah Are dan bagaimana peristiwa tragis itu terjadi. Tapi kali ini ia memberanikan diri, bukankah Are juga berhak untuk tau?

“Kita liburan sebentar. Mama capek kerja dan Mama pengen ngasih tau tempat yang indah banget. Tempat favorit Mama sejak dulu. Jadi kamu siap-siap aja.” Saat itu Are tidak membantah dan menurut pada Ibunya untuk berkemas. Memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam ransel dan tidak lupa mainan kubikel favoritnya. Mainan kubikel pemberian Renata saat ia berusia tujuh tahun. Sudah usang, tapi Are suka sekali memainkannya.

Dan pagi ini, keduanya menggendong tas ransel masing-masing. Are, meski baru kelas tiga sekolah dasar, tapi sudah terlihat begitu mandiri. Mempersiapkan keperluannya sendiri untuk perjalanan jauh. Renata merapikan helaian rambutnya di depan cermin yang terpajang di dinding ruang tamu di depan wallpaper bunga-bunga kecil berwarna merah muda dengan dasar putih. Lalu berbalik merapikan kerah kaus lengan pendek Are yang sudah terlihat begitu siap.
***

Taksi berhenti di jalan depan rumah, supir taksi lalu turun berniat membawakan barang-barang bawaan mereka tapi kemudian ditolak oleh Renata. Tidak seharusnya menyusahkan orang lain selagi masih bisa di atasi sendiri. Begitu prinsipnya. Sekali lagi memastikan pintu, jendela dan pintu garasi sudah terkunci lalu Renata menyusul Are masuk ke taksi.

“Terminal ya, Pak,” ucap Renata sambil menyodorkan bungkusan berisi kue yang dibelinya pagi tadi pada supir taksi.

“Nggeh, Mbak. Wah, apa ini? Makasih loh, Mbak. Mau ke luar kota ta, Mbak?” supir taksi terlihat bersemangat dengan kue lumpur dan lapis Surabaya di sampingnya.

“Iya, Pak.”

“Kenapa ndak naik kereta atau pesawat saja, Mbak? Lebih cepat.”

Supir taksi membelokkan kemudi ke kiri setelah keluar dari komplek perumahan. Memasuki jalan yang lebih lebar. Di depan pertigaan, bangunan apartmen tinggi menjulang, tepat di bawahnya terdapat sepetak tanah makam yang hampir penuh. Bangunan apartmen yang pada setiap sisi salah satu unitnya pernah menjadi saksi perjalanan cinta yang sedemikian rumit. Bangunan apartmen yang pada salah satu sudut kamarnya menyimpan kenangan tentang bukti keberadaan Are di dunia.

Renata berusaha mengalihkan pandangannya dari gedung apartmen itu. Meski hampir setiap hari dilewati, rasanya ia perlu mengumpulkan tenaga untuk bisa menguasai diri agar tidak menggulirkan butir air mata. Memasuki jalan ini mulai banyak terlihat mahasiswa-mahasiswi berjalan di trotoar, di sebelah kanan jalan sesudah pertigaan apartmen terdapat kampus swasta.

“Kejauhan kalau harus ke stasiun kan, Pak. Lebih enak naik bus aja. Terminal dekat. Tiket pesawat mahal juga, Pak.” Supir taksi mengangguk mengiyakan. Taksi melaju membelah jalanan pinggiran Kota Surabaya yang agak padat oleh kendaraan karena hari masih pagi. Waktunya bagi para pekerja untuk berangkat ke tempat mereka mencari nafkah.

Are memperhatikan ke sisi kanan jalan dari kaca taksi yang tertutup. Pandangan matanya selalu terlihat antusias dan bersemangat. Barangkali semangat dari pria kecil itulah yang membuat Renata masih kuat berdiri hingga detik ini. Masih bersedia untuk menghirup udara hingga nanti menua, demi melihat pria kecil ini tumbuh dewasa dan Renata siap untuk melepasnya. Seperti induk burung yang melepas anak-anaknya untuk terbang mengarungi dunia.

Renata sendiri mengamati sebelah kiri jalan sambil pikirannya jauh menerawang pada masa sepuluh tahun silam. Setiap kali mendekati tanggal 7 Februari, entah disadari atau tidak, pikiran Renata selalu memutar ulang adegan di masa lalu. Begitupun saat ini. Di dalam taksi, dalam perjalanan menuju terminal bus. Di balik kaca, pemandangan deretan ruko, bangunan rumah besar, warung kopi, minimarket, masjid, warung kopi lagi, silih berganti terlewati. Renata memandangnya dengan tatapan kosong. Sampai taksi melewati perempatan jalan, berhasil melewati traffic light yang kebetulan sedang menyala hijau. Taksi melambat dan berbelok ke kiri, memasuki jalan raya yang padat lalu lintas di pagi hari.

