Forbidden…..

0
128

“Kau masih menyimpannya?”

RIANA GREY

Suara gadis itu terdengar lembut mengalun di antara pekikan cenggeret dan gesekan angin pada dedaun. Suara yang serupa pertanyaan, namun diutarakan dengan nada datar. Ia terkesima pada apa yang tergenggam di tangan lelaki di hadapannya. Sebuah ikat rambut ulir berwarna hitam. Seketika dadanya menghangat menyadari betapa lelaki tersebut begitu menghargai satu benda miliknya yang pernah dipinjam suatu ketika dulu.

“Ya, masih kusimpan.” Suaranya terdengar datar seperti biasa.

Lelaki yang menambatkan prinsip hidupnya pada satu titik demi sebuah pembelajaran di masa lalu.

Gadis berambut panjang itu lagi-lagi merasakan dadanya menghangat. Rindunya meluap. Jemarinya gemetar karena benturan rasa yang tidak beraturan. Benarkah lelaki itu masih mencintainya? Atau hanya sekedar menghargai benda miliknya?

Dedaun kering terseok diterpa angin. Musim mongering di antara ranting trembesi yang rindu air. Suara cenggeret beradu hebat di antara gelap malam yang pekat. Berates-ratus malam, kisah itu terdampar menuntut kejelasan.

“Apa kau rindu hujan?” lelaki itu bertanya. Matanya lurus menatap ilalang yang melenggok anggun di hadapannya.

“Ya,” jawab Si Gadis sambil merapikan helaian rambutnya yang dipermainkan angin. “Sebanyak rinduku pada kisah kita yang belum usai,” lanjutnya.

Hening. Keduanya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing yang tidak pernah tenang. Di ujung pulau, di bagian sudut sebuah tempat yang berbatas antara musim, di tanah kering yang menguarkan aroma dedebu.

“Ketahuilah, aku pun sama rindunya dengan kisah kita dulu.”

Gadis berwajah bulat itu menatap lelaki di sisinya. Mencari-cari kelimat selanjutnya yang ingin ia dengar.

“Lalu?” tanyanya dengan tidak sabaran.

“Sadarkah, bahwa kita tidak pernah sejalan?”

Udara malam meliuk di antara pepohonan. Kerinduan tersemat di jantung yang berdegup tak beraturan. Rindu untuk pulang. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, meredakan sakit yang berdenyut nyeri di dalam hatinya. Ia baru tersadar, bahwa ratusan hari yang ia lewati untuk sebentuk kesetiaan pada lelaki itu berakhir sia-sia.

“Suatu hari, kau akan membutuhkanku. Dan jika saat itu tiba, aku tidak lagi ada.”

Ia beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi meninggalkan lelaki yang masih terpaku dalam diam. Gadis itu terus berjalan, menjumputi kenangan yang berserakan di sepanjang perjalanan menuju arah pulang. Kenangan yang pada akhirnya akan ia bungkus lalu ia buang.

***

Lara meletakkan novel tebal bersampul coklat kehitaman dengan gambar pohon trembesi dan daun berguguran itu di meja. Di sampingnya, Janu tidak melepaskan pandangan dari layar televisi. Tayangan sepak bola selalu mampu membuat Janu ‘mendua’. Ah, yang benar saja, bukankah duduk bersama Lara pun sama artinya dengan mendua?

Lara menumpukan lengannya di pundak Janu dengan degu bergelanyut manja di sana.

“Gimana ending novelnya?” Janu bertanya tanpa menoleh pada Lara.

“Hm, si perempuan pergi dan nyumpahin si laki-laki bahwa suatu hari si laki-laki pasti membutuhkan dia. Akhirnya ratusan hari penantian itu sia-sia. Kasihan.”

Lara mengotak-atik kutek kukunya yang hampir memudar. Mungkin besok ia akan menyempatkan diri memoles kuku lentik itu. Seminggu lebih menemani Janu membuatnya tidak sempat memperhatikan penampilannya sendiri.

“Apa si laki-laki nyuruh perempuan itu nunggu dia sampai beratus-ratus hari?”

Lara menggeleng pelan. Janu sedikit memutar wajahnya menghadap perempuan yang sepuluh tahun lebih muda darinya itu. “Terus ngapain dia nunggu? Kenapa nggak cari cinta yang lain?” tanya Janu dengan wajah optimis.

