Ziarah

0
241

RIANA GREY

Aku mengaguminya di antara gugusan awan, di antara deru mesin pesawat yang membawa kami terbang. Lalu tepat saat kami tersadar, kami sama-sama jatuh dalam cinta yang indah. Cinta yang membawa warna bagi hidup kami, hingga suatu hari, demi sebuah cinta pula kebahagiaan itu tidak lagi ada. Namun padanya, aku tetap bangga. Perempuan yang memahat kenangan kami melalui mata yang teduh dan tenang di balik kacamata yang menghiasi wajahnya. Benar, aku masih mencintainya. Hingga saat aku menuliskan ini.

            Batam, suatu ketika…

            Arham.

            1 Mei di tahun itu,

            Café berornamen kayu dengan hiasan pohon palm buatan di sudut-sudutnya terlihat ramai siang itu. Café ini letaknya tepat di samping drop point menuju pintu masuk bandara. Dari tempatku duduk di bagian sudut ruangan café, aku bisa melihat orang-orang yang menaiki eskalator menuju terminal keberangkatan. Jam yang melingkari pergelangan tanganku menunjukkan pukul satu lewat. Aku menyibukkan diri dengan ipad yang kuletakkan di meja. Membaca berita politik yang menjemukan, headline berita politik semakin hari semakin terasa seperti api yang siap memanggang kubu yang berseberangan dengan si narasumber berita.

            Kuperbaiki letak kacamata sambil menyesap kopi krimer yang sudah mendingin. Mataku baru saja akan kembali menatap layar ipad yang sesaat lalu padam, saat tiba-tiba waktu seperti bergerak lamban. Aku melihat gadis tinggi semampai dengan kulit cokelat terang dan rambut hitam panjang. Sebelah lengannya menyandang tas warna merah muda terang, sebelah tangannya lagi menarik koper hitam. Ia duduk tepat di depanku.

Benar. Seperti sebuah tayangan dalam gerak lamban. suara hingar-bingar di sekitar kami pun seperti menghilang. Seperti hanya ada aku dan dia. Sebelum duduk, ia merapikan blazer coklat muda yang melekat membentuk lekukan bagian atas tubuhnya. Ia juga memakai kacamata, sama sepertiku. Bingkai kacamata berwarna marun yang cukup tebal. Dia duduk, pelayan menghampiri untuk mencatat pesanannya. Aku masih menatap dia satu meter lebih dari belakang punggungnya.

Aku bisa mendengar suaranya. Aku suka cara dia berbicara pada pelayan. Suka caranya mengucapkan terimakasih. Suaranya lembut, tenang dan terkesan…manis. Gadis itu memesan greentea ice shake. Aku bisa melihat pelayan mengantarkan pesanan itu untuknya. Dia menyesap minumnya, merapikan helaian rambutnya lalu menyapukan matanya mengelilingi ruangan café, dan…dia menoleh ke belakang. Tatapan kami bertemu. Aku tersenyum, ingin mengucapkan kata ‘hai’, tapi satu patah kata itupun seperti tertelan kembali di kerongkonganku.

Ia kembali menghadap ke depan. Sama sekali tidak membalas senyumku. Gadis itu terlihat sangat acuh dan menghindari tatapanku. Ah, sialnya. Tapi aku tidak lantas bosan memandangi punggungnya dari belakang. Kututup ipad dan menyimpannya ke dalam tas ransel. Di mejaku hanya tersisa cangkir kopi yang isinya sudah tidak bersisa, vas bunga kecil dan tanganku yang bertumpu menopang dagu. Lima menit, sepuluh menit, gadis itu terlihat sibuk dengan ponselnya, lima belas menit, dua puluh menit. Ah, dia memanggil pelayan, close bill dan beranjak dari tempat duduknya. Kulirik kembali jam tangan. Sial! Aku terlalu terpesona pada gadis itu sampai hampir mengabaikan waktu cek in. segera kuraih tas ransel dan menuju meja kasir.

Konter cek in nomer empat dari kiri menunjukkan nomer penerbangan yang akan membawaku pulang menuju Batam. Di bawahnya tertampil juga jam keberangkatan. Aku berdiri tepat di depan konter, menyerahkan tiket dan kartu identitasku. Sambil menunggu, kuedarkan pandanganku ke arah kiri. DEG! Detak jantungku seperti dipaksa berhenti. Aku menahan napas dengan gugup. Baiklah, aku bukan lagi laki-laki belasan tahun, bukan? Tapi hanya dengan melihat sosoknya, darahku seperti berdesir berkali-kali mengalirkan energi listrik yang membuat dadaku berdentam tidak beraturan. Rasanya mirip seperti…jatuh cinta.

“Ke Batam juga?” akhirnya aku memberanikan diri membuka percakapan saat dia menatap ke arahku.

Dia memalingkan pandangannya. Kembali berbicara dengan petugas konter cek in dengan suaranya yang lembut. Sial! Lagi-lagi dia mengabaikan sapaanku. Dia itu tidak bisa mendengar atau apa. Atau apa mungkin aku tidak terlihat olehnya? Gadis aneh. Aku manapaki tangga menuju ruang tunggu, sesekali masih kuperhatikan ia yang berjalan di belakangku dengan tangan dan mata yang terfokus pada ponselnya. Masih sangat penasaran, tapi cukup kecewa dengan sikap angkuhnya padaku. Hanya padaku, tidak pada pelayan café, tidak pada petugas di konter cek in.

Untuk beberapa saat aku kehilangan sosoknya. Dia entah duduk di sebelah mana di ruang tunggu. Baik, aku menutup rasa penasaran dan memperingatkan diri endiri untuk tidak gegabah, memupuk rasa penasaran pada gadis yang ditemui di bandara. Yang benar saja. Entah barangkali dia sudah punya kekasih, atau bahkan dia adalah istri orang. Ya Tuhan. Berkali-kali aku menggelengkan kepala melenyapkan bayangan dia beberapa saat lalu.

