Gebyar Seni Budaya 20 Reog Ponorogo Jatim Di Desa Bulu, Kel.Lontar Sambikerep

0
727
SONY DSC

Surabaya. Gebyar Seni Budaya Reog Ponorogo Jatim dan Atraksi Langka di  Lapangan Desa Bulu Kelurahan Lontar Kecamatan Sambikerep Surabaya, tepatnya RW 04 Desa Bulu Kelurahan Lontar Kecamatan Sambikerep Surabaya.

Reog merupakan kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya.

Palang pintu Kota Ponorogo dihiasi sosok warok dan juga gemblak, Reog adalah salah satu budaya indonesia yang berbau mistik dan ilmu kebatinan, ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal usul Reog dan Warok , namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa  Kertabhumi ( Raja Majapahit yang berkuasa pada abad ke-15).

Dalam pertunjukan Reog dalam bentuk kepala singa yang dikenal sebagai “SINGO BARONG” (Raja Hutan), yang menjadi simbol untuk Kerta bumi (Raja Mojopahit), dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan rekannya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singo barong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya.

Reog Ponorogo adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun di tengah perjalanan  dihadang oleh Raja Singo barong dari Kediri. Pasukan Raja Singa barong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Patihnya Bujang Anom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam yang mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan kerasukan.

Gebyar Budaya 20 Reog Ponorogo di lapangan Desa Bulu Kelurahan Lontar Kecamatan Sambikerep Surabaya kamis 25/08/16.

SONY DSC
SONY DSC

Warga desa bulu dan sekitarnya memang sudah tak asing lagi dengan budaya reog ponorogo ini. Namun ada yang sudah melihat secara langsung, ada pula yang baru melihat reog di media elektronik dan media lainnya.

Untuk itu kesenian Reog ini di gelar, agar supaya muda mudi penerus bangsa ini tidak lupa apa yang namanya kesenian Reog, karena Reog ini merupakan kesenian dan juga sejarah, kata ketua RW 04 desa Bulu yaitu H.Shoki.

Adapun harapan saya semoga kesenian – kesenian seperti Reog tidak bisa puna, tetap ada penerusnya,karena kita wajib memelihara semua budaya yang ada di indonesia, sambungnya.

Warga yang berbondong-bondong ke tempat digelarnya reog nampak begitu semangat untuk menyaksikan gebyar 20 reog dan atraksinya. Jalan menuju lapangan Bulu siang itu sangat ramai, para calon penonton Reog Ponorogo menitipkan kendaraannya, dan mereka langsung menuju loket penjualan tiket masuk/karcis karena Gebyar Reog Ponorogo tidak bisa dinikmati secara gratis. Adapun harga tiket masuknya yakni untuk Orang Dewasa+satu anak Rp 10.000,00.

Menurut salah satu penonton saat di temui media Brata pos mengatakan seluruh warga sekitar sangat senang sekali atas hadirnya gebyar Reog di wilaya desa Bulu ini karena selain terhibur dengan atraksi – atraksinya dan juga kita dapat mengenalkan budaya terhadap anak – anak kita mas, katanya.

Sudah menjadi kewajiban kita untuk merawat dan melestarikan budaya yang ada di indonesia, imbunya.

Nilai budaya indonesia merupakan nilai keberadapan bangsa indonesia. (Bnd)

Facebook Comments