Paris, Je T’aime

0
158

RIANA GREY

            “Aku sudah berjanji pada daun yang menguning dan terserak bergugur, selama namamu terpahat di sini, di hatiku, aku merasa tidak perlu risau. Hanya menunggumu saja, kamu pasti akan kembali. Ini janji tentang setiaku, janji di bawah langit kota Paris pada musim gugur bertahun-tahun lalu.”

            Syal hitam yang melingkar di leherku melambai diterpa sepoi angin Concorde. Senja masih terlalu dini, riak kecil sungai Seine di bawah tempatku berdiri juga masih memantulkan semburat biru langit yang perlahan ditempa cahaya keemasan. Pilar-pilar di ujung jembatan Concorde berdiri kokoh, mengingatkanku tentang sosok yang selalu menjaga, melindungi, menciptakan rasa aman dan membawa kesan nyaman di setiap waktu yang kulalui bersamanya dulu. Sebuah ketenangan di belahan kota Paris yang pernah aku rasakan bersamanya.

            Ini bukan kali pertama dia memintaku untuk menunggu. Belasan tahun lalu, dia sering memintaku untuk menunggunya di taman saat usiaku baru sepuluh tahun dan ia sudah beranjak menjadi pemuda delapan belas tahun yang menawan. Dia juga berkali-kali memintaku untuk menunggunya sepulang les piano dan membawaku berjalan-jalan keluar dan masuk dari satu toko kue ke toko lainnya. Benar, belasan tahun lalu dia sering memintaku untuk menunggunya, hingga tepatnya empat belas tahun lalu dia juga memintaku menunggu, tepat di sini, di atas jembatan Concorde, di antara kisah kami yang kmudian terhalang oleh jarak ribuan mil jauhnya.

            Dia kembali ke Indonesia bersama kedua orangtuanya. Aku, tidak punya pilihan selain melanjutkan hidup dan masih tetap menunggunya hingga seminggu lalu, dia mengirimiku pesan singkat. Sebuah berita yang membuat duniaku kembali berwarna. Ya, pemuda yang dulu kusebut sebagai cinta pertama, Diaz namanya. Keluargaku dan keluarganya menjalin hubungan baik karena kami sesame warga Indonesia yang menetap di Perancis. Dia teman kecilku, aku tumbuh bersamanya hingga ia beranjak remaja. Lalu diam-diam perasaanku padanya tumbuh sebagai rasa suka yang tidak biasa, meskipun saat itu usiaku baru sepuluh tahun. Dulu, di sini kami biasa menikmati senja, menanti Eiffel menyala jingga.

            ‘Kamu belum berubah kan, Emma? Masih peri kecil dengan dua pita merah muda di rambutmu, kan?’

Begitu bunyi pesan singkatnya yang membuatku tersenyum geli mengingat kebiasaan mama memakaikan dua pita merah muda di rambutku saat aku masih kanak-kanak dulu. Hari ini dia sampai di Paris, dan sore ini pula, kami membuat janji untuk bertemu di atas jembatan Concorde yang banyak mengabadikan kisah masa kecil kami. Aku penasaran sekali, akan seperti apa jadinya pertemuan kami nanti. Empat belas tahun, akankah semuanya masih sama? Apakah dia masih Diaz yang berlarian mengejar aku yang kegelian dengan tingkah jahilnya? Telapak tanganku mendingin dan berkeringat, ini hanya pertemuan dengan sahabat kecil, tapi mengapa rasanya begitu menegangkan?

Dulu, aku masih Emma dengan dua pita merah muda yang mengikat rambut seperti ekor kuda, sweater tebal kotak-kotak (yang hanya dikenakan bila musim dingin) dan rok sebatas lutut yang mengembang dengan gulali di tangan. Gulali yang dibelikan Diaz di minimarket dekat rumah sebelum mengajakku jalan-jalan menyusuri jajaran taman dari sore hingga petang. Lalu saat kembali ke rumah, mama akan marah karena kami keluar rumah terlalu lama. Saat itu Diaz akan berlutut dan mencium tangan mama sperti pangeran yang tengah menyambut tuan puterinya, maka mama akan luluh. Lalu kami menikmati makan malam bersama. diaz dengan segala pesona remajanya saat itu mampu meluluhkan hati siapa saja, tidak terkecuali hatiku.

Apa sekarang dia masih sama manisnya seperti dulu? Atau dia tumbuh sebagai lelaki dewasa yang gemar mempermainkan hati perempuan seperti yang selalu aku takutkan? Ada banyak sekali kemungkinan, terlebih kami tidak menjalin komunikasi selama empat belas tahun ini, hanya seminggu terakhir mama mengabarkan kalau Diaz akan datang. Dan sejak saat itu kami kembali bercerita banyak hal lewat pesan singkat. Akan tetapi ada satu hal yang hingga saat ini belum berani aku tanyakan, apakah dia masih sendiri? Takut sekali rasanya jika harus menerima kenyataan bahwa harapanku akan diambil alih oleh kenyataan.