Tiba waktu boarding, aku menunggu antrian masuk ke dalam pesawat. Malas berdesakan, aku memilih berdiri dengan santai di bagian belakang antrian sampai tiba giliranku. Aku menaiki undakan tangga, masuk ke kabin pesawat dan mencari tempat dudukku. Seat 4C. bangku di sebelahku kosong, dan tebak siapa yang duduk di seat 4A? dia. Gadis itu. Dia tengah melempar pandangannya lepas ke jendela. Aku tidak yakin dia sedang melihat sesuatu, tidak jelas. Matanya terlindungi oleh kacamata hitam pekat, matanya sama sekali tidak terlihat. Ia telah mengganti kacamata marunnya.

“Hai,” sapaku hati-hati. Ia menoleh dan tersenyum. “Ketemu lagi ya, mau ke Batam?” lanjutku. Lalu aku menutup mata menahan malu setengah mati. Ini pesawat, bukan kopaja. Tentu saja tujuannya ke Batam karena penerbangan ini memang menuju Batam.

“Surabaya,” jawabnya. Baik, lagi-lagi pikiranku salah. Nyatanya dia bukan akan ke Batam. Tapi hanya transit di Batam.

Mendadak semua terasa rumit. Aku ingin mengobrol dengannya, tapi semua kalimat urutannya terasa tidak jelas dan aku kesulitan menyusunnya untuk kuutarakan padanya. Sementara dia kembali melemparkan pandangannya jauh ke luar jendela. Pesawat yang kami tumpangi lepas landas. Suara mesinnya menderu-deru, udara di dalam kabin juga terasa semakin dingin. Seat di tengah-tengah kami masih kosong. Suatu kebetulan yang sebenarnya memang aku inginkan.

Aku terpikir sesuatu dan langsung mencari posisi yang nyaman untuk memulai obrolan dengannya. “Ganti kacamata, ya?” tanyaku. Dia menatap ke arahku, tersenyum dan mengangguk. “Kacamata yang tadi, bagus. Cocok sama bentuk wajah kamu,” lanjutku.

Senyumnya semakin lebar. “Makasih,” jawabnya.

Sial! Hanya itu jawaban yang ia punya? Sementara aku kembali kehabisan kata-kata.

“Tapi…agak sedikit kelebaran. Jadi, kesannya wajah kamu juga…hm, lebar.” Aku berusaha memancing raksinya.

Aku sempat melihat ia mengerucutkan bibir. Lalu kembali tersenyum. “Masa, sih?” wajahnya ramah, namun dari nada suaranya terdengar ia seperti tidak rela saat aku menyebut wajahnya terlihat lebar. Ini lucu sekali.

“Iya. Apa merk kacamatanya?”

Ia menjawab. Aku kembali bertanya apa keperluannya ke Surabaya. Ia menjawab. Ia balik bertanya tujuanku. Obrolan pun berjalan dua arah. Senang sekali rasanya bisa mengobrol dengan gadis unik ini. hingga empat puluh lima menit berlalu, pesawat kami mendarat. Kami berjalan ke luar kabin pesawat, ia berjalan tepat di belakangku.

Dalam perjalanan masuk ke terminal bandara, kami kembali mengobrol. Dia menarik jaketku tepat di bagian lengan. “Hm, maaf…boleh tau nama Abang?”

Aku berhenti melangkah dan seperti tersadar akan sesuatu hal. Lalu kami sama-sama tertawa ringan. Empat puluh lima menit mengobrol dengannya, tapi namanya pun aku belum tau.

“Arham. Panggil aku Kak Arham,” jawabku. “Kamu?”

Dia mengulurkan tangannya. Ah, benar. Bodoh sekali aku. Bukankah adab berkenalan itu saling menjabat tangan?

“Mervi.”

Kami kembali berjalan bersisihan masuk ke gedung terminal bandara. Aku melirik ke arahnya, rambutnya terkibas dipermainkan angin, menampakkan lehernya yang jenjang dan menguarkan aroma parfumnya yang segar. tidak lama, kami berhenti di depan dua papan petunjuk yang menuju arah berbeda. Papan petunjuk tempat pengambilan bagasi dan papan petunjuk untuk penumpang transit. Baik, kami harus mengambil jalan berpisah.

“Boleh minta kontak Kak Arham?”

Waktu seperti terhenti saat aku mendengar pertanyaan itu meluncur dari bibir merah mudanya. Apa dia sedang merasakan sesuatu yang sama seperti apa yang aku rasakan? Kami bertukar nomer kontak dan berpisah di sana.

***

1 Mei setahun berikutnya,

Dia berjalan pelan menghampiriku. Lalu dengan hati-hati dia duduk di samping kiriku di bantu dua orang yang memegangi ujung gaunnya. Prosesi suci itu dimulai. Aku mengucap ikrar janji di saksikan puluhan keluarga, kerabat dan sahabat yang ikut berbahagia. Dia mencium punggung tanganku, aku balas mencium keningnya yang terbalut hiasan kepala. Dia manis sekali. Matanya berkaca-kaca, rona haru dan bahagia jelas sekali tergambar di wajahnya, di wajah kami. Tidak butuh waktu lama. Hanya setahun dan kami sudah bersama dalam ikatan cinta yang sempurna.

Agustus di tahun berjalan,

Guguran daun memenuhi jalan setapak yang lengang. Aku baru saja keluar dari toko bunga. Tanganku memegang satu buket bunga krisan kuning dengan pita merah dan setangkai krian putih dengan pita putih pula. Langkahku tidak pernah ringan setiap kali menyambangi tempat itu. Tapi ini demi mereka yang aku cintai. Mereka yang aku cintai dengan cinta yang teramat dalam.

“Selamat ulang tahun, puteri Ayah,” ucapku lirih.

Hening. Senyap. Hanya suara guguran daun yang diserak angina tau cericit burung yang sesekali terdengar. Kuletakkan bunga krisan putih di atas pusara puteri kecilku. Lalu buket bunga krisan kuning di sebelahnya, tepat di peristirahatan istriku yang abadi.

“Hari ini langit cerah. Apa dari sana kalian juga bisa lihat? Coba tebak, apa yang lebih cepat, pesawat atau angin?” aku bicara sendiri. Ah, bukan. Aku mengajak mereka berdua bicara.

Ini menyenangkan saat aku berada di tengah-tengah mereka berdua. Angin berdesir perlahan. Menerbangkan dedaun kering lalu terlepas dari ranting. Mereka berjatuhan menyentuh tanah berdebu. Aku terpekur diam. Membayangkan, andai saja takdir baik berpihak pada kami. Alangkah bahagianya aku.

