Menelisik Sejarah Wahyu Eko Bawono

0
3865

SURABAYA, BRATA POS. Dalam sejarahnya, masa penanggalan jatuh pada 13 malem 14 Nopember 1955, (Senen pahing, pk.18.05), Bapak M. Semono Sastrohadijoyo “ kanugrahan (berketempatan) ” menerima wahyu Eko Buwono, pada diri beliau jumeneng dalem Kanjeng Romo Prabu Gusti Herucokro, peristiwa tersebut oleh beliau disebutnya “kanjeng romo prabu gusti herucokro midjil soko alas ketonggo”.

Kanjeng Romo telah paring (memberikan) kepada putro-putronya, oleh beliau disebut sebagai : “ Sabdo, Pangandiko, Pitutur atau Wulang wuruk “, dalam bentuk (wujud) pada indera manusia, dan satu-satunya sabdo yang beliau tulis adalah “Sabdo Honocoroko” makna arti tulisannya adalah “Romo Mangestoni Putro Putro Kudu Ngakoni Putro Romo”, maka dari itu pada setiap 29 April diperingati sebagai Peringatan Sabdo Honocoroko. bahwa sesungguhnya apa yang diberikan merupakan palungguh (tempatnya), bukanlah pangertennya atau pengertiannya, akan tetapi pada “ roso sejati – sejatine roso”.

Pada saat, beliau Mijil (read jawa”ngrogoh sukmo”), menyatakan bahwa “Ingsun” Mijil, arso nyungsang bawono balik, arso nggelar jagat anyar. Ingsun (bukan aku) mijil hendak memutar-balikkan jagad anyar (maksudnya jagat kecil, pribadi manusia), dan hendak menggelarkan dunia baru. Artinya, kalau selama ini, kita selalu memperbudak “ Hidup “, selanjutnya terbalik, kita sebagai manusia akan menjadi “ Abdinya Sang Hidup”.tambahnya

Kanjeng Romo Prabu Gusti Herucokro disimbolkan dengan wujud Bapak M. Semono Sastrohadijojo (1900 – 1981), beliau mampu menyatukan kekuatan jagad kecil (diri manusia) dengan kekuatan jagad besar (alam semesta). Sejak saat itu Kanjeng Romo memberikan siapapun yang menghendaki Urip Sejati Sejatine Urip, Hidup bahagia (Sabar, Narimo, Iklhas, Tresno, Welas Asih, kanti Ngalah), agar bisa mencapai “Kasampurnan Jati” (moksha “jika seseorang meninggal jasad dan rohnya menyatu, sirna pada saatnya, lanjutnya

Hal yang luar biasa atau mukjizat yang beliau tunjukkan itu tidak luput dari “ Urip ”, Urip itu ya Gusti Ingkang Moho Suci sendiri. Kanjeng Romo wafat tanggal 3 Maret 1981 dan dimakamkan di Kalinongko, Loano, Purworejo. Jawa Tengah.

Pada peringatan ke 60 tahun tersebut, paguyuban Kapribaden Putro Romo Wilayah Surabaya, menggelar acara pagelaran wayang kulit semalam suntuk, di jalan Patmosusastro, kecamatan. Pakis, Sabtu wage (21/11) hadir seluruh Paguyuban Kapribaden se-Surabaya serta Paguyuban Kapribaden se-Jawa Timur.

Salah satu warga putro romo Kariono (pengurus rt dan ketua paguyuban) menerangkan bahwa : “warga sangat antusias pada acara ini, selain tidak membedakan antar golongan, juga berpartisipasi menggelar dagangan kecil-kecilan itung-itung menambah penghasilan, kegiatan tersebut juga di gelar bhakti social dengan pembagian santunan anak yatim, sehingga bisa dikatakan acara Paguyuban Kapribaden tidak hanya berfokus pada kerohanian saja melainkan juga kepentingan social”.

Pada puncak acara ditampilkan live pagelaran wayang kulit dengan lakon “Parkesit Jumeneng Noto” oleh Dalang Ki Parman dari Nganjuk. arti parkesit jumeneng noto adalah” suksesi kepemimpinana yang damai” artinya dari kekuasaan menuju kepemimpinan. tema ini di ambil karena menjelang pilkada serentak pada 9 Desember nanti, diharapkan pemimpin terpilih nantinya bisa memimpin dengan aman, damai, sejahtera, imbuh Murna indrianto aktivis paguyuban kapribaden. (band)

Facebook Comments