“Yuhuuu…Good bye, Surabaya. Welcome to Sidoarjo!” Pekik Are saat taksi melewati gapura Selamat Datang di Kota Sidoarjo yang ditandai dengan patung ikan bandeng dan udang sebagai ikon kota itu.

“Jarak kita dari Sidoarjo cuma selemparan batu kali, Re,” ucap Renata dengan gemas sambil kembali mengacak-acak ujung rambut putranya. Lalu pria kecil itu bergelanyut manja di lengan Renata sambil memilin-milin ujung rambut hitamnya.

Taksi mengambil jalan berputar yang cukup jauh. Padahal pintu keluar terminal yang mereka tuju berada tidak jauh dari seberang gapura selamat datang. Sepasang ibu-anak itu kembali sibuk dengan pikiran masing-masing. Si Anak berkali-kali menghitung, entah menghitung mobil atau sepeda motor yang lewat. Atau menghitung mobil berwarna hitam, putih, merah dan biru. Sedangkan Si Ibu menatapi sepanjang rel kereta api di sisi kiri jalan, menatapi deretan penjual bunga tujuh rupa, pinang, dupa dan perlengkapan sesajen lainnya yang berjualan dengan meja dan atap gubug seadanya di sepanjang tepian jalan. Tepat di bawah flyover, taksi yang mereka tumpangi berbelok ke kanan dan melaju lurus hingga mencapai pintu masuk terminal.

“Ma, kita mau ketemu siapa di sana nanti? Apa nggak perlu beli oleh-oleh?” Are terlihat antusias melongok kanan-kiri pada kios penjual makanan, minuman dan toko oleh-oleh di sepanjang koridor terminal setelah keduanya turun dari taksi.

“Nggak usah, Re. Kita nggak mau ketemu siapa-siapa, kok.”

***

Cuaca pagi masih diselimuti mendung yang menggantung. Sesekali rintik hujan juga masih jatuh. Renata menggandeng tangan putranya memasuki area dalam koridor terminal, lalu turun menuju tempat di mana jajaran bus terparkir. Matanya sibuk mencari-cari bus berwarna kuning jurusan kota yang akan mereka tuju. Sebuah kota kecil di ujung Jawa Timur. Hanya ada satu pemberangkatan saja untuk langsung sampai di kota itu tanpa transit. Pilihan lainnya ada bus tujuan kota lain yang berangkat beberapa kali sehari, lalu transit terlebih dahulu, kemudian lanjut dengan bus lainnya hingga sampai di kota tujuan. Tapi biasanya dengan biaya yang lebih mahal dan waktu transit yang lama.

Bus kuning yang dicari-cari oleh Renata terparkir tepat di sisi paling kanan, ia meraih lengan anaknya untuk bergegas menuju bus. Keduanya lalu disambut oleh riuh bujuk-rayu calo dan petugas agen bus-bus tersebut yang berulang kali menanyakan tujuannya, menarik-narik barang bawaannya dan berharap ia akan ikut dengan salah satu dari mereka. Renata hanya tersenyum di sela riuh-rendah suara laki-laki di sekelilingnya. Ia sudah cukup terbiasa dengan suasana seperti ini. Tapi agaknya Are sedikit risih dan ketakutan. Ia menggenggam erat lengan Ibunya dan berjalan merapat ke arah Renata.

“Sini, Mbak. Pakai bus ini.”

“Ke sini, Mbak. Ini busnya.”

Para laki-laki pencari nafkah yang gigih. Renata sama sekali tidak risih, malah kagum melihat para petugas agen yang dengan semangat berapi-api menarik penumpang di pagi hari. Namun langkahnya tetap mantap menuju bus kuning.

“Ke mana, Mbak?” petugas yang berdiri di samping pintu bus kuning menyambutnya dengan ramah.

Renata memberitahu kota tujuan mereka, petugas itu kemudian menuliskan sesuatu di tiket Renata. Are membuang napas lega karena merasa terlepas dari kerubungan para petugas lainnya. Hanya saja ia belum tau kalau setelah ini, masih akan ada lagi orang-orang yang bersuara riuh-rendah di sekitar mereka, para penjual asongan dan pengamen. Petugas itu menyobak dua lembar tiket, memberikannya pada Renata lalu menerima uang ongkos dari Renata.

“Ada barang yang mau masuk bagasi?”

“Nggak ada, Mas. Makasih,” ucap Renata sambil tersenyum dan menarik lengan putranya untuk naik ke undakan bus dan memilih tempat duduk.

Perjalanan dimulai. Sebuah perjalanan panjang untuk menjenguk kenangan yang tertinggal. Perjalanan yang akan mengantar mereka berdua pada deraian air mata. Perjalanan yang menyibak kembali segala luka-luka yang entah mengapa masih ingin disinggahi oleh Renata pada setiap tahunnya. Perjalanan yang ia sebut dengan…ziarah.

***
(Bersambung…)

 

Facebook Comments