***

Aku mengaguminya di antara gugusan awan, di antara deru mesin pesawat yang membawa kami terbang. Lalu tepat saat kami tersadar, kami sama-sama jatuh dalam cinta yang indah. Cinta yang membawa warna bagi hidup kami, hingga suatu hari, demi sebuah cinta pula kebahagiaan itu tidak lagi ada. Namun padanya, aku tetap bangga. Perempuan yang memahat kenangan kami melalui mata yang teduh dan tenang di balik kacamata yang menghiasi wajahnya. Benar, aku masih mencintainya. Hingga saat aku menuliskan ini.

            Batam, suatu ketika…

            Arham.

            1 Mei di tahun itu,

            Café berornamen kayu dengan hiasan pohon palm buatan di sudut-sudutnya terlihat ramai siang itu. Café ini letaknya tepat di samping drop point menuju pintu masuk bandara. Dari tempatku duduk di bagian sudut ruangan café, aku bisa melihat orang-orang yang menaiki eskalator menuju terminal keberangkatan. Jam yang melingkari pergelangan tanganku menunjukkan pukul satu lewat. Aku menyibukkan diri dengan ipad yang kuletakkan di meja. Membaca berita politik yang menjemukan, headline berita politik semakin hari semakin terasa seperti api yang siap memanggang kubu yang berseberangan dengan si narasumber berita.

            Kuperbaiki letak kacamata sambil menyesap kopi krimer yang sudah mendingin. Mataku baru saja akan kembali menatap layar ipad yang sesaat lalu padam, saat tiba-tiba waktu seperti bergerak lamban. Aku melihat gadis tinggi semampai dengan kulit cokelat terang dan rambut hitam panjang. Sebelah lengannya menyandang tas warna merah muda terang, sebelah tangannya lagi menarik koper hitam. Ia duduk tepat di depanku.

Benar. Seperti sebuah tayangan dalam gerak lamban. suara hingar-bingar di sekitar kami pun seperti menghilang. Seperti hanya ada aku dan dia. Sebelum duduk, ia merapikan blazer coklat muda yang melekat membentuk lekukan bagian atas tubuhnya. Ia juga memakai kacamata, sama sepertiku. Bingkai kacamata berwarna marun yang cukup tebal. Dia duduk, pelayan menghampiri untuk mencatat pesanannya. Aku masih menatap dia satu meter lebih dari belakang punggungnya.

Aku bisa mendengar suaranya. Aku suka cara dia berbicara pada pelayan. Suka caranya mengucapkan terimakasih. Suaranya lembut, tenang dan terkesan…manis. Gadis itu memesan greentea ice shake. Aku bisa melihat pelayan mengantarkan pesanan itu untuknya. Dia menyesap minumnya, merapikan helaian rambutnya lalu menyapukan matanya mengelilingi ruangan café, dan…dia menoleh ke belakang. Tatapan kami bertemu. Aku tersenyum, ingin mengucapkan kata ‘hai’, tapi satu patah kata itupun seperti tertelan kembali di kerongkonganku.

Ia kembali menghadap ke depan. Sama sekali tidak membalas senyumku. Gadis itu terlihat sangat acuh dan menghindari tatapanku. Ah, sialnya. Tapi aku tidak lantas bosan memandangi punggungnya dari belakang. Kututup ipad dan menyimpannya ke dalam tas ransel. Di mejaku hanya tersisa cangkir kopi yang isinya sudah tidak bersisa, vas bunga kecil dan tanganku yang bertumpu menopang dagu. Lima menit, sepuluh menit, gadis itu terlihat sibuk dengan ponselnya, lima belas menit, dua puluh menit. Ah, dia memanggil pelayan, close bill dan beranjak dari tempat duduknya. Kulirik kembali jam tangan. Sial! Aku terlalu terpesona pada gadis itu sampai hampir mengabaikan waktu cek in. segera kuraih tas ransel dan menuju meja kasir.

Konter cek in nomer empat dari kiri menunjukkan nomer penerbangan yang akan membawaku pulang menuju Batam. Di bawahnya tertampil juga jam keberangkatan. Aku berdiri tepat di depan konter, menyerahkan tiket dan kartu identitasku. Sambil menunggu, kuedarkan pandanganku ke arah kiri. DEG! Detak jantungku seperti dipaksa berhenti. Aku menahan napas dengan gugup. Baiklah, aku bukan lagi laki-laki belasan tahun, bukan? Tapi hanya dengan melihat sosoknya, darahku seperti berdesir berkali-kali mengalirkan energi listrik yang membuat dadaku berdentam tidak beraturan. Rasanya mirip seperti…jatuh cinta.

“Ke Batam juga?” akhirnya aku memberanikan diri membuka percakapan saat dia menatap ke arahku.

Dia memalingkan pandangannya. Kembali berbicara dengan petugas konter cek in dengan suaranya yang lembut. Sial! Lagi-lagi dia mengabaikan sapaanku. Dia itu tidak bisa mendengar atau apa. Atau apa mungkin aku tidak terlihat olehnya? Gadis aneh. Aku manapaki tangga menuju ruang tunggu, sesekali masih kuperhatikan ia yang berjalan di belakangku dengan tangan dan mata yang terfokus pada ponselnya. Masih sangat penasaran, tapi cukup kecewa dengan sikap angkuhnya padaku. Hanya padaku, tidak pada pelayan café, tidak pada petugas di konter cek in.

Untuk beberapa saat aku kehilangan sosoknya. Dia entah duduk di sebelah mana di ruang tunggu. Baik, aku menutup rasa penasaran dan memperingatkan diri endiri untuk tidak gegabah, memupuk rasa penasaran pada gadis yang ditemui di bandara. Yang benar saja. Entah barangkali dia sudah punya kekasih, atau bahkan dia adalah istri orang. Ya Tuhan. Berkali-kali aku menggelengkan kepala melenyapkan bayangan dia beberapa saat lalu.

Tiba waktu boarding, aku menunggu antrian masuk ke dalam pesawat. Malas berdesakan, aku memilih berdiri dengan santai di bagian belakang antrian sampai tiba giliranku. Aku menaiki undakan tangga, masuk ke kabin pesawat dan mencari tempat dudukku. Seat 4C. bangku di sebelahku kosong, dan tebak siapa yang duduk di seat 4A? dia. Gadis itu. Dia tengah melempar pandangannya lepas ke jendela. Aku tidak yakin dia sedang melihat sesuatu, tidak jelas. Matanya terlindungi oleh kacamata hitam pekat, matanya sama sekali tidak terlihat. Ia telah mengganti kacamata marunnya.

