Padahal (Puisi Sastra)

0
172

Oleh: Riana Grey

Riau, 21 Desember 2016

Perempuan, lelaki, tua muda hingga tunastunas yang baru menganga

Berduyunduyun menabur duri di kakinya sendiri

Berjalan tergopoh lalu mengaduh saat jumpa keramaian orang yang gaduh

Berteriak di sakiti, dikuliti kakinya oleh kerumunan duri yang bersarang di sana

Padahal mereka menabur duri di kaki sendiri

Perempuan, lelaki, tua muda hingga tunastunas yang baru menganga

Menggenggam palu, memukul kepalanya sendiri berkalikali

Teriak sakit, mereka mengaduh saat pekat darah luruh jatuh

Katanya palu melukainya, palu berusaha mencongkel isi kepalanya

Padahal palu digerakkan oleh tangannya sendiri

Ada lagi manusia paruh baya, tampilan bergaya, bicara penuh daya

Wajahnya berbinar ceria seolah selalu bahagia dan baikbaik saja

Ia menabur cuka pada kulit yang baru saja disayatnya, kulitnya

Lalu teriakteriak pedih, menunjuknunjuk luka hingga orang mendatanginya

Sandiwara, drama,

Padahal luka dan cuka itu dia yang bawa

Berapa kali dalam sehari kita melukai diri sendiri?

Membaca yang tidak perlu, bicara yang tidak mutu, mendebat yang bukan lawan,

Membebat onggokan awan, hingga menjadikannya abuabu

Mana yang benar, mana yang salah, mana yang keluh, mana yang kesah, mana yang lemah, mana yang kuat

Padahal sengsaranya hidup, tidak lain dari mereka yang buat

Facebook Comments