Casablanca, Je Suis La

0
167

RIANA GREY

Angin mempermainkan helaian jilbab biru muda Anna, sementara mata gadis itu sesekali menyapu sepanjang bibir pantai. Bulir-bulir bening mengalir deras dari mata almondnya. Ia membiarkan saja, tidak berusaha menyeka atau menenangkan dirinya agar tidak terisak semakin dalam di antara tangis yang tak beraturan. Biarkan saja. Bukankah ini lebih baik, dari pada menyimpan lukanya di dalam hati dan menguburnya bersama diri sendiri. Lebih baik air mata itu keluar bersama sakit yang siap menguap memenuhi udara kering beriklim Mediterania di tempatnya berdiri saat ini.

            Di belakang Anna, pilar-pilar menjulang tinggi membentengi lorong-lorong dengan ornamen ukiran khas Persia. Beberapa waktu lalu, kumandang adzan menggema dari menara yang letaknya tidak jauh dari bibir pantai. Benar, bangunan masjid termasyhur di Negara ini di bangun dengan salah satu sisinya tepat menghadap pantai. Dan di sanalah Anna berdiri sekarang. Di salah satu sudut terluar bangunan masjid, menumpahkan segala lukanya, sisa-sisa amarah dan kecewa yang sesaat lalu sudah ia keluhkan pada Sang Maha Kuasa.

            Ini siang terakhir bagi Anna untuk berada di salah satu sudut kota di Negeri Magribi yang dahulu selalu ia kagumi dan ia bangga-banggakan. Esok saat matahari beranjak tinggi, Anna sudah harus berada di Bandara Sultan Mohammed V untuk kemudian terbang kembali ke Surabaya melalui Tripoli dan Doha. Ada perasaan nyeri di dadanya menakala menyadari inilah kali terakhir ia menjejakkan kaki di Kota Casablanca. Benar. Baginya tidak ada satupun alasan lagi untuk kembali ke sini. Segala sesuatu dengan label bahagia sudah lenyap dari tanah ini.

            Usai merampungkan studynya di salah satu universitas tertua di Kota Rabat, ibu kota Negara Maroko tepatnya setahun lalu, Anna kembali ke Indonesia untuk menyambangi orangtua dan keluarganya. Rencana semula ia hanya akan berada di Indonesia selama sebulan saja, tetapi di luar perkiraan, panggilan mengajar dari sebuah pesantren ternama di Jawa Timur datang padanya. Anna tak kuasa menolak, ayah dan ibunya mendukung Anna untuk berkarir di Indonesia. Niat kembali ke Maroko pun urung dilakukan.

            Sementara jauh di seberang benua, seorang laki-laki usia awal tiga puluhan, terlalu enggan untuk menanti kekasihnya kembali. Ia memilih diam-diam melerai hubungan asmara indahnya dengan perempuan Indonesia itu dan menambatkan hatinya pada perempuan berhidung tinggi dengan mata sendu bernama Waffa.

            Tepat satu tahun sekembalinya Anna ke Indonesia, datang sekotak paket yang di alamatkan padanya. Dari Aadnane, laki-laki yang saat itu ia pikir masih kekasihnya. Isinya selembar tiket dan sebuah takchita hitam yang anggun dan indah. Bertabur bebatuan druzzy dan swarovsky yang gemerlap. Anna ternganga, bertahun menjalin hubungan dengan lelaki Maroko bercambang tipis itu, berulang kali Anna ingin sekali membeli takchita, tapi selalu dilarang oleh Aadnane.

            “Nanti, ada saatnya aku membelikan sebuah takchita untukmu.” Selalu begitu ucap Aadnane setiap kali Anna berniat untuk membeli satu di antara sekian banyak takchita yang terpajang anggun di toko pakaian.

            Pernah suatu ketika, keduanya sedang berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan di tengah Kota Casablanca, tidak jauh dari kantor Aadnane di bilangan Jama’ Sounna. Saat itu Anna menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah butik ternama yang memajang takchita dari berbagai bahan dan warna. Tangan Anna menelusuri sepanjang kaca pembatas, ingin sekali ia masuk ke sana dan mencoba salah satunya. Tapi belum juga kesampaian. Hingga beberapa hari lalu, Anna membuka isi paket itu dan menemukan kejutan indah di dalamnya.

            Hari itu, segera Anna mencoba mengenakan takchita hitam itu di tubuhnya. Pas sekali. Potongan rampingnya sangat cocok dengan tubuh Anna yang tinggi. Anna mematut dirinya di cermin sambil tersipu malu, membayangkan takchita itu akan ia pakai di acara makan malam formal, lalu setelahnya Aadnane akan berlutut dan meminta Anna untuk menjadi istrinya. Manis sekali. Tetapi benar, yang demikian itu hanya ada di dalam khayalan. Sulit sekali terjadi sekalipun hanya dalam mimpi.

