Kajian Tentang Perilaku Seks Menyimpang

0
447

BRATAPOS. Akhir-akhir ini LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) menjadi sorotan publik. Masyarakat, terutama orang-orang yang meyakini LGBT adalah sesuatu yang tidak benar seolah kebakaran jenggot, baik itu karena menyudutkan menyalahkan atau berusaha mencari solusi untuk orang-orang yang ‘merasa’ dirinya bagian dari LGBT. Lantas, pertanyaan mendasarnya adalah, apakah LGBT adalah sebuah kelainan? Ataukah keturunan/gen? Ataukah sesuatu yang normal?

Sampai saat ini masalah seksualitas selalu menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Hal ini dimungkinkan karena permasalahan seksual telah menjadi suatu hal yang sangat melekat pada diri manusia. Seksualitas tidak bisa dihindari oleh makhluk hidup, karena dengan seks makhluk hidup dapat terus bertahan menjaga kelestarian keturunannya.

Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah  seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis.  Padahal pada masa  informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai diberikan, agar remaja tidak mencari informasi dari orang lain atau dari sumber-sumber yang tidak jelas atau bahkan keliru sama sekali.

Pandangan Psikologi tentang penyimpangan seks dari Sigmund Freud tentang Teori insting seksual popular memiliki kaitan yang sangat erat dengan kisah puitik seputar pemisahan umat manusia dalam dua bagian – pria dan wanita – yang melalui cinta berjuang untuk kembali menjadi satu. Oleh sebab itu, akan sangat mengherankan bila kemudian kita menemukan keberadaan sejumlah pria yang memiliki objek seksual bukan wanita, melainkan sesama pria, atau sebaliknya sejumlah wanita yang memiliki objek seksual bukan pria, melainkan sesama wanita. Beberapa pribadi semacam ini disebut memiliki ciri-ciri seksual terbalik, atau dalam istilah yang lebih baik lagi, mereka merupakan pribadi-pribadi yang terbalik (invert), dan hubungan tersebut disebut (inversion) – selanjutnya akan digunakan istilah invert dan inversi (Peny.). Meski sulit untuk membuat perkiraan yang akurat, jumlah individu dengan ciri-ciri tesebut cukup banyak  (Freud, 2003:2-3).

 

Inversi

Perilaku invert. Mereka yang memiliki kecenderungan ini menunjukkan perilaku yang berbeda-beda.

  1. a) Beberapa di antaranya benar-benar terbalik (absolutely inverted); objek seksual mereka harus selalu berasal dari jenis kelamin yang sama. Bahkan bagi kelompok ini, lawan jenis tidak akan pernah mampu menjadi objek kerinduan seksual; lawan jenis hanya akan diacuhkan, bahkan mungkin menumbuhkan rasa jijik. Kemunculan rasa jijik ini, bagi kaum pria, membuat mereka tidak mampu melakukan aktivitas seksual normal atau kehilangan segala kenikmatan dalam melakukannya.
  2. b) Kelompok yang terbalik dalam dua arah (amphigenously inverted), atau secara psikoseksual hermaprodit (psychosexually hermaphroditic); objek seksual mereka mungkin tertuju secara umum, baik sesama jenis maupun lawan jenis. Dalam kasus ini, inversi tidak menunjukkan karakternya yang khas.
  3. c) Sisanya merupakan pribadi yang hanya kadang-kadang menampakkan inversi (occasionally inverted). Dalam situasi tertentu, terutama objek seksual normal tidak dapat dicapai, atau melalui tindakan-tindakan imitasi, kelompok ini mampu menganggap sesama jenisnya sebagai objek seksual, dan meraih kepuasan seksual bersamanya.

Para invert juga menampakkan perilaku yang berbeda-beda dalam menilai keganjilan insting seksual mereka. Beberapa orang menganggap inversi sebagai hal yang wajar, sama halnya dengan pribadi-pribadi normal membicarakan libido mereka, dan secara tegas menuntut hak yang sama, layaknya manusia normal. Beberapa yang lain, bagaimanapun juga tetap bergulat melawan inversi yang mereka alami dan menganggap  adanya  kecenderungan abnormal dalam inversi mereka  (Freud, 2003:3-4). (dam)**

Facebook Comments