“Hai,” sapaku hati-hati. Ia menoleh dan tersenyum. “Ketemu lagi ya, mau ke Batam?” lanjutku. Lalu aku menutup mata menahan malu setengah mati. Ini pesawat, bukan kopaja. Tentu saja tujuannya ke Batam karena penerbangan ini memang menuju Batam.

“Surabaya,” jawabnya. Baik, lagi-lagi pikiranku salah. Nyatanya dia bukan akan ke Batam. Tapi hanya transit di Batam.

Mendadak semua terasa rumit. Aku ingin mengobrol dengannya, tapi semua kalimat urutannya terasa tidak jelas dan aku kesulitan menyusunnya untuk kuutarakan padanya. Sementara dia kembali melemparkan pandangannya jauh ke luar jendela. Pesawat yang kami tumpangi lepas landas. Suara mesinnya menderu-deru, udara di dalam kabin juga terasa semakin dingin. Seat di tengah-tengah kami masih kosong. Suatu kebetulan yang sebenarnya memang aku inginkan.

Aku terpikir sesuatu dan langsung mencari posisi yang nyaman untuk memulai obrolan dengannya. “Ganti kacamata, ya?” tanyaku. Dia menatap ke arahku, tersenyum dan mengangguk. “Kacamata yang tadi, bagus. Cocok sama bentuk wajah kamu,” lanjutku.

Senyumnya semakin lebar. “Makasih,” jawabnya.

Sial! Hanya itu jawaban yang ia punya? Sementara aku kembali kehabisan kata-kata.

“Tapi…agak sedikit kelebaran. Jadi, kesannya wajah kamu juga…hm, lebar.” Aku berusaha memancing raksinya.

Aku sempat melihat ia mengerucutkan bibir. Lalu kembali tersenyum. “Masa, sih?” wajahnya ramah, namun dari nada suaranya terdengar ia seperti tidak rela saat aku menyebut wajahnya terlihat lebar. Ini lucu sekali.

“Iya. Apa merk kacamatanya?”

Ia menjawab. Aku kembali bertanya apa keperluannya ke Surabaya. Ia menjawab. Ia balik bertanya tujuanku. Obrolan pun berjalan dua arah. Senang sekali rasanya bisa mengobrol dengan gadis unik ini. hingga empat puluh lima menit berlalu, pesawat kami mendarat. Kami berjalan ke luar kabin pesawat, ia berjalan tepat di belakangku.

Dalam perjalanan masuk ke terminal bandara, kami kembali mengobrol. Dia menarik jaketku tepat di bagian lengan. “Hm, maaf…boleh tau nama Abang?”

Aku berhenti melangkah dan seperti tersadar akan sesuatu hal. Lalu kami sama-sama tertawa ringan. Empat puluh lima menit mengobrol dengannya, tapi namanya pun aku belum tau.

“Arham. Panggil aku Kak Arham,” jawabku. “Kamu?”

Dia mengulurkan tangannya. Ah, benar. Bodoh sekali aku. Bukankah adab berkenalan itu saling menjabat tangan?

“Mervi.”

Kami kembali berjalan bersisihan masuk ke gedung terminal bandara. Aku melirik ke arahnya, rambutnya terkibas dipermainkan angin, menampakkan lehernya yang jenjang dan menguarkan aroma parfumnya yang segar. tidak lama, kami berhenti di depan dua papan petunjuk yang menuju arah berbeda. Papan petunjuk tempat pengambilan bagasi dan papan petunjuk untuk penumpang transit. Baik, kami harus mengambil jalan berpisah.

“Boleh minta kontak Kak Arham?”

Waktu seperti terhenti saat aku mendengar pertanyaan itu meluncur dari bibir merah mudanya. Apa dia sedang merasakan sesuatu yang sama seperti apa yang aku rasakan? Kami bertukar nomer kontak dan berpisah di sana.

***

1 Mei setahun berikutnya,

Dia berjalan pelan menghampiriku. Lalu dengan hati-hati dia duduk di samping kiriku di bantu dua orang yang memegangi ujung gaunnya. Prosesi suci itu dimulai. Aku mengucap ikrar janji di saksikan puluhan keluarga, kerabat dan sahabat yang ikut berbahagia. Dia mencium punggung tanganku, aku balas mencium keningnya yang terbalut hiasan kepala. Dia manis sekali. Matanya berkaca-kaca, rona haru dan bahagia jelas sekali tergambar di wajahnya, di wajah kami. Tidak butuh waktu lama. Hanya setahun dan kami sudah bersama dalam ikatan cinta yang sempurna.

Agustus di tahun berjalan,

Guguran daun memenuhi jalan setapak yang lengang. Aku baru saja keluar dari toko bunga. Tanganku memegang satu buket bunga krisan kuning dengan pita merah dan setangkai krian putih dengan pita putih pula. Langkahku tidak pernah ringan setiap kali menyambangi tempat itu. Tapi ini demi mereka yang aku cintai. Mereka yang aku cintai dengan cinta yang teramat dalam.

“Selamat ulang tahun, puteri Ayah,” ucapku lirih.

Hening. Senyap. Hanya suara guguran daun yang diserak angina tau cericit burung yang sesekali terdengar. Kuletakkan bunga krisan putih di atas pusara puteri kecilku. Lalu buket bunga krisan kuning di sebelahnya, tepat di peristirahatan istriku yang abadi.

“Hari ini langit cerah. Apa dari sana kalian juga bisa lihat? Coba tebak, apa yang lebih cepat, pesawat atau angin?” aku bicara sendiri. Ah, bukan. Aku mengajak mereka berdua bicara.

Ini menyenangkan saat aku berada di tengah-tengah mereka berdua. Angin berdesir perlahan. Menerbangkan dedaun kering lalu terlepas dari ranting. Mereka berjatuhan menyentuh tanah berdebu. Aku terpekur diam. Membayangkan, andai saja takdir baik berpihak pada kami. Alangkah bahagianya aku.