            Kemarin Anna kembali menginjakkan kaki di Kota Cassablanca. Aadnane menjemputnya di bandara. Begitu mencapai pintu keluar bandara, Aadnane menyambutnya dengan sebuah pelukan. Semua berjalan mulus dan terlihat baik-baik saja. Hingga tepatnya tadi malam, di sebuah café di salah satu sudut Kota Casablanca… Anna tau betul café itu, dulu saat ia masih tinggal di Rabat, ia kerap menempuh perjalanan dengan kereta selama satu jam untuk mencapai Stasiun Voyegeurs di pusat Kota Casablanca, lalu Aadnane akan mengajaknya ke sana. Mereka akan menghabiskan makan malam bersama di dalam café yang mengalunkan instrument lagu-lagu Persia.

Di salah satu sudut café tersebut terdapat piano tua, sangat tua. Piano yang juga dipakai sebagai property pembuatan film lama berjudul Casablanca. Film yang mengisahkan tentang perjalanan cinta Rick dan Ilsa Lund. Malam itu, wajah Aadnane terlihat berbeda, ia lebih banyak diam. Nampak jelas ketegangan dari sorot matanya yang biasanya tenang. Seusai menikmati couscous dan beberapa hidangan lainnya, Aadnane menggenggam jemarin Anna begitu lama. Tidak ada kata-kata yang terucap, meskipun kerinduan di hati Anna semakin menghentak-hentak.

“Aku akan menikah, Anna,” ucap Aadnane dengan perlahan.

Saat itu Anna menyernyitkan dahi. Ia berharap saat itu telinganya salah menangkap nada suara Aadnane, atau ia berharap bahwa telinganya melewatkan beberapa kata yang seharusnya ada untuk melengkapi kalimat ‘aku akan menikah’. Nyatanya sia-sia.

“Ya?” satu kata yang berhasil keluar dari bibir Anna saat itu lebih mengarah pada nada pertanyaan yang dalam.

Hening sejenak. Aadnane menaikkan dagunya yangs ejak tadi menatapi meja.

“Aku akan menikah. Aku menemukan gadis lain. Maafkan aku karena tidak tau bagaimana cara memberitahumu.”

Rasanya saat itu Anna ingin sekali melayangkan piring ke wajah Aadnane, atau menusukkan garpu tepat di ujung hidungnya, atau menyayat wajah itu dengan pisau steak, atau memecahkan botol wine untuk kemudian menikamkan pecahannya tepat di dada Aadnane. Atau apapun yang membuat amarahnya terlampiaskan. Tapi nyatanya, Anna hanya diam. Terpaku di tempatnya duduk. ia seperti kehilangan separuh nyawa dan segenggam keyakinan hidup yang selalu ia jaga.

***

Siang bergulir menuju senja. Anna beranjak dari tempatnya, melangkah ke tepian jalan lalu menghentikan taksi. Beberapa menit kemudian, taksi berbelok menuju pelataran bangunan hotel. anna keluar dari dalam taksi setalah memberikan beberapa lembar dinar kepada sang supir. Doorman hotel dengan sopan menyambutnya. Anna memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Berat. Tetapi ada beban yang berkurang di dalam dadanya saat kedua bibirnya tertarik naik. Seperti perasaan lega yang menguar dengan tiba-tiba.

Waktu beranjak cepat, senja menghilang di ujung laut yang tenang. Anna sudah berada di pintu masuk ballroom sebuah hotel yang terlihat mewah dengan pencahayaan yang elegan. Karpet merah dibentang di sepanjang lantai, permadani berhiaskan ukir-ukiran indah dipajang di beberapa sudut dinding ruangan. Piring-piring berisi aneka makanan di tata di meja-meja. Para tamu yang kebanyakan berwajah khas Arab tengah berbincang-bincang mencipta suara gaduh tersendiri. Tamu perempuan yang kesemuanya tampak anggun dalam balutan takchita dalam berbagai warna, motif dan hiasan. Tamu laki-laki mengenakan setelan jas yang rapi.

Tepat beberapa meter di depan Anna berdiri, Aadnane sedang berbicara dengan seorang tamu yang baru saja menyalaminya. Di sampingnya berdiri seorang perempuan tinggi, berkulit putih pucat dengan mata sayu dan hidung tinggi mencuat. Gadis itu mengenakan takchita berwarna putih bersih dengan taburan bebatuan kristal yang berkilauan. Anna merasa suasana di sekelilingnya hening ketika tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Aadnane yang dulunya terasa begitu hangat. Keduanya larut dalam keheningan masing-masing. Hening yang teramat panjang. Hening yang membungkamkan tutur sapa keduanya.

Anna berusaha sekuat tenaga menarik dirinya dari pusara jurang yang nyaris menenggelamkannya. Perlahan Anna tersenyum dan menghampiri mempelai bahagia itu lalu mengucapkan selamat pada keduanya. Anna tersenyum. Benar. Senyum yang membuatnyaterlihat tegar, senyum yang memberi kekuatan baru baginya untuk melanjutkan hidup dan menerima kenyataan yang disuguhkan oleh Aadnane di depan matanya.

***

 

Facebook Comments