Mata Janu sudah kembali terfokus ke layar televisi. Sedangkan Lara menurunkan sudut  bibirnya yang tadi tersenyum tipis. Ucapan Janu barusan seperti menyadarkannya akan sesuatu hal.

“Apa itu seperti kita? Seperti aku yang masih nunggu Mas meskipun aku nggak tau apa akhir dari hubungan kita?” Lara menjauhkan lengannya dari pundak Janu, sementara lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke depan dan antusias menatap layar televisi. “Apa semua ini juga akan berakhir sia-sia? Mas…jawab aku…apa semua ini akan…”

“GOOOLLLLL!!!” Janu berteriak lantang sambil berdiri diiringi suara gemuruh teriakan yang sama di layar televisi. Perlahan ia kembali duduk dan menghadap pada Lara dengan wajah penuh kemenangan. Lara diam. Ia menahan diri agar tidak menciptakan genangan bening di matanya. “Kamu cantik, kamu cerdas. Kamu membuat hidupku berwarna. Kamu sosok yang sangat pengertian dan aku butuh kamu di sampingku,” ucap Janu sambil membelai rambut Lara.

Janu butuh Lara. Dan Lara mencintai Janu. Kisah yang tidak sesempurna apa yang kerap kali dibayangkan oleh Lara. Tidak akan pernah ada pangeran berkuda putih yang datang menjemputnya. Karena pangeran berkuda putih itu harus menjemput permaisurinya. Lalu bertukar kuda dan pakaian perang, meminta izin pada permaisurinya untuk pergi berperang, padahal ia mengendap-endap mencuri waktu untuk menemui perempuan lain. Itu Lara. Analogi yang sering terlintas di pikiran Lara.

Janu menangkupkan kedua telapak tanganya di pipi Lara, matanya menatap lurus ke mata coklat Lara yang perlahan terbuka. Janu paham dengan perasaan perempuan muda itu. Tapi ia terlanjur membawa Lara masuk terlalu dalam ke dunianya. Dan kini ia sendiri pun tidak ingin Lara pergi dari hidupnya.

“Ra, aku sayang kamu. Kamu membawa warna baru dalam hidup aku. Sesuatu yang nggak pernah aku dapatkan sebelumnya. Jangan buat ini jadi semakin rumit, Ra.” Janu berkata lirih. Suaranya membaur bersama dinginnya pendingin ruangan, menciptkan geletar pada diri Lara yang sulit sekali untuk ditahan. “Aku cinta kamu, Ra,” lanjut Janu dengan suara lebih lirih. Ia mendekatkan bibirnya pada bibir merah muda Lara. Lara memejamkan mata, merasakan aroma papermint yang menguar dari aroma napas Janu.

***

“Kamu pikir lagi deh, Ra. Dari sisi manapun apa yang kalian lakukan ini nggak ada nilai pembenarannya.” Natha mencondongkan tubuhnya ke arah sahabatnya. Keduanya baru saja membuka percakapan mengenai masalah pribadi Lara.

“Aku cinta dia, Tha.” Suara Lara terdengar samar di antara deru kendaraan yang lalu-lalang.

“Aku tau, Ra. Tapi kamu juga harus mengedepankan logika. Bayangin deh kalau pembaca kolom kamu tau tentang hal ini. Apa kata mereka, Ra?” Lara menatap layar laptopnya. Membaca baris demi baris telling story yang baru ditulisnya. Ada banyak kisah yang sudah ia dengar dan dia tuliskan seputar dunia perempuan dengan berbagai permasalahan yang kompleks. Sulit dipercaya bahwa pada akhirnya, justru dia terjebak dalam permasalahan yang membingungkan. “Seharusnya kamu bisa ambil pelajaran dari kisah-kisah yang pernah kamu tulis,” lanjut Natha.

“Dia itu laki-laki yang humble, Tha. Dia bisa bikin aku ketawa lepas. Dia asyik diajak diskusi. Dia punya wawasan yang luas, dia cerdas. Di mana lagi aku bisa nemuin laki-laki seperti dia?”

“Dan dia suami orang, Ra. Jangan pernah lupain itu.”

