AKU ADA DI MANAPUN

0
202

Oleh: Riana Grey

Kutatapi bayangan itu dalam pantulan cermin. Tidak ada yang berubah, malah terlihat semakin cerah dalam balutan pakaian mewah dan berbagai aksesoris yang terbilang tidak murah. Mata itu, mata yang dahulu memiliki tatapan sendu yang menggoda, sekarang terlihat semakin menyala. Pemenang. Aku menyebut diriku demikian.

Suasana rumah sangat lengang. Benar, suara beberapa orang asisten rumahtangga di bawah sana tidak akan sampai ke kamarku dan tidak akan bisa mengganggu ketenangan kami. Kami, aku…dan lelaki yang menikahiku setahun lalu. Lelaki yang membawaku masuk ke dalam istananya, menggantikan permaisuri yang lama.

Apa kabarnya perempuan itu? Kasihan sekali, dia harus terkubur dalam kekalahannya yang menyakitkan. Iya, hidup ini sebuah pertarungan memperebutkan kekuasaan. Siapa yang menang, dia yang berkuasa. Dan dalam hal ini, akulah pemenang itu.

Setahun lalu, aku masih seorang perempuan yang kerap duduk di balik ruangan kaca. Kanan-kiriku menghisap sebatang rokok di tangan mereka, aku tidak. Rokok tidak pernah baik untuk kesehatan kulit, hanya alkohol, itupun sesekali jika terpaksa. Aku memiliki keistimewaan dibanding mereka semua yang berada di kanan-kiriku. Tubuh, wajah, rambut, semuanya adalah perpaduan yang sempurna.

Senja itu, aku berdiri di tepian rooftop yang dibatasi dengan besi. Mendung menggantung di langit kota yang jarang sekali membiru. Akibat polusi, kata mereka begitu. Berkali-kali hempas angin mempermainkan helaian rambut panjangku, menyapunya mengitari pipi. Mereka bilang, pipiku terbuat dari gumpalan awan, lembut, putih.

“Sy, tamu.” suara perempuan muda di belakangku membuat aku membalik badan dan mengangguk.

Kuikuti langkah perempuan seumuranku itu. Pinggulnya melenggak-lenggok, dress yang dipakainya tidak kalah seksi dengan yang kupakai. Ketukan heels kami menggema di antara dinding. Perempuan di depanku itu menyebutkan nomer kamar. Aku mengiyakan.

Langkah kami terus menyusuri area parkir rooftop. Bagi yang belum tau, pasti akan mengira ini hanyalah area parkir biasa. Padahal tidak sesederhana itu. Tempat parkir mobil ini memiliki kamar-kamar sekelas kamar hotel berbintang. Lalu di depan kamar terdapat garasi yang hanya muat satu mobil, bisa ditutup dan dikunci. Sehingga siapapun yang masuk ke tempat ini, privacy-nya dijamin aman.

Sedangkan di bawah sana, berdiri bangunan hotel lengkap dengan fasilitas spa, club dan ruangan tempat kami biasa dipajang. Tempat yang sempurna bagi laki-laki yang ingin melepas penat dan menukarnya dengan kenikmatan sesaat.

Kuamati mobil yang terparkir di depan sebuah kamar. Aku hapal betul dengan mobil itu. Perlahan kudorong pintu kamar dan menemukannya rebah terlentang. Kuhampiri dia dan berakting semanis mungkin. Sandiwara sempurna yang membuatnya lalu jatuh hati padaku dan mendatangiku lagi dan lagi.

“Kehidupan rumahtanggaku membosankan, dia nggak seperti kamu yang bisa membuat duniaku berwarna,” kudengarkan ceracaunya sambil sesekali mengecup bibirnya yang terbuka.

Bulan berganti. Dia masih mendatangiku di hari-hari yang dia mau. Tidak jarang ia membawakan hadiah-hadiah mahal yang membuatku merasa menjadi ratu. Uang mengalir ke rekeningku tanpa kuminta, keberadaannya membuat aku menjadi perempuan penghibur yang berkelas.

Kedekatan kami semakin intens. Lalu pada suatu malam ketika dia tidak datang, seorang perempuan mencariku. Perempuan pertengahan tiga puluhan dengan wajah biasa. Benar-benar biasa. Wajah datar yang tidak menyenangkan, tubuhnya dibalut dengan pakaian mahal, tetapi sama saja terlihat membosankan.

“Jangan ganggu suamiku. Kamu harus tau diri, perempuan mur*han seperti kamu adalah biang permasalahan dalam rumahtangga kami.” Suaranya terdengar tinggi dan bergetar. Entah menahan air mata atau sedang menahan amarah yang meletup di kepalanya.

Aku hanya menyunggingkan senyum sinis. Perempuan murahan katanya. Biar aku buktikan padanya, bahwa perempuan murah yang ia maksud adalah perempuan yang berharga mahal. Setelah puas meracau, perempuan itu pergi. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutku. Takut? Tidak sama sekali. Hanya merasa tidak perlu.

Esok malamnya, laki-laki itu mendatangiku lagi. Ia memandangku dengan tatapan cemas.

“Kamu nggak papa kan, sayang? Dia nggak melakukan hal buruk ke kamu, kan?”

Aku menutup wajahku. Berusaha terlihat sesedih mungkin, semenderita mungkin, sehancur mungkin. Berhasil. Dia memelukku dan berjanji akan membuat semuanya lebih mudah untuk kami. Kami? Ah, konsep macam apa yang ada di kepalanya saat ini.

Bulan kembali berganti. Dia datang dengan selembar akta cerai dan sebuah cincin berlian berharga mahal. Dia melamarku. Dia membawaku pulang ke rumahnya yang besar. Sejak hari itu, foto-foto di rumahnya berganti dengan foto-foto kami. Perabotan yang dipilih oleh perempuan itu, diganti dengan perabotan-perabotan mahal pilihanku. Sekarang, aku permaisurinya.

Aku menyunggingkan senyum sambi memoles bibir merah mudaku dengan lipgloss. Membuatnya terkesan sensual. Sesaat kemudian, suara ketukan sepatunya berhenti tepat depan pintu. Aku menyambutnya dengan kecupan dan bergelanyut manja di pelukannya.

“Ternyata kamu di sini. Aku cari-cari di bawah,” ucapnya.

“Aku ada di manapun, sayang,” kataku dengan suara mendesah nakal.

Benar, aku ada di manapun. Tidak hanya ada satu aku yang sekarang berdiam di dalam istana lelaki itu. Masih ada banyak aku di luar sana.

Riau, 15 November 2016

Facebook Comments