“ENGELINE” LAINNYA

0
170

Oleh: Riana Grey

Riau, 1 Oktober 2016

Tentu kita masih sama-sama ingat kisah tragis anak perempuan manis bernama Engeline Megawe yang tewas secara mengenaskan di rumahnya di Bali. Semasa hidupnya, semenjak ayah angkatnya meninggal, kabarnya Engeline kerap disiksa oleh ibu angkatnya. Tentang motif apa yang melatarbelakangi kasus itu, saya tidak ingin membahas. Hanya saja, kisah tragis Engeline itu mengingatkan saya pada sosok gadis kecil yang pernah saya kenal bertahun-tahun yang lalu.

            Namanya Dinda. Saya masih ingat betul wajahnya, cara bicaranya, tatapan matanya yang seperti…ah, seperti apa saya harus melukiskan tatapan mata itu…seperti tatapan kucing manja yang memohon diberi sepotong tulang ikan. Sepeti itulah kira-kira. Semasa kuliah, saya dan tiga orang teman tinggal di rumah kontrakan dua petak. Rumah kontrakan kecil yang hanya memiliki ruang tamu, dua kamar tidur, dapur sempit dan kamar mandi. Dua rumah ini hanya berbatas tembok dan memilik bentuk yang sama persis.

            Penghuni rumah sebelah adalah satu keluarga yang terdiri dari: ayah yang jarang pulang karena bekeja di luar kota, ibu yang didaulat sebagai ketua arisan yang kesehariannya disibukkan dengan kegiatan “ngutip” uang arisan ke rumah member-member arisan yang letaknya berjauh-jauhan. Abang pertama yang dinas di Pemkot, abang kedua yang seorang brimob, abang ketiga yang masih duduk di bangku SMP dan seorang gadis kecil usia lima tahun yang belum disekolahkan bernama Dinda. Gadis kecil itu adalah angkat angkat di keluarga tersebut.

            Mereka tinggal di rumah kontrakan bukan karena tidak memiliki rumah. Namun karena rumah besar mereka sedang direnovasi. Begitu cerita yang kami dapat dari ibu yang punya kontrakan. Awal bertetangga dengan keluarga itu, terang saja abang pertama dan abang kedua menjadi pusat perhatian kami. maklum lah, mahasiswi yang tinggal jauh dari rumah, bertetangga dengan cowok-cowok yang terbilang ganteng. Jadilah kami sering cari perhatian mereka, tidak jarang kami berebut mengantar makanan untuk mereka. Dari situ kami bisa tau kondisi rumah sebelah. Bagaimana meja makannya yang selalu kosong, kamar tidur Si Ibu yang selalu tertutup, kamar tidur lainnya yang terlihat penuh ssak karena ditiduri oleh tiga orang laki-laki, dan bagaimana kondisi setiap sudut dari rumah itu.

            Selain itu, si gadis kecil bernama Dinda itu sering sekali main ke rumah kontrakan kami. pintu rumah kami selalu terbuka. Dua di antara kami kulaih pagi, dua lainnya kuliah kelas malam. Jadi singkatnya, rumah kami selalu berpenghuni. Kami berempat sepakat untuk hidup hemat, maka dari itu kami membagi tugas memasak setiap harinya. Sehingga selalu tersedia makanan di rumah kami. Pernah suatu ketika, saat salah satu dari kami sedang makan di ruang depan, Dinda memperhatikan. Tanpa diduga, Dinda melontarkan pertanyaan yang membuat kami tercenung.

            “Nasinya masih ada, Kak? Dinda boleh minta sedikit?”

            Itu sekitar jam lima sore. Waktu di mana kami berempat bisa berkumpul di rumah. Saya sendiri, pagi sarapan kue, makan siang di kantin kampus, agak sore makan ccamilan, baru nantinya berencana makan malam di rumah. Tapi Dinda, ketika kami tanya, ia mengaku belum makan apapun sejak pagi.

            Salah satu dari kami beranjak mengambil sepiring nasi dan sambal teri untuk Dinda. Kami memperhatikan cara gadis kecil itu makan. Terang saja hati kami seperti teriris. Ia makan dengan lahapnya walaapun hanya berlauk sambal teri.

“Emang Mama nggak masak?”

“Nggak. Nggak ada makanan di rumah.”

“Di rumah ada siapa?” Kak Erda yang terkenal paling bawel di antara kami, memberondong Dinda dengan pertanyaan. Ia tidak peduli walaupun Dinda terlihat kepayahan menjawab karena mulutnya penuh nasi.

“Nggak ada siapa-siapa. Mama pergi ngutip, belum pulang.”

Ya, Tuhan, mereka meninggalkan anak usia lima tahun sendirian di rumah, tanpa makanan, tanpa uang, tanpa pengawasan. Saya lalu menelusuri setiap inci wajah dan badan Dinda. Rambutnya kumal, tulang wajahnya menonjol, bajunya dekil, badannya kurus. Kontras sekali dengan penampilan abang-abang dan mamanya.

Hari itu, akhirnya pertanyaan kami terjawab. Tentang meja makan di rumah itu yang selalu kosong, tentang sebuah bantal kumal san selembar kain tipis yang tergeletak di lantai di sudut ruang depan. Di hari lain, saya sempat melihat abang pertama menyuruh abang ketiga untuk membeli nasi ramas (nasi padang). Abang ketiga pulang dengan dia bungkus nasi ramas yang lalu mereka makan berdua. Di sana ada Dinda. Tapi mereka seperti tidak memperdulikan keberadaan gadis kecil itu.

Hari-hari selanjutnya, kami kerap memanggil Dinda untuk makan bersama. kami sama sekali tidak merasa dirugikan berbagi sepiring nasi dengan anak itu. Justru kebahagiaan terbesar kami adalah saat ia mau diajari mewarnai, menggambar, mengenal angka dan huruf. Jadilah kami berempat memiliki satu anak asuh yang kami perlakukan seperti adik kami sendiri. Kami memang tidak pernah sekalipun mendengar Dinda dimarahi, apalagi dipukul. Tapi sekiranya pengabaian dari orangtua angkatnya itu sudah cukup memberikan luka dan trauma psikologi bagi anak sekecil dia.

Setahun lamanya saya ikut mengurusi Dinda, sampai akhirnya saya memutuskan untuk berhenti study sementara dan pergi meniti karir pertama saya di Jogja. Kak i=Iyus Wisuda, Kak Erda transfer ke Universitas lain, Kak Lena berhenti kuliah karena mengidap suatu penyakit. Rumah kontrakan kami pun kosong. Lalu Dinda? Entah bagaimana nasibnya sepeninggalan kami.

Hari ini, lama setelah kejadian itu berlalu, tanpa sengaja saya melihat foto Engeline di album facebook teman saya. Saat itu juga ingatan saya kembali ke masa lalu, kembali pada sosok kecil yang membutuhkan perlindungan. Dinda. Dan saya yakin, masih banyak Engeline atau Dinda lain di luar sana, yang bahkan mungkin diasuh oleh orangtua kandung sendiri.

Saya menulis ini sambil duduk di kantin sekolah anak saya. Sambil menatapi anak-anak berseragam SD yang berlarian, berkejaran, berjajan, menari, tertawa lepas, bermain dan duduk sambil membaca buku. Bukankah seharusnya seperti ini dunia anak-anak? Bebas dan menyenangkan. Jadi, pernahkah anda melihat Engeline atau Dinda lain di luar sana? Apa yangs ekiranya bisa kita lakukan untuk mereka?

 

 

Facebook Comments