Hening. Lara tidak ingin membantah ucapan sahabatnya lagi. Karena pada kenyataannya, semua yang dikatakan Natha itu benar. Ia harus menggunakan logikanya, ia harus mengambil keputusan untuk mulai menjauh dari Janu, ia harus ingat bahwa Janu adalah laki-laki beristri.

“Dua tahun, Tha. Apa harus berakhir sia-sia?” Lara menatap sahabatnya dengan pandangan memelas.

“Terus kamu maunya berakhir seperti apa? Apa kamu berharap Janu menceraikan istrinya? Imposible, Ra. Istrinya perempuan baik, rumahtangga mereka berjalan dengan baik, Mas Janu punya anak. Ngarang aja kalau kamu berharap rumahtangga mereka bakal berakhir.” Natha menggunakan penekanan pada setiap kalimatnya. Ia selalu kehabisan akal setiap kali menasehati sahabat karibnya itu.

Lara tenggelam dalam pikirannya yang tidak menentu. Ia merasa tidak pernah siap untuk melepaskan lelaki yang ia kenal lebih dari dua tahun lalu itu. Baru kali ini Lara merasakan jatuh cinta yang indah pada sosok yang bisa membuatnya merasa nyaman dan membuatnya bahagia setiap waktu karena candaan spontan dari lelaki itu. Rumit memang. Sejak awal Lara tau bahwa Janu adalah lelaki beristri, tetapi bodohnya dia yang tidak berusaha untuk membuat benteng di antara mereka. Lara malah dengan sengaja menikmati kebersamaannya dengan Janu yang seringkali membuatnya lupa akan status Janu yang sebenarnya. Lara terdiam, ujung bibirnya tertarik ke atas, ia mengingat kembali awal-awal perkenalannya dengan Janu yang membuatnya terlena hingga detik ini.

***

Berawal dari suatu malam dua tahun lalu, sebuah perselingkuhan dimulai ketika Lara menekan tombol ‘Tambahkan Teman’ di laman sosial medianya. Benar bahwa tujuan awalnya adalah untuk kepentingan pekerjaan. akan tetapi ada kalanya logika dikalahkan oleh perasaan. Itu adalah saat di mana seorang perempuan muda diam-diam menyimpan rasa pada seorang lelaki beristri. Dan hal terburuk dari smua itu adalah ketika si laki-laki beristri merasa menemukan dunia baru, senuah keceriaan dan semangat muda di tengah-tengah kehidupan rumahtangganya yang dirasa datar dan monoton.

Hampir tengah malam. Lara masih mengotak-atik laman sosial media di ponselnya. Dua cangkir kopi yang sesaat lalu ia kandaskan sepertinya memberi efek sulit tidur yang luar biasa. Tring. Aplikasi messenger menampilkan notifikasi pesan masuk.

Janu Sadewa: Hai. Tinggal di mana?

Sebuah pesan singkat dari akun sosial media yang sesaat lalu di-add olehnya. Lara tersenyum simpul. Sengaja sesaat lalu ia mencoba terkonek dengan akun ini, tujuannya adalah mencari informasi seputar kepentingan pekerjaannya. Dari profil yang ditampilkan, pemilik akun ini bekerja di instansi yang terkait dengan narasumber yang Lara butuhkan. Cepat-cepat Lara membalas pesan itu.

Fathia Larasali         : Hai, saya tinggal di Pekanbaru.

Janu Sadewa           : Belum tidur? Salam kenal, ya…

Fathia Larasati         : Belum. Nggak bisa tidur, efek kopi.

Janu Sadewa           : Makanya kalau minum kopi secangkir aja. Nggak perlu segalon, apalagi ditelan sekalian galonnya.

Lara terkikik di antara temaram lampu kamarnya. Humoris. Itu kesan pertama yang ia tangkap dari sosok Janu. Sejenak Lara melupakan niat awalnya ingin terhubung dengan Janu. Ia asyik terbuai dalam candaan Janu. Dalam sekejap, percakapan keduanya berlangsung dengan akrab. Tidak ada rasa sungkan atau segan karena usia yang terpaut cukup jauh, atau karena keduanya baru sesaat lalu kenal melalui sosial media.