***

Aku mengaguminya di antara gugusan awan, di antara deru mesin pesawat yang membawa kami terbang. Lalu tepat saat kami tersadar, kami sama-sama jatuh dalam cinta yang indah. Cinta yang membawa warna bagi hidup kami, hingga suatu hari, demi sebuah cinta pula kebahagiaan itu tidak lagi ada. Namun padanya, aku tetap bangga. Perempuan yang memahat kenangan kami melalui mata yang teduh dan tenang di balik kacamata yang menghiasi wajahnya. Benar, aku masih mencintainya. Hingga saat aku menuliskan ini.

            Batam, suatu ketika…

            Arham.

            1 Mei di tahun itu,

            Café berornamen kayu dengan hiasan pohon palm buatan di sudut-sudutnya terlihat ramai siang itu. Café ini letaknya tepat di samping drop point menuju pintu masuk bandara. Dari tempatku duduk di bagian sudut ruangan café, aku bisa melihat orang-orang yang menaiki eskalator menuju terminal keberangkatan. Jam yang melingkari pergelangan tanganku menunjukkan pukul satu lewat. Aku menyibukkan diri dengan ipad yang kuletakkan di meja. Membaca berita politik yang menjemukan, headline berita politik semakin hari semakin terasa seperti api yang siap memanggang kubu yang berseberangan dengan si narasumber berita.

            Kuperbaiki letak kacamata sambil menyesap kopi krimer yang sudah mendingin. Mataku baru saja akan kembali menatap layar ipad yang sesaat lalu padam, saat tiba-tiba waktu seperti bergerak lamban. Aku melihat gadis tinggi semampai dengan kulit cokelat terang dan rambut hitam panjang. Sebelah lengannya menyandang tas warna merah muda terang, sebelah tangannya lagi menarik koper hitam. Ia duduk tepat di depanku.

Benar. Seperti sebuah tayangan dalam gerak lamban. suara hingar-bingar di sekitar kami pun seperti menghilang. Seperti hanya ada aku dan dia. Sebelum duduk, ia merapikan blazer coklat muda yang melekat membentuk lekukan bagian atas tubuhnya. Ia juga memakai kacamata, sama sepertiku. Bingkai kacamata berwarna marun yang cukup tebal. Dia duduk, pelayan menghampiri untuk mencatat pesanannya. Aku masih menatap dia satu meter lebih dari belakang punggungnya.

Aku bisa mendengar suaranya. Aku suka cara dia berbicara pada pelayan. Suka caranya mengucapkan terimakasih. Suaranya lembut, tenang dan terkesan…manis. Gadis itu memesan greentea ice shake. Aku bisa melihat pelayan mengantarkan pesanan itu untuknya. Dia menyesap minumnya, merapikan helaian rambutnya lalu menyapukan matanya mengelilingi ruangan café, dan…dia menoleh ke belakang. Tatapan kami bertemu. Aku tersenyum, ingin mengucapkan kata ‘hai’, tapi satu patah kata itupun seperti tertelan kembali di kerongkonganku.

Ia kembali menghadap ke depan. Sama sekali tidak membalas senyumku. Gadis itu terlihat sangat acuh dan menghindari tatapanku. Ah, sialnya. Tapi aku tidak lantas bosan memandangi punggungnya dari belakang. Kututup ipad dan menyimpannya ke dalam tas ransel. Di mejaku hanya tersisa cangkir kopi yang isinya sudah tidak bersisa, vas bunga kecil dan tanganku yang bertumpu menopang dagu. Lima menit, sepuluh menit, gadis itu terlihat sibuk dengan ponselnya, lima belas menit, dua puluh menit. Ah, dia memanggil pelayan, close bill dan beranjak dari tempat duduknya. Kulirik kembali jam tangan. Sial! Aku terlalu terpesona pada gadis itu sampai hampir mengabaikan waktu cek in. segera kuraih tas ransel dan menuju meja kasir.

Konter cek in nomer empat dari kiri menunjukkan nomer penerbangan yang akan membawaku pulang menuju Batam. Di bawahnya tertampil juga jam keberangkatan. Aku berdiri tepat di depan konter, menyerahkan tiket dan kartu identitasku. Sambil menunggu, kuedarkan pandanganku ke arah kiri. DEG! Detak jantungku seperti dipaksa berhenti. Aku menahan napas dengan gugup. Baiklah, aku bukan lagi laki-laki belasan tahun, bukan? Tapi hanya dengan melihat sosoknya, darahku seperti berdesir berkali-kali mengalirkan energi listrik yang membuat dadaku berdentam tidak beraturan. Rasanya mirip seperti…jatuh cinta.

“Ke Batam juga?” akhirnya aku memberanikan diri membuka percakapan saat dia menatap ke arahku.

Dia memalingkan pandangannya. Kembali berbicara dengan petugas konter cek in dengan suaranya yang lembut. Sial! Lagi-lagi dia mengabaikan sapaanku. Dia itu tidak bisa mendengar atau apa. Atau apa mungkin aku tidak terlihat olehnya? Gadis aneh. Aku manapaki tangga menuju ruang tunggu, sesekali masih kuperhatikan ia yang berjalan di belakangku dengan tangan dan mata yang terfokus pada ponselnya. Masih sangat penasaran, tapi cukup kecewa dengan sikap angkuhnya padaku. Hanya padaku, tidak pada pelayan café, tidak pada petugas di konter cek in.

Untuk beberapa saat aku kehilangan sosoknya. Dia entah duduk di sebelah mana di ruang tunggu. Baik, aku menutup rasa penasaran dan memperingatkan diri endiri untuk tidak gegabah, memupuk rasa penasaran pada gadis yang ditemui di bandara. Yang benar saja. Entah barangkali dia sudah punya kekasih, atau bahkan dia adalah istri orang. Ya Tuhan. Berkali-kali aku menggelengkan kepala melenyapkan bayangan dia beberapa saat lalu.

Tiba waktu boarding, aku menunggu antrian masuk ke dalam pesawat. Malas berdesakan, aku memilih berdiri dengan santai di bagian belakang antrian sampai tiba giliranku. Aku menaiki undakan tangga, masuk ke kabin pesawat dan mencari tempat dudukku. Seat 4C. bangku di sebelahku kosong, dan tebak siapa yang duduk di seat 4A? dia. Gadis itu. Dia tengah melempar pandangannya lepas ke jendela. Aku tidak yakin dia sedang melihat sesuatu, tidak jelas. Matanya terlindungi oleh kacamata hitam pekat, matanya sama sekali tidak terlihat. Ia telah mengganti kacamata marunnya.