“After fifteen years, finally…we meet again.”

Suara berat dan dalam tepat di belakang tengkukku. Pelan-pelan aku membalikkan tubuh dan siap menghambur memeluknya. Tetapi tubuhku member respon lain, aku terpaku. Tertegun. Terpesona. Atau apalah itu namanya.

“Ralat. Empat belas tahun,” ucapku. Hanya kalimat itu yang bisa terucap.

Melihat aku yang hanya diam, Diaz membenamkan wajahku di dadanya. Napasku menderu menghirup aroma parfumnya yang maskulin. Rahangnya yang ditumbuhi cambang tepat berada di sisi rambutku yang tergerai.

“My pink ribbon princess…”

Diaz melepaskan pelukannya, tangan kami masih bertaut. Kami memperbaiki posisi berdiri dan menghadap lepas pada Eiffel yang tinggi menjulang di hadapan. Aku kehilangan kata-kata. Diaz-ku yang dulu remaja, tumbuh menjadi lelaki dewasa dengan dada bidang dan lengan yang membuatku ingin bergelanyut di sana lebih lama. Rambutnya yang agak memanjang diikat ke belakang. Kulitnya coklat matahari menambah kesan maskulin dan matang dalam dirinya.

“Empat belas tahun nggak ketemu, cuma gini sambutannya?” Diaz menatapku dengan mata almonnya yang kecoklatan, pandangan yang seketika membuat aku lupa bernapas.

“Hm, here we are. The same place as last fourteen years.”

Langit kota berubah jingga. Sepoi angin pelan-pelan membelai sisi pipiku yang sepertinya merona menahan gugup berada di dekatnya. Diaz. Cinta pertamaku yang tidak pernah sekalipun tergantikan meski empat belas tahun sudah berlalu.

“Kapan kamu menikah? Mamamu bilang, kamu akan menikah.” Sontak mataku terbelalak mendengar ucapannya.

“Menikah? Aku? Dengan siapa? Aku nggak….

“Ssssttt,” Diaz berbalik menghadapku dan mengatupkan telunjuknya pada bibirku. “Nggak usah histeris begitu, dong. Kan cuma becanda,” lanjutnya. Lalu aku memasang wajah manyun dan Diaz mengacak-acak ujung kepalaku.

“Dan kamu, kenapa belum menikah? Usiamu sudah lebih dari tiga puluh tahun.” Spontan saja pertanyaan itu terlontar. Ada kedamaian masa kecil yang pelan-pelan mulai terasa kembali di antara kami.

“Aku memang akan menikah, Emm,” ucapnya. Diaz membuang pandangannya jauh ke puncak Eiffel. Langit kota mulai gelap, dan aku ternganga mendengar ucapannya. Seperti tiba-tiba da benteng yang menghalangi kami. Dia tepat di depanku, tapi mendadak terasa begitu jauh dan aku tidak bisa lagi merengkuhnya.

“Oh, selamat…”

Ada yang bergemuruh di sisi hatiku, berdentam seperti akan meledak saat itu juga. Empat belas tahun. Bodoh sekali rasanya, berharap pada akhirnya dia akan bersamaku.

“Dan itu alasan aku datang ke sini.”

Diaz menatap ke arahku. Aku menyibukkan diri dengan menyibak rambut, memperbaiki letak syal, menyapu debu pada kedua lengan baju. Menyibukkan diri menatap ke segala arah agar Diaz tidak menemukan air mataku yang barangkali menggenang di sudut kelopak mata.

“Turut berbahagia. Dia gadis yang sangat beruntung.” Aku melempar senyum masam pada Diaz yang tersenyum penuh arti padaku. Menampakkan mata cokelatnya yang samar di bawah temaram lampu.

“Iya. Dia…gadis kecil yang periang yang menggenggam permen cokelat sambil berlarian. Memakan berpiring-piring kue cokelat dan menyukai lollipop.” Mendadak jantungku seperti terhenti. Lalu berdetak lebih kencang dari biasanya. “Yes, Emma… that’s you. Would you marry me, Emm?” lanjutnya. Dia berlutuk di hadapanku sambil memegang dan mencium kedua punggung tanganku seperti yang dulu sering ia lakukan pada mama. Air mataku luruh. Aku menangis haru. Di antara senja di bawah langit yang beranjak petang, di atas jembatan Concorde, disaksikan kemilau jingga dari Eiffel yang menyala, cinta masa kecilku terbalas.

Langit kota Paris tersenyum menaungi sejoli yang tengah menumpahkan cintanya yang menjadi-jadi. Sungai Seine mengalunkan nada yang tenang dan dalam, jembatan Concorde menjadi saksi sejarah terindah yang terpahat di setiap sisinya, mengiringi sepasang anak manusia yang dewasa dan menua bersama. Di bawah langit Paris, mereka jatuh cinta.

***

Facebook Comments