Bahkan tidak ada rasa sungkan meskipun Lara tau status Janu dari kronologi laman sosial media milik Janu. Laki-laki beristri yang tinggal jauh dari keluarganya karena tuntutan tugas. Tinggal sendiri dan berada satu kota dengan Lara. Memiliki seorang anak perempuan berusia lima tahun. Istrinya adalah perempuan cantik, manis, berhijab dan berprofesi sebagai dokter. Lara mengedikkan bahu tidak terlalu perduli dengan status hubungan Janu. Ia bertekat untuk menikmati saat-saat bersama Janu mulai malam itu, dan entah sampai kapan.

***

Janu duduk bersandar pada bantal-bantal yang ditumpuk di atas kasur. Layar televisi dikamarnya menyala tanpa benar-benar ia perhatikan. Sepi. Begitulah suasana rumahnya setiap kali Lara tidak menginap di sana. Karena itulah, Janu selalu menantikan kehadiran Lara untuk sekedar menemaninya makan malam dan makan siang, menemaninya beraktifitas di akhir pekan atau menginap di rumahnya seperti yang gadis itu lakukan selama satu minggu terakhir.

Kehadiran Lara mengisi hari-harinya selama dua tahun terakhir membuat Janu merasa dunianya berwarna. Keceriaan gadis itu, pembawaannya yang blak-blakan dan spontan, cerita-cerita gadis itu yang menandakan bahwa ia adalah gadis cerdas dan berwawasan luas serta memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Janu lupa, sejak kapan tepatnya ia mengagumi Lara, saat ia sadar, ia telah membawa gadis itu terlalu jauh dalam hubungan yang tidak semestinya. Ia membutuhkan Lara, ia membutuhkan kehadiran gadis itu untuk menepis kesepiannya dan memenuhi kebutuhan biologisnya tentu saja.

Janu pernah merasakan jatuh cinta yang sama sekitar delapan tahun yang lalu. Jatuh cinta pada Mira. Perempuan yang sekarang menjadi istrinya. Ibu dari anaknya. Tetapi jatuh cinta pada Lara, rasanya beda. Lebih mendebarkan, lebih hidup. Rasa cinta yang membuatnya tidak kuasa untuk menghindari gadis dua puluh enam tahun itu. Janu ingat pertama kali ia terkesima pada gadis itu. Bukan saat pertemuan pertama, melainkan lewat sapaan di sosial media.

Malam itu Janu menemukan notifikasi permintaan pertemanan di laman sosial medianya. Ia menekan tombol ‘terima’ lalu mulai membaca profilnya. Fathia Larasati, 26 tahun, penulis dan kolumnis, tinggal di kota yang sama dengan tempatnya tugas saat ini. mata Janu menyusuri foto profil gadis itu, senyum yang tertampil pada foto profil itu begitu manis. Mata gadis itu menyorotkan keramahan dan keceriaan. Wajah bulat dengan lesung pipi tipis di bagian bawah sudut kanan bibirnya.

Jiwa lelakinya tergerak untuk menyapa, dan gayung pun bersambut. Benar dugaan Janu. Lara adalah gadis ramah yang humoris dan ceria.

Janu Sadewa           : Belum tidur? Salam kenal, ya…

Fathia Larasati         : Belum. Nggak bisa tidur, efek kopi.

Janu Sadewa           : Makanya kalau minum kopi secangkir aja. Nggak perlu segalon, apalagi ditelan sekalian galonnya.

Fathia Larasati          : Hahaha…Mas sendiri, kenapa belum tidur?

Janu Sadewa            : Baru sampai bandara. Jemput atasanku dari Jakarta, besok ada acara di sini.

Fathia Larasati            : Jemput Pak Handoko?

Janu mengernyitkan dahi. Dari mana gadis ini tau nama pimpinan tertinggi instansi tempatnya bertugas. Gadis cerdas. Itu penilaian pertama Janu terhadap sosok Lara. Tapi sayang sekali tebakan Lara meleset.

Janu Sadewa               : Bukan, di bawah Pak Handoko.

Fathia Larasati              : Sepatu?

Janu tergelak membaca balasan pesan dari Lara. Kelucuan yang spontan dan sama sekali tidak dibuat-buat. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah yang masih menyisakan tawa, kemudian membalas pesan Lara dengan candaan serupa.

Janu Sadewa               :  Ubin.

Fathia Larasati              : Keset dulu dong.