“Hai,” sapaku hati-hati. Ia menoleh dan tersenyum. “Ketemu lagi ya, mau ke Batam?” lanjutku. Lalu aku menutup mata menahan malu setengah mati. Ini pesawat, bukan kopaja. Tentu saja tujuannya ke Batam karena penerbangan ini memang menuju Batam.

“Surabaya,” jawabnya. Baik, lagi-lagi pikiranku salah. Nyatanya dia bukan akan ke Batam. Tapi hanya transit di Batam.

Mendadak semua terasa rumit. Aku ingin mengobrol dengannya, tapi semua kalimat urutannya terasa tidak jelas dan aku kesulitan menyusunnya untuk kuutarakan padanya. Sementara dia kembali melemparkan pandangannya jauh ke luar jendela. Pesawat yang kami tumpangi lepas landas. Suara mesinnya menderu-deru, udara di dalam kabin juga terasa semakin dingin. Seat di tengah-tengah kami masih kosong. Suatu kebetulan yang sebenarnya memang aku inginkan.

Aku terpikir sesuatu dan langsung mencari posisi yang nyaman untuk memulai obrolan dengannya. “Ganti kacamata, ya?” tanyaku. Dia menatap ke arahku, tersenyum dan mengangguk. “Kacamata yang tadi, bagus. Cocok sama bentuk wajah kamu,” lanjutku.

Senyumnya semakin lebar. “Makasih,” jawabnya.

Sial! Hanya itu jawaban yang ia punya? Sementara aku kembali kehabisan kata-kata.

“Tapi…agak sedikit kelebaran. Jadi, kesannya wajah kamu juga…hm, lebar.” Aku berusaha memancing raksinya.

Aku sempat melihat ia mengerucutkan bibir. Lalu kembali tersenyum. “Masa, sih?” wajahnya ramah, namun dari nada suaranya terdengar ia seperti tidak rela saat aku menyebut wajahnya terlihat lebar. Ini lucu sekali.

“Iya. Apa merk kacamatanya?”

Ia menjawab. Aku kembali bertanya apa keperluannya ke Surabaya. Ia menjawab. Ia balik bertanya tujuanku. Obrolan pun berjalan dua arah. Senang sekali rasanya bisa mengobrol dengan gadis unik ini. hingga empat puluh lima menit berlalu, pesawat kami mendarat. Kami berjalan ke luar kabin pesawat, ia berjalan tepat di belakangku.

Dalam perjalanan masuk ke terminal bandara, kami kembali mengobrol. Dia menarik jaketku tepat di bagian lengan. “Hm, maaf…boleh tau nama Abang?”

Aku berhenti melangkah dan seperti tersadar akan sesuatu hal. Lalu kami sama-sama tertawa ringan. Empat puluh lima menit mengobrol dengannya, tapi namanya pun aku belum tau.

“Arham. Panggil aku Kak Arham,” jawabku. “Kamu?”

Dia mengulurkan tangannya. Ah, benar. Bodoh sekali aku. Bukankah adab berkenalan itu saling menjabat tangan?

“Mervi.”

Kami kembali berjalan bersisihan masuk ke gedung terminal bandara. Aku melirik ke arahnya, rambutnya terkibas dipermainkan angin, menampakkan lehernya yang jenjang dan menguarkan aroma parfumnya yang segar. tidak lama, kami berhenti di depan dua papan petunjuk yang menuju arah berbeda. Papan petunjuk tempat pengambilan bagasi dan papan petunjuk untuk penumpang transit. Baik, kami harus mengambil jalan berpisah.

“Boleh minta kontak Kak Arham?”

Waktu seperti terhenti saat aku mendengar pertanyaan itu meluncur dari bibir merah mudanya. Apa dia sedang merasakan sesuatu yang sama seperti apa yang aku rasakan? Kami bertukar nomer kontak dan berpisah di sana.

***

1 Mei setahun berikutnya,

Dia berjalan pelan menghampiriku. Lalu dengan hati-hati dia duduk di samping kiriku di bantu dua orang yang memegangi ujung gaunnya. Prosesi suci itu dimulai. Aku mengucap ikrar janji di saksikan puluhan keluarga, kerabat dan sahabat yang ikut berbahagia. Dia mencium punggung tanganku, aku balas mencium keningnya yang terbalut hiasan kepala. Dia manis sekali. Matanya berkaca-kaca, rona haru dan bahagia jelas sekali tergambar di wajahnya, di wajah kami. Tidak butuh waktu lama. Hanya setahun dan kami sudah bersama dalam ikatan cinta yang sempurna.

Agustus di tahun berjalan,

Guguran daun memenuhi jalan setapak yang lengang. Aku baru saja keluar dari toko bunga. Tanganku memegang satu buket bunga krisan kuning dengan pita merah dan setangkai krian putih dengan pita putih pula. Langkahku tidak pernah ringan setiap kali menyambangi tempat itu. Tapi ini demi mereka yang aku cintai. Mereka yang aku cintai dengan cinta yang teramat dalam.

“Selamat ulang tahun, puteri Ayah,” ucapku lirih.

Hening. Senyap. Hanya suara guguran daun yang diserak angina tau cericit burung yang sesekali terdengar. Kuletakkan bunga krisan putih di atas pusara puteri kecilku. Lalu buket bunga krisan kuning di sebelahnya, tepat di peristirahatan istriku yang abadi.

“Hari ini langit cerah. Apa dari sana kalian juga bisa lihat? Coba tebak, apa yang lebih cepat, pesawat atau angin?” aku bicara sendiri. Ah, bukan. Aku mengajak mereka berdua bicara.

Ini menyenangkan saat aku berada di tengah-tengah mereka berdua. Angin berdesir perlahan. Menerbangkan dedaun kering lalu terlepas dari ranting. Mereka berjatuhan menyentuh tanah berdebu. Aku terpekur diam. Membayangkan, andai saja takdir baik berpihak pada kami. Alangkah bahagianya aku.

