KEMUNGKINAN ITU, SELALU ADA…

0
124

Oleh: Riana Grey

Ada banyak kemungkinan, salah satunya adalah yang kita takutkan.
-Riana Grey-

Benar, kemungkinan itu beraneka ragam. Tidak terkecuali kemungkinan buruk yang akan terjadi. Perkenalkan, namaku Delfa. Anak ketiga dari empat bersaudara. Jarak usia antara aku dan kedua abangku tidak terpaut jauh, sedangkan adikku belum genap setahun. Aku sendiri saat ini duduk di bangku kelas 2 Madrasah Ibtida’iyah.

Tadinya, aku punya keluarga yang begitu hangat dan bahagia. Ya, meskipun saat ini aku juga bahagia. Tapi semua tidaklah sama seperti dulu. Tidak akan pernah lagi sama. Kejadian tiba-tiba itu merubah segalanya. Aku, kedua abangku, adikku, apalagi ibuku.

Ayahku bekerja sebagai teknisi listrik. Ayah yang sangat hangat dan begitu sayang pada kami. Ibuku hanya ibu rumah tangga biasa, kesehariannya mengurus kami, menyiapkan semua keperluan harian kami dan mengurus rumah.

Suatu hari di bulan entah apa, saat aku sedang bersekolah, peristiwa naas itu terjadi. Ayahku tersengat listrik ribuan watt ketika sedang menjalankan tugasnya. Rekan-rekan kerja Ayahku membawanya ke rumah sakit. Kondisinya sangat buruk, badannya melepuh membiru dan kaku.

Ayah di rawat di ruang ICU selama…aku tidak terlalu ingat berapa lama tepatnya. Yang aku tau, sangat lama. Semenjak itu hari-hari kami berubah. Ibu lebih banyak berada di rumah sakit menunggui Ayah. Kami lebih sering diurus Uwak, Kakak Ayah.

Ayah mempunyai keluarga besar yang sangat perhatian. Beberapa orang Uwak dan Bibi yang bergantian mengurusi kami. Lalu pada suatu hari yang tenang, tadinya aku tidak mengerti apa yang terjadi. Kami semua, aku, kedua Kakakku, para Uwak dan Bibiku, juga termasuk adikku yang masih bayi. Kami semua berkumpul di rumah sakit.

Ibu pingsan berkali-kali. Adik digendong oleh Bibi. Salah satu Uwak perempuan (yang memakai tongkat, karena kakinya pernah patah terjatuh di kamar mandi) memeluk aku dan kedua Kakakku. Ayah meninggal dunia. Begitu kata Uwak. Aku tidak tau meninggal dunia itu apa, yang aku tau hanya…sejak hari itu, Ayah tidak pernah bangun lagi. Bahkan mereka menguburkan Ayah di dalam tanah. Kebersamaan kami usai.

Kami semua dibawa ke rumah salah satu Uwak. Kebetulan tiga orang Uwak perempuan, satu orang Uwak laki-laki, dan dua orang Bibi, tinggal di satu desa yang sama. Sejak hari itu, aku, kedua abangku dan adikku, kami berempat tidak lagi kembali ke rumah.

Dalam suasana berkabung itu, Ibu mengutarakan niatnya pada para Uwak dan Bibi. Kata Ibu, ia akan menitipkan aku dan ketiga saudaraku di panti asuhan. Sementara Ibu akan bekerja untuk mencicil biaya rumah sakit ayah yang belum terbayar. Jumlahnya sangat besar. Sementara Ibu yang hanya lulusan SMA, serta tidak pernah bekerja, tidak yang bisa menghidupi kami.

Para Uwak dan Bibi marah. Kata mereka, selagi mereka masih hidup, anak-anak Ibu adalah anak-anak mereka juga. Akhirnya sejak hari itu, Ibu kembali ke kota, bekerja membantu temannya berjualan nasi. Sementara aku, tinggal bersama Bibi yang punya tiga anak perempuan, anak pertamanya kelas 1 SMP, anak kedua Bibi seumuran aku dan anak ketiganya masih Tk.

Abangku tinggal di rumah Uwak, adikku yang masih bayi…mereka bergantian mengasuh adikku. Para Uwak dan Bibi sangat baik. Kami bahagia. Meskipun kebahagiaan kami tidak pernah sama lagi seperti dulu. Terlebih, Ibu masih harus menanggung hutang yang segunung. Ini cerita tentang hidupku. Ceritaku yang sebenarnya.
***

Untukmu Delfa kecil. Bersyukur dan berbahagialah selalu, Nak.
Alfatihah. Beristirahatlah dalam damai, Mas Deddy.

Dari kejadian yang menimpa tetanggaku ini, kemudian aku belajar. Belajar tentang pentingnya mempersiapkan diri untuk kejadian-kejadian dalam hidup yang tidak bisa diprediksi.

Pernah suatu malam, saat kami (aku dan pacarku) duduk di tepi sungai. Di depanku tersaji susu kedelai dingin dan dia sibuk dengan es kopinya. Saat itu dia berkata dengan ekspresi yang sangat serius. Hari itu, sekitar sebulan setelah aku memutuskan untuk resign dari kantor.

“Kamu harus kerja lagi. Kamu harus punya pemasukan sendiri. Bukan karena aku nggak bisa memenuhi kebutuhan kamu. Tapi karena aku nggak mau, kalau suatu hari terjadi hal yang nggak kita inginkan, entah aku sakit, aku diberhentikan dari kantor, aku nggak bisa cari uang lagi, terus anak-anakku terlantar. Aku nggak mau itu sampai terjadi. Karena aku yakin, kamu nggak akan bisa nabung. Makanya kamu harus tetap punya pemasukan sendiri.”

Aku ingat sekali kata-kata itu. Dia mengatakannya sambil menahan air mata. Bukan karena membayangkan masa depan bersamaku, tapi mengingat masa lalunya.

“Kalau dulu Mamaku nggak kerja, mungkin aku dan adikku sekarang jadi gelandangan. Kami nggak akan punya gelar sarjana seperti sekarang,” lanjutnya.

Lama aku terdiam. “Apa aku nggak boleh seperti mereka, ibu-ibu rumah tangga yang mengurus anak, suami dan rumah, tanpa memusingkan pekerjaan kantor atau tanpa disibukkan mengurus usaha?”

“Boleh, asal kamu pintar nabung. Tapi lihat, kamu nggak bisa nabung, kan?”

Aku mengangguk dan tertunduk malu.
***

Benar. Dalam hidup, ada banyak sekali kemungkinan. Dan kita tidak pernah tau, sesiap apa kita untuk menghadapinya. Aku belajar darinya untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan-kemungkinan itu. Walaupun tidak akan pernah sepenuhnya siap. Aku berkaca pada setiap peristiwa yang terjadi di sekelilingku, dan dari sana aku sadar…kemungkinan, apapun itu…selalu ada.

Riau, 2 November 2016

Facebook Comments