Janu kembali tergelak. Kali ini lebih keras. Ia tidak ingat kapan terakhir kali bercanda seperti ini. Kesehariannya hanya seputar pekerjaan yang berlangsung dengan serius, di luar itu, hanya dia dan rumahnya yang selalu lengang. Barangkali sejak malam itu ia mulai tertarik pada sosok Lara. Lalu mereka membuat janji temu di suatu tempat pada suatu malam, dari sana kisah yang salah itu berlanjut.

***

            “Aku minta tolong, Ra, mulai besok sampai pertengahan Januari jangan hubungi aku dulu, ya. Kamu ngerti kan, sayang?” terdengar nada permohonan dari suara Janu di seberang telepon.

            Lara menarik napas berat dan mengangguk. Libur sekolah tiba, istri dan anak Janu akan datang ke kota itu seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan Lara harus merelakan dirinya tersisih dari kebahagiaan Janu yang sebenarnya. Entah apa kali ini Lara sanggup menahan diri untuk tidak menghubungi atau menemui laki-laki itu. Segalanya tampak semakin rumit bagi Lara.

            “Mundur, Ra. Semakin lama kamu bertahan, akan semakin sakit pada akhirnya.” Natha masih saja menasehati. Dan itu membuat pikiran Lara semakin kalut.

            Dua tahun, apa yang telah ia lakukan selama itu? Mencintai seseorang yang telah terikat kontrak seumur hidup dengan perempuan lain. Lalu merasa menemukan kebahagiaan dari posisinya yang tidak menguntungkan itu? Pernahkah sekali saja Lara mencoba bertanya pada Janu, siapa yang lebih diinginkan oleh lelaki itu. Lara, atau istrinya? Tidak. Lara tidak pernah meminta Janu untuk memilih. Karena Lara sendiri tidak ingin kebahagiaan rumahtangga Janu hancur gara-gara dirinya. Lalu apa artinya keberadaan Lara?

            Suatu malam di pertengahan Desember, hujan baru saja berhenti. Lara mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan kota yang basah. Tepat seminggu setelah Janu memintanya untuk menahan komunikasi. Lara menyadari ada yang kurang setiap kali ia melewatkan hari tanpa kehadiran Janu. Waktu bergulir, tanpa sadar Lara baru saja memarkirkan mobilnya di depan pagar sebuah rumah. Ia hapal betul rumah itu. Ia sering menginap di sana untuk beberapa saat lamanya.

            Lara menegakkan tubuhnya. Otaknya berusaha berpikir sesuatu. Berkhayal apa sepanjang perjalanan tadi, sampai-sampai ia mengarahkan kemudi mobilnya ke rumah itu. Rumah yang tidak seharusnya ia kunjungi untuk saat ini.

            “Papa! Ada tamu kayaknya!”

            Lara tersentak. Suara anak perempuan itu membuyarkan pikirannya yang sempat melayang. Janu keluar dari dalam rumah dan menatap ke arah mobil Lara yang terparkir di luar pagar dengan tatapan cemas dan tidak percaya. Lara terpaku di balik kemudi melihat Janu yang tergesa-gesa menghampiri mobilnya. Apa yang harus dilakukannya? Menyalakan mesin mobil, berlalu pergi secepat yang ia bisa? Atau apa?

            Tok! Tok!

            Lara kembali tersentak. Ia menurunkan kaca mobil dan mendapati wajah Janu tepat berada di depannya.

            “Ngapain kamu ke sini, Ra? Aku kan udah bilang…”

            “Siapa, Pa?!” Terdengar suara perempuan melontarkan pertanyaan dari dalam rumah. “Teman Papa, ya? Disuruh masuk, dong,” lanjut suara itu masih dari dalam rumah.

            Untuk beberapa saat lamanya Janu dan Lara saling melempar pandang. Kentara sekali mimik panik dari raut keduanya.

            “Kamu udah gila ya, Ra? Aku udah kasih tau, kenapa kamu nekat?” suara Janu disertai penekanan yang dalam.

            Lara terperanjay mendengar ucapan Janu. Gila? Nekat? Benar. Tapi bukan saat ini, melainkan sejak dua tahun yang lalu. Lara pasti sudah gila.