***

Aku mengaguminya di antara gugusan awan, di antara deru mesin pesawat yang membawa kami terbang. Lalu tepat saat kami tersadar, kami sama-sama jatuh dalam cinta yang indah. Cinta yang membawa warna bagi hidup kami, hingga suatu hari, demi sebuah cinta pula kebahagiaan itu tidak lagi ada. Namun padanya, aku tetap bangga. Perempuan yang memahat kenangan kami melalui mata yang teduh dan tenang di balik kacamata yang menghiasi wajahnya. Benar, aku masih mencintainya. Hingga saat aku menuliskan ini.

            Batam, suatu ketika…

            Arham.

            1 Mei di tahun itu,

            Café berornamen kayu dengan hiasan pohon palm buatan di sudut-sudutnya terlihat ramai siang itu. Café ini letaknya tepat di samping drop point menuju pintu masuk bandara. Dari tempatku duduk di bagian sudut ruangan café, aku bisa melihat orang-orang yang menaiki eskalator menuju terminal keberangkatan. Jam yang melingkari pergelangan tanganku menunjukkan pukul satu lewat. Aku menyibukkan diri dengan ipad yang kuletakkan di meja. Membaca berita politik yang menjemukan, headline berita politik semakin hari semakin terasa seperti api yang siap memanggang kubu yang berseberangan dengan si narasumber berita.

            Kuperbaiki letak kacamata sambil menyesap kopi krimer yang sudah mendingin. Mataku baru saja akan kembali menatap layar ipad yang sesaat lalu padam, saat tiba-tiba waktu seperti bergerak lamban. Aku melihat gadis tinggi semampai dengan kulit cokelat terang dan rambut hitam panjang. Sebelah lengannya menyandang tas warna merah muda terang, sebelah tangannya lagi menarik koper hitam. Ia duduk tepat di depanku.

Benar. Seperti sebuah tayangan dalam gerak lamban. suara hingar-bingar di sekitar kami pun seperti menghilang. Seperti hanya ada aku dan dia. Sebelum duduk, ia merapikan blazer coklat muda yang melekat membentuk lekukan bagian atas tubuhnya. Ia juga memakai kacamata, sama sepertiku. Bingkai kacamata berwarna marun yang cukup tebal. Dia duduk, pelayan menghampiri untuk mencatat pesanannya. Aku masih menatap dia satu meter lebih dari belakang punggungnya.

Aku bisa mendengar suaranya. Aku suka cara dia berbicara pada pelayan. Suka caranya mengucapkan terimakasih. Suaranya lembut, tenang dan terkesan…manis. Gadis itu memesan greentea ice shake. Aku bisa melihat pelayan mengantarkan pesanan itu untuknya. Dia menyesap minumnya, merapikan helaian rambutnya lalu menyapukan matanya mengelilingi ruangan café, dan…dia menoleh ke belakang. Tatapan kami bertemu. Aku tersenyum, ingin mengucapkan kata ‘hai’, tapi satu patah kata itupun seperti tertelan kembali di kerongkonganku.

Ia kembali menghadap ke depan. Sama sekali tidak membalas senyumku. Gadis itu terlihat sangat acuh dan menghindari tatapanku. Ah, sialnya. Tapi aku tidak lantas bosan memandangi punggungnya dari belakang. Kututup ipad dan menyimpannya ke dalam tas ransel. Di mejaku hanya tersisa cangkir kopi yang isinya sudah tidak bersisa, vas bunga kecil dan tanganku yang bertumpu menopang dagu. Lima menit, sepuluh menit, gadis itu terlihat sibuk dengan ponselnya, lima belas menit, dua puluh menit. Ah, dia memanggil pelayan, close bill dan beranjak dari tempat duduknya. Kulirik kembali jam tangan. Sial! Aku terlalu terpesona pada gadis itu sampai hampir mengabaikan waktu cek in. segera kuraih tas ransel dan menuju meja kasir.

Konter cek in nomer empat dari kiri menunjukkan nomer penerbangan yang akan membawaku pulang menuju Batam. Di bawahnya tertampil juga jam keberangkatan. Aku berdiri tepat di depan konter, menyerahkan tiket dan kartu identitasku. Sambil menunggu, kuedarkan pandanganku ke arah kiri. DEG! Detak jantungku seperti dipaksa berhenti. Aku menahan napas dengan gugup. Baiklah, aku bukan lagi laki-laki belasan tahun, bukan? Tapi hanya dengan melihat sosoknya, darahku seperti berdesir berkali-kali mengalirkan energi listrik yang membuat dadaku berdentam tidak beraturan. Rasanya mirip seperti…jatuh cinta.

“Ke Batam juga?” akhirnya aku memberanikan diri membuka percakapan saat dia menatap ke arahku.

Dia memalingkan pandangannya. Kembali berbicara dengan petugas konter cek in dengan suaranya yang lembut. Sial! Lagi-lagi dia mengabaikan sapaanku. Dia itu tidak bisa mendengar atau apa. Atau apa mungkin aku tidak terlihat olehnya? Gadis aneh. Aku manapaki tangga menuju ruang tunggu, sesekali masih kuperhatikan ia yang berjalan di belakangku dengan tangan dan mata yang terfokus pada ponselnya. Masih sangat penasaran, tapi cukup kecewa dengan sikap angkuhnya padaku. Hanya padaku, tidak pada pelayan café, tidak pada petugas di konter cek in.

Untuk beberapa saat aku kehilangan sosoknya. Dia entah duduk di sebelah mana di ruang tunggu. Baik, aku menutup rasa penasaran dan memperingatkan diri endiri untuk tidak gegabah, memupuk rasa penasaran pada gadis yang ditemui di bandara. Yang benar saja. Entah barangkali dia sudah punya kekasih, atau bahkan dia adalah istri orang. Ya Tuhan. Berkali-kali aku menggelengkan kepala melenyapkan bayangan dia beberapa saat lalu.

Tiba waktu boarding, aku menunggu antrian masuk ke dalam pesawat. Malas berdesakan, aku memilih berdiri dengan santai di bagian belakang antrian sampai tiba giliranku. Aku menaiki undakan tangga, masuk ke kabin pesawat dan mencari tempat dudukku. Seat 4C. bangku di sebelahku kosong, dan tebak siapa yang duduk di seat 4A? dia. Gadis itu. Dia tengah melempar pandangannya lepas ke jendela. Aku tidak yakin dia sedang melihat sesuatu, tidak jelas. Matanya terlindungi oleh kacamata hitam pekat, matanya sama sekali tidak terlihat. Ia telah mengganti kacamata marunnya.

“Hai,” sapaku hati-hati. Ia menoleh dan tersenyum. “Ketemu lagi ya, mau ke Batam?” lanjutku. Lalu aku menutup mata menahan malu setengah mati. Ini pesawat, bukan kopaja. Tentu saja tujuannya ke Batam karena penerbangan ini memang menuju Batam.

“Surabaya,” jawabnya. Baik, lagi-lagi pikiranku salah. Nyatanya dia bukan akan ke Batam. Tapi hanya transit di Batam.

Mendadak semua terasa rumit. Aku ingin mengobrol dengannya, tapi semua kalimat urutannya terasa tidak jelas dan aku kesulitan menyusunnya untuk kuutarakan padanya. Sementara dia kembali melemparkan pandangannya jauh ke luar jendela. Pesawat yang kami tumpangi lepas landas. Suara mesinnya menderu-deru, udara di dalam kabin juga terasa semakin dingin. Seat di tengah-tengah kami masih kosong. Suatu kebetulan yang sebenarnya memang aku inginkan.

Aku terpikir sesuatu dan langsung mencari posisi yang nyaman untuk memulai obrolan dengannya. “Ganti kacamata, ya?” tanyaku. Dia menatap ke arahku, tersenyum dan mengangguk. “Kacamata yang tadi, bagus. Cocok sama bentuk wajah kamu,” lanjutku.

Senyumnya semakin lebar. “Makasih,” jawabnya.

Sial! Hanya itu jawaban yang ia punya? Sementara aku kembali kehabisan kata-kata.

“Tapi…agak sedikit kelebaran. Jadi, kesannya wajah kamu juga…hm, lebar.” Aku berusaha memancing raksinya.

Aku sempat melihat ia mengerucutkan bibir. Lalu kembali tersenyum. “Masa, sih?” wajahnya ramah, namun dari nada suaranya terdengar ia seperti tidak rela saat aku menyebut wajahnya terlihat lebar. Ini lucu sekali.

“Iya. Apa merk kacamatanya?”

Ia menjawab. Aku kembali bertanya apa keperluannya ke Surabaya. Ia menjawab. Ia balik bertanya tujuanku. Obrolan pun berjalan dua arah. Senang sekali rasanya bisa mengobrol dengan gadis unik ini. hingga empat puluh lima menit berlalu, pesawat kami mendarat. Kami berjalan ke luar kabin pesawat, ia berjalan tepat di belakangku.

Dalam perjalanan masuk ke terminal bandara, kami kembali mengobrol. Dia menarik jaketku tepat di bagian lengan. “Hm, maaf…boleh tau nama Abang?”

Aku berhenti melangkah dan seperti tersadar akan sesuatu hal. Lalu kami sama-sama tertawa ringan. Empat puluh lima menit mengobrol dengannya, tapi namanya pun aku belum tau.

“Arham. Panggil aku Kak Arham,” jawabku. “Kamu?”

Dia mengulurkan tangannya. Ah, benar. Bodoh sekali aku. Bukankah adab berkenalan itu saling menjabat tangan?

“Mervi.”

Kami kembali berjalan bersisihan masuk ke gedung terminal bandara. Aku melirik ke arahnya, rambutnya terkibas dipermainkan angin, menampakkan lehernya yang jenjang dan menguarkan aroma parfumnya yang segar. tidak lama, kami berhenti di depan dua papan petunjuk yang menuju arah berbeda. Papan petunjuk tempat pengambilan bagasi dan papan petunjuk untuk penumpang transit. Baik, kami harus mengambil jalan berpisah.

“Boleh minta kontak Kak Arham?”

Waktu seperti terhenti saat aku mendengar pertanyaan itu meluncur dari bibir merah mudanya. Apa dia sedang merasakan sesuatu yang sama seperti apa yang aku rasakan? Kami bertukar nomer kontak dan berpisah di sana.

***

1 Mei setahun berikutnya,

Dia berjalan pelan menghampiriku. Lalu dengan hati-hati dia duduk di samping kiriku di bantu dua orang yang memegangi ujung gaunnya. Prosesi suci itu dimulai. Aku mengucap ikrar janji di saksikan puluhan keluarga, kerabat dan sahabat yang ikut berbahagia. Dia mencium punggung tanganku, aku balas mencium keningnya yang terbalut hiasan kepala. Dia manis sekali. Matanya berkaca-kaca, rona haru dan bahagia jelas sekali tergambar di wajahnya, di wajah kami. Tidak butuh waktu lama. Hanya setahun dan kami sudah bersama dalam ikatan cinta yang sempurna.

Agustus di tahun berjalan,

Guguran daun memenuhi jalan setapak yang lengang. Aku baru saja keluar dari toko bunga. Tanganku memegang satu buket bunga krisan kuning dengan pita merah dan setangkai krian putih dengan pita putih pula. Langkahku tidak pernah ringan setiap kali menyambangi tempat itu. Tapi ini demi mereka yang aku cintai. Mereka yang aku cintai dengan cinta yang teramat dalam.

“Selamat ulang tahun, puteri Ayah,” ucapku lirih.

Hening. Senyap. Hanya suara guguran daun yang diserak angina tau cericit burung yang sesekali terdengar. Kuletakkan bunga krisan putih di atas pusara puteri kecilku. Lalu buket bunga krisan kuning di sebelahnya, tepat di peristirahatan istriku yang abadi.

“Hari ini langit cerah. Apa dari sana kalian juga bisa lihat? Coba tebak, apa yang lebih cepat, pesawat atau angin?” aku bicara sendiri. Ah, bukan. Aku mengajak mereka berdua bicara.

Ini menyenangkan saat aku berada di tengah-tengah mereka berdua. Angin berdesir perlahan. Menerbangkan dedaun kering lalu terlepas dari ranting. Mereka berjatuhan menyentuh tanah berdebu. Aku terpekur diam. Membayangkan, andai saja takdir baik berpihak pada kami. Alangkah bahagianya aku.

***

Facebook Comments