            “Temannya kok nggak diajak masuk, Pa?” Lara dan Janu kompak memandang ke sumber suara. Sosok perempuan berhijab, berkulit putih bersih dengan berat badan kira-kira satu setengah kali lipat disbanding berat badan Lara, tengah berdiri di samping Janu. Bibir tipisnya yang dibingkai pipi tembam mengembangkan senyum. Seketika Lara lupa caranya bernapas.

            Hening. Ketiganya saling pandang bergantian. Perempuan di samping Janu itu…senyum tulusnya. Ah, seketika Lara merasakan hatinya seperti terkoyak, tercabik tidak beraturan. Andai saja perempuan itu tau, bahwa sosok yang disuguhi senyum ramah itu adalah orang yang menggenggam tangan suaminya, dibelai dengan sepenuh hasrat oleh suaminya, bahkan tidur dengan suaminya pada malam-malam tertentu saat ia berada jauh dari suaminya. Masihkah perempuan itu bersedia memberi senyum tulus untuk Lara?

            Lara menarik napas panjang. Sementara Janu mematung kaku menunggu apa yang akan diutarakan oleh Lara.

            “Makasih, Mbak. Saya cuma kebetulan lewat. Maaf saya buru-buru. Saya permisi.” Lara melemparkan senyum yang ia buat semanis mungkin pada perempuan itu. Perempuan itu membalas senyumnya dan melambaikan tangan saat mobil Lara meninggalkan jalanan di depan pagar rumah. Akhirnya Janu bisa membuang napas lega saat melihat mobil itu menghilang di tikungan jalan.

            ***

            “Sepertinya ini cukup, Mas?”

            “Ya?” Janu menoleh ke arah Lara yang tengah menarikan jarinya di atas tuts keyboard.

            “Ini, artikel yang aku buat. Sepertinya cukup. Coba deh baca.”

            Janu mencondongkan tubuhnya pada layar laptop Lara. Membaca paragraf demi paragraf tulisan yang tertera di sana.

            “Iya, ini cukup bagus,” ucap Janu. Matanya menatap pada Lara dengan setengah hati. Ada dilema yang menghantuinya sejak beberapa waktu lalu.

            “Mas kenapa lihatin aku kayak gitu?” Lara memalingkan layar laptopnya dan menatap lurus pada Janu. “Ada yang Mas pikirkan?” lanjut Lara sambil menangkupkan tangannya di atas tangan Janu.

            “Tentang kita, Ra. Maaf karena aku membawa kamu sejauh ini.” Suara Janu lirih dan terdengar tanpa semangat.

            Lara menarik napas panjang untuk mengisi paru-parunya yang mendadak terasa sesak. Sesaat ia memejamkan mata dan berusaha berpikir sesuatu. “Salahku, Mas,” ucap Lara dengan optimis.

            “Aku. Aku harus memperbaiki semuanya, Ra.”

            Lara kembali memejamkan matanya. Baik, sebentar lagi ia akan dibuang, namanya dicoret dari daftar tokoh dalam kisah cinta segitiga yang selama ini dilakoninya.

            “Ya…” satu patah kata yang terdengar seperti pertanyaan. Namun diutarakan dengan nada datar oleh Lara.

            “Aku akan ceraikan istriku.”

            DEG!

            Lara memejamkan matanya dengan erat. Air mata meluncur membasahi pipinya. Hatinya remuk redam dan teriris perlahan. Dalam pikirannya, wajah anak perempuan berumur lima tahun dan senyum perempuan pertengahan tiga puluhan silih berganti berputar-putar. Membayangkan senyum itu memudar, membayangkan wajah polos gadis kecil itu tertunduk dalam kesedihan. Benar, Lara juga perempuan. Dan ia bukan monster yang menghabisi hidup sesamanya.

            Lara mendekatkan tubuhnya pada Janu, meraih tubuh itu dan merapatkannya dalam dekapan.

            “Aku yang mundur, Mas.” Lara berkata lirih di sisi leher Janu. Ia menghela napas dalam, dihirupnya aroma maskulin yang menguar di sekitaran leher Janu. Diresapinya aroma itu dalam-dalam di pikirannya. “Udah saatnya kesalahan ini diakhiri,” lanjutnya. Hangat napasnya menjalari leher Janu. Lelaki itu terdiam dan memejamkan mata. Merasakan sapuan bibir Lara mengitari Lehernya. Ini untuk yang terakhir kalinya.(Riana Grey)

            *** end